Zona Megathrust Mentawai Masih Menyimpan Energi Tektonik, BMKG: Bisa Lepas Kapan Saja

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa dari 13 segmen megathrust di Indonesia, tiga di antaranya merupakan zona sumber gempa aktif.
Hal ini menjadi peringatan penting mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia.
Secara geografis dan geologis, wilayah Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.
Pertemuan tiga lempeng ini menciptakan zona tumbukan yang menyebabkan terbentuknya deretan gunung api, sesar aktif, serta zona subduksi atau penunjaman yang berpotensi menimbulkan gempa besar.
Dari proses ini pula terbentuk 13 segmen megathrust di sepanjang wilayah Indonesia, mulai dari barat hingga timur.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa dari 13 segmen tersebut, tiga segmen di antaranya yakni di Mentawai, Selat Sunda, dan Sumba teridentifikasi sebagai zona sumber gempa aktif.
"(Dari 13 segmen) diyakini bahwa megathrust pada nomor 4 di daerah Mentawai, nomor 7 di daerah Selat Sunda, dan nomor 10 di Sumba adalah zona sumber gempa aktif yang belum terjadi gempa besar dalam rentang waktu selama puluhan hingga ratusan tahun," kata Faisal dikutip dari Kompas.com, Rabu (5/11/2025).
Zona ini, lanjut Faisal, diduga tengah mengalami akumulasi energi tektonik yang dapat dilepaskan sewaktu-waktu dalam bentuk gempa besar.
"Diduga kuat saat ini sedang terjadi proses akumulasi energi tektonik yang dapat merilis gempa besar sewaktu-waktu tanpa dapat diprediksi," ujarnya.
Apa itu zona megathrust?
Zona megathrust merupakan zona subduksi atau penunjaman dengan kedalaman kurang dari 50 kilometer.
Zona ini terbentuk ketika dua lempeng tektonik bertemu dan salah satu lempeng menyusup ke bawah lempeng lainnya.
Biasanya, lempeng samudera yang lebih padat menyusup ke bawah lempeng benua yang lebih ringan. Proses subduksi ini menyebabkan terjadinya penumpukan energi yang sangat besar.
Ketika energi yang tertahan itu akhirnya dilepaskan, maka terjadi gempa bumi dengan kekuatan besar.
Itulah sebabnya gempa megathrust sering kali menimbulkan kerusakan parah dan bahkan memicu tsunami, seperti yang terjadi di Aceh pada 2004.
Di Indonesia, zona megathrust tersebar luas dan hampir mengelilingi seluruh wilayah kepulauan.
Dari barat ke timur, zona ini mencakup area di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Papua. Kondisi inilah yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat aktivitas seismik yang sangat tinggi.
Zona megathrust di Indonesia.
Bagaimana daftar dan potensi magnitudo zona megathrust di Indonesia?
Berdasarkan data BMKG dan Kompas.com (22/6/2025), berikut daftar lengkap 13 zona megathrust di Indonesia beserta potensi kekuatan gempa atau magnitudonya:
- Megathrust Aceh-Andaman, Magnitudo: 9,2
- Megathrust Nias-Simeulue, Magnitudo: 8,7
- Megathrust Batu, Magnitudo: 7,8
- Megathrust Mentawai-Siberut, Magnitudo: 8,9
- Megathrust Mentawai-Pagai, Magnitudo: 8,9
- Megathrust Enggano, Magnitudo: 8,4
- Megathrust Selat Sunda, Magnitudo: 8,7
- Megathrust West-Central Java, Magnitudo: 8,7
- Megathrust East Java, Magnitudo: 8,7
- Megathrust Sumba, Magnitudo: 8,5
- Megathrust North Sulawesi, Magnitudo: 8,5
- Megathrust Philippine, Magnitudo: 8,2
- Megathrust Papua, Magnitudo: 8,7.
Dari daftar tersebut, segmen Mentawai, Selat Sunda, dan Sumba kini menjadi perhatian khusus karena berpotensi menimbulkan gempa besar dalam waktu yang belum dapat diprediksi.
Dengan magnitudo mencapai lebih dari 8, kawasan ini juga berisiko mengalami tsunami apabila gempa terjadi di bawah laut.
BMKG terus mengimbau masyarakat di daerah rawan gempa untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan pemahaman terhadap mitigasi bencana.
Edukasi kebencanaan menjadi penting agar masyarakat tahu bagaimana menyelamatkan diri ketika terjadi gempa. Pemerintah daerah juga diimbau untuk memperkuat infrastruktur tahan gempa, memperbarui peta risiko, serta memastikan sistem peringatan dini tsunami berfungsi optimal.
Dengan potensi megathrust yang mengelilingi Indonesia, kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak bencana.
Sebab, meskipun gempa tidak dapat diprediksi, dampaknya dapat diminimalkan melalui kesadaran, edukasi, dan kesiapan bersama.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.