Temuan Sesar Cisadane Hanya 20 Km dari Jakarta, Apakah Termasuk Zona Megathrust? Ini Penjelasannya
Hasil penelitian Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan PT Oseanland menunjukkan struktur Sesar Cisadane di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Sesar tersebut diperkirakan membentang dari Bogor hingga pesisir Tangerang, Banten.
Lokasi Sesar Cisadane hanya berjarak 20 kilometer dari Jakarta yang dapat ditempuh dalam waktu satu jam perjalanan.
Dilansir dari , Rabu (11/2/2026), sesar tersebut diberi nama sesuai lokasinya yang mengikuti aliran Cisadane mengacu pada peta geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu.
Lalu, apakah Sesar Cisadane termasuk zona megathrust? Berikut penjelasan Badan Geologi.
Apakah Sesar Cisadane Termasuk Zona Megathrust?
Penyelidik Bumi Utama Badan Geologi Supartoyo menjelaskan, sesar pada dasarnya merupakan tanah atau batuan yang mengalami pergerakan secara horizontal maupun vertikal.
Terkait keberadaan Sesar Cisadane, Supartoyo mengatakan bahwa patahan ini tergolong potential active fault atau sesar potensi aktif.
"Artinya ,diperkirakan aktivitasnya antara 11.000 tahun yang lalu hingga sekitar 1,7 juta tahun yang lalu," ujar Supartoyo kepada Kompas.com, Kamis (12/2/2026).
Ia menerangkan bahwa Sesar Cisadane tidak berpotensi menyebabkan gempa dahsyat di kemudian hari dan bukan sesar aktif kelas A dengan sebaran sesuai lokasi tipe di Sungai Cisadane.
Supartoyo juga menegaskan, Sesar Cisadane diperkirakan sumber gempa bumi di darat, bukan megathrust.
Megathrust adalah sesar naik pada zona penunjaman bagian atas dengan kedalaman kurang dari 40 kilometer yang mampu menghasilkan gempa bumi dengan magnitudo di atas 8.
"Sesar Cisadane tidak demikian," imbuh Supartoyo.
Apa Langkah Badan Geologi Usai Temukan Sesar Cisadane?
Supartoyo menyampaikan, Badan Geologi sudah melakukan koordinasi dan penyampaian informasi awal dengan Pemerintah Kabupaten Bogor sewaktu melaksanakan kegiatan penyelidikan.
Hingga kini, Badan Geologi masih terus melakukan updating data untuk mencari bukti aktivitas Sesar Cisadane melalui referensi dan merencanakan kegiatan penyelidikan dengan berbagai metode, seperti geologi, geofisika, dan geodesi.
"Badan Geologi mengimbau kepada masyarakat agar tidak panik sehubungan dengan keberadaan sesar Cisadane," tandas Supartoyo.
"Jangan percaya berita hoaks dan ikuti informasi melalui web dari Badan Geologi berkaitan dengan Sesar Cisadane dan sesar aktif lainnya," pungkasnya.
Di Mana Jejak Sesar Cisadane?
Sebelumnya, tim peneliti yang dipimpin Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, Sukahar Eka, sudah melakukan kajian mendalam di Gunung Nyungcung.
Jejak pergerakan Sesar Cisadane terlihat dari terpisahnya bentang alam Gunung Nyungcung dan Gunung Panjang.
Keduanya diduga pernah menyatu sebelum akhirnya terbelah akibat dinamika lempeng tektonik di masa lampau.
Penelitian kemudian dilanjutkan ke Gunung Panjang di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor.
Di lokasi tersebut, tim menemukan batuan travertin dan fosil moluska yang menjadi bukti kawasan itu dahulu merupakan laut dangkal.
Selain temuan tersebut, keberadaan mata air panas di rekahan Gunung Panjang mengindikasikan struktur patahan yang masih aktif.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang