Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Sintang, BMKG Sebut Dipicu Aktivitas Sesar Adang
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi bermagnitudo 5,3 mengguncang Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada Jumat (13/3/2026) pagi.
Berdasarkan analisis lembaga tersebut, gempa dipicu oleh aktivitas Sesar Adang yang berada di wilayah tersebut.
Gempa terjadi pada Jumat pukul 03.04 WIB atau beberapa saat menjelang waktu sahur bagi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Meskipun guncangan cukup terasa di sejumlah wilayah, hingga saat ini belum ada laporan kerusakan yang disebabkan oleh peristiwa tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menjelaskan bahwa gempa tersebut tergolong gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan geser atau strike slip," kata Rahmat Triyono dikutip dari Antara.
Apa penyebab gempa di Kabupaten Sintang?
BMKG menjelaskan bahwa gempa bumi yang terjadi di Sintang merupakan jenis gempa tektonik yang dipicu oleh aktivitas Sesar Adang.
Kesimpulan tersebut diperoleh setelah BMKG melakukan analisis terhadap lokasi episenter serta kedalaman hiposenter gempa.
Gempa dangkal umumnya terjadi pada kedalaman kurang dari 60 kilometer. Karena berada dekat dengan permukaan bumi, jenis gempa ini sering kali terasa cukup kuat meskipun magnitudonya tidak terlalu besar.
Dalam kasus gempa Sintang, BMKG mencatat episenter gempa berada di darat pada kedalaman sekitar 10 kilometer. Titik gempa terletak di wilayah Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Selain itu, analisis mekanisme sumber gempa menunjukkan adanya pergerakan geser atau strike slip. Mekanisme ini menggambarkan pergerakan dua blok batuan yang bergeser secara horizontal satu sama lain.
Bagaimana kekuatan getaran yang dirasakan masyarakat?
BMKG mencatat guncangan gempa dirasakan di beberapa wilayah di Kalimantan Barat dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda.
Di wilayah Sintang dan Sanggau, getaran tercatat pada skala III Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada tingkat ini, getaran dirasakan cukup nyata di dalam rumah, seperti saat sebuah truk besar melintas di dekat bangunan.
Sementara itu, getaran juga dirasakan di wilayah Katingan dan Melawi dengan intensitas II MMI. Pada skala ini, gempa hanya dirasakan oleh beberapa orang dan biasanya menyebabkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Berikut gambaran dampak getaran berdasarkan skala intensitas yang dilaporkan BMKG:
- Skala III MMI: getaran terasa jelas di dalam rumah, seperti ada kendaraan berat yang melintas.
- Skala II MMI: getaran ringan dirasakan sebagian orang dan benda yang digantung dapat bergoyang.
Apakah gempa berpotensi menimbulkan tsunami?
BMKG memastikan bahwa gempa yang terjadi di Kabupaten Sintang tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hal ini disimpulkan berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan setelah gempa terjadi.
Selain itu, lokasi gempa yang berada di darat juga menjadi salah satu faktor yang membuat gempa tersebut tidak memicu gelombang tsunami.
Hingga saat ini, pihak BMKG juga belum menerima laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban akibat gempa tersebut.
Meski tidak menimbulkan dampak signifikan, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
BMKG juga mengingatkan warga untuk memastikan kondisi bangunan tempat tinggal dalam keadaan aman sebelum kembali beraktivitas di dalam rumah.
Langkah kewaspadaan ini penting untuk menghindari risiko jika terjadi getaran susulan, terutama pada bangunan yang memiliki struktur kurang kuat.
Peristiwa gempa di Sintang menjadi pengingat bahwa wilayah Indonesia berada di kawasan cincin api Pasifik yang memiliki aktivitas tektonik tinggi.
Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat serta pemahaman mengenai mitigasi bencana gempa bumi menjadi hal penting dalam mengurangi potensi risiko di masa mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang