Kalimantan Bukan Zona Aman, Ini Jejak Gempa dan Sesar Aktif Versi BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa Kalimantan bukan wilayah yang sepenuhnya bebas dari aktivitas gempa bumi.
Berdasarkan catatan sejarah dan data seismik terkini, Kalimantan memiliki sistem sesar aktif yang berpotensi memicu gempa merusak.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa aktivitas seismik di Kalimantan memang lebih rendah dibandingkan kawasan lain di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, atau Sulawesi. Namun, hal itu bukan berarti wilayah ini aman sepenuhnya.
“Kalimantan bukan wilayah bebas gempa, dan potensi gempa merusak tetap ada, meskipun aktivitas seismiknya lebih rendah dibanding kawasan lain di Indonesia,” ujar Daryono dalam keterangannya, Jumat (7/11/2025).
Sesar Tarakan jadi sumber utama gempa
BMKG mencatat, sejumlah peristiwa gempa kuat dan merusak di Kalimantan berasal dari aktivitas Sesar Tarakan, yang merupakan salah satu sesar aktif di bagian utara pulau tersebut.
Catatan gempa besar yang mengguncang Tarakan telah terjadi berulang kali, masing-masing pada 1923 (M7,0), 1925, 1936 (M6,5), dan terbaru pada 5 November 2025 (M4,8).
Gempa di Tarakan pada Rabu (5/11/2025) menjadi pengingat bahwa potensi gempa di Kalimantan masih nyata.
Guncangan dangkal dengan magnitudo M4,8 tersebut menyebabkan kerusakan di Kampung Empat dan Mamburungan, termasuk dua rumah rusak berat, dua rusak sedang, serta tiga pusat perbelanjaan terdampak.
“Sejarah menunjukkan bahwa gempa merusak di Tarakan berulang di wilayah yang sama, dipicu oleh aktivitas Sesar Tarakan. Ini menegaskan bahwa Kalimantan memiliki sistem sesar aktif yang bisa memicu gempa signifikan,” jelas Daryono.
Sesar aktif di Kalimantan perlu dipetakan lebih detail
Gempa M 4,8 guncang Tarakan, Kaltara, Rabu (5/11/2025) pukul 17.37 WIB.
Selain Sesar Tarakan, BMKG juga mencatat adanya aktivitas sesar lain di berbagai wilayah Kalimantan.
Beberapa gempa bermagnitudo sedang tercatat di Kandawangan (Kalimantan Barat, 2016), Banjar (Kalimantan Selatan, 2024), dan Katingan (Kalimantan Tengah, 2018), yang seluruhnya menunjukkan tanda-tanda pergerakan sesar aktif di bawah permukaan.
Salah satu contohnya adalah gempa Banjar M4,8 pada Februari 2024, yang dipicu oleh Sesar Meratus dan mengakibatkan ratusan rumah rusak di Kabupaten Banjar.
Menurut Daryono, peristiwa seperti ini menjadi bukti bahwa sesar-sesar di Kalimantan masih hidup dan dapat memicu guncangan signifikan sewaktu-waktu.
Gempa dangkal dekat permukiman lebih berpotensi merusak
BMKG menyoroti bahwa dampak besar gempa di Kalimantan sering kali dipengaruhi oleh kedalaman sumber gempa dan kualitas bangunan di permukiman padat.
“Gempa dangkal dekat permukiman sangat berpotensi merusak. Kualitas bangunan masih menjadi faktor utama yang menentukan besarnya dampak,” katanya lagi.
Oleh sebab itu, BMKG mengimbau agar pemerintah daerah dan masyarakat di Kalimantan meningkatkan kesadaran terhadap potensi gempa serta memastikan ketahanan struktur bangunan terhadap guncangan seismik.
Upaya mitigasi dan edukasi kebencanaan
Daryono menambahkan, langkah mitigasi struktural dan edukasi masyarakat perlu diperkuat.
Pemahaman mengenai lokasi-lokasi rawan, pembuatan peta sesar aktif, serta peningkatan standar bangunan menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko bencana.
“Kalimantan memang tidak sesering wilayah lain dalam aktivitas gempa, tetapi bukan berarti aman. Perlu upaya mitigasi yang berkelanjutan agar dampak guncangan tidak berulang menimbulkan kerusakan besar,” tegasnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi resmi dari kanal komunikasi BMKG yang terverifikasi, seperti laman bmkg.go.id, akun media sosial @infoBMKG, serta aplikasi InfoBMKG di ponsel pintar.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.