Truk China Jadi Mimpi Buruk Bagi Karoseri Indonesia

Karoseri MTU, Truk China Jadi Mimpi Buruk Bagi Karoseri Indonesia

Kedatangan truk impor China beberapa tahun terakhir ini terus menjadi mimpi buruk bagi industri karoseri di Indonesia. Imbasnya bisnis pembuat aplikasi truk jadi mengalam penurunan pemesanan.

Penurunan pesanan terjadi pada kebutuhan tambang, seperti dump truck untuk mengangkut hasil bumi.

Ancaman Gulung Tikar

Syarifuddin Tangka, Direktur PT Metalindo Teknik Utama (MTU), mengatakan, banyak teman-teman sesama pebisnis karoseri yang membuat rumah atau bak truk terpaksa gulung tikar karena situasi ini. 

"Di Jawa Barat saja itu kurang lebih ada 320 ada karoseri. Kita mau menjadi yang lima terbaik. Dan sepanjang ini perjalanan kita ternyata yang eksisting sampai sekarang tinggal 230 di awal tahun 2026.  Jadi kurang lebih ada yang sudah dibilang tidak aktif atau mati suri. Tapi itulah kondisi teman-teman kita," katanya di pabrik Karoseri MTU yang berlokasi di Karawang, Kamis (4/6/2026). 

Karoseri MTU, Truk China Jadi Mimpi Buruk Bagi Karoseri Indonesia

Proses pembuatan dump truk Karoseri Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang

Syarifuddin mengatakan, selama dua hinggi tiga tahun terakhir dampak dari impor truk China sangat terasa bagi bisnis karoserinya.

Hal itu lantaran truk asal Tiongkok tersebut datang sudah lengkap dengan bak atau kondisi siap pakai yakni Complete Build-Up (CBU). Sehingga tidak perlu berhitung lagi soal urusan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri). 

Oleh karena itu menurutnya ini sangat tidak adil. Sebab pelaku bisnis otomotif yang ada di Indonesia di dorong untuk mementingkan TKDN. Semantara truk China tersebut datang secara utuh dengan mudah. 

Order Turun Drastis

"Ini juga yang betul-betul mematikan kustomer kami, yang ada di ATPM, sebelumnya yang biasa order 30 - 50 unit dalam satu bulan, ini tidak ada lagi. Paling ada cuma 1-2 unit," katanya.

Karoseri MTU, Truk China Jadi Mimpi Buruk Bagi Karoseri Indonesia

Karoseri Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang

Syarifuddin mengatakan, Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) sudah vokal mengenai hal ini pada pemerintah. Bahkan saat pertemuan dengan kementerian kerap disampaikan polemik ini. 

Tidak hanya itu, pihaknya juga selalu menaati regulasi yang dibuat oleh pemerintah. 

"Kita dibatasi dengan aturan, misalnya aturan ODOL yang harus kita patuhi. Sementara truk impor ini dari sisi emisi saja ada yang masih Euro2, Euro3, sementara kita dipaksakan Euro4 dengan teknologinya kita. Itu betul-betul miris. Karena kita dipaksakan untuk mengikuti aturan yang ada, sementara yang impor jauh dari itu, belum lagi kalau bicara ukuran dimensinya, sudah betul-betul tidak ada aturan kalau mobil impor," katanya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang