Cara Membimbing Anak Menyaring Konten Digital dengan Metode T-H-I-N-K

Cara Membimbing Anak Menyaring Konten Digital dengan Metode T-H-I-N-K, T = True (Benar), H = Helpful (Bermanfaat), I = Inspiring (Menginspirasi), N = Necessary (Perlu), K = Kind (Baik)

anak saat ini tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan internet dan berbagai platform digital.

Namun, kemudahan akses informasi juga membuat mereka rentan terpapar konten yang tidak sesuai usia, informasi keliru, hingga pengaruh negatif dari media sosial.

Karena itu, pendampingan orangtua menjadi kunci agar anak mampu menggunakan internet secara sehat dan bijak.

Psikolog klinis Alsi Mega Marsha Tengker, B.A., M.Sc., M.Psi., Psikolog, mengatakan anak perlu dibimbing untuk memahami kebutuhan mereka di ruang digital, sehingga tidak mengonsumsi konten secara berlebihan.

Menurut psikolog yang akrab disapa Caca itu, orangtua dapat membantu anak membangun hubungan yang sehat dengan internet, sama seperti mengajarkan mereka mengenali rasa lapar dan kenyang dalam pola makan.

“Analoginya kayak kita pingin anak punya hubungan yang sehat sama makanan, mereka mengenali cue lapar kayak gimana, cue kenyang seperti apa. Kita juga pinginnya anak-anak tuh tahu nih, aware sama kebutuhannya dia sebenarnya di internet tuh ngapain aja sih,” kata Caca dikutip dari ANTARA, Kamis (4/6/2026).

Salah satu cara yang dapat diterapkan orangtua adalah menggunakan metode T-H-I-N-K untuk membantu anak menyaring informasi dan konten yang mereka lihat di dunia digital.

Apa itu metode T-H-I-N-K?

T-H-I-N-K merupakan kerangka berpikir sederhana yang dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mengendalikan diri saat berinteraksi di internet.

Metode ini terdiri dari lima pertanyaan yang dapat diajukan anak sebelum menonton, membagikan, atau mempercayai suatu konten.

T = True (Benar)

Langkah pertama adalah mengajak anak mempertanyakan apakah informasi yang mereka lihat benar atau tidak.

Dengan kebiasaan ini, anak belajar untuk tidak langsung percaya pada semua informasi yang muncul di media sosial atau internet.

Mereka juga terdorong untuk mencari sumber yang lebih terpercaya dan melakukan verifikasi sederhana.

Menurut Caca, pertanyaan ini dapat melatih kemampuan anak dalam membuat penilaian dan mengambil keputusan berdasarkan fakta.

H = Helpful (Bermanfaat)

Anak juga perlu diajak mempertimbangkan apakah konten yang mereka lihat atau bagikan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pertanyaan ini membantu menumbuhkan empati sekaligus mengurangi kecenderungan menyebarkan informasi yang tidak berguna atau bahkan berpotensi merugikan orang lain.

I = Inspiring (Menginspirasi)

Selanjutnya, anak dapat diajak menilai apakah suatu konten memberikan inspirasi atau pelajaran yang positif.

Konten yang menginspirasi umumnya dapat memotivasi anak untuk belajar hal baru, mengembangkan keterampilan, atau mendorong mereka melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Sebaliknya, konten yang hanya memicu perbandingan sosial atau emosi negatif perlu disikapi dengan lebih kritis.

N = Necessary (Perlu)

Tidak semua hal yang muncul di internet harus dikonsumsi.

Karena itu, anak perlu belajar membedakan mana konten yang memang penting dan relevan dengan kebutuhan mereka, serta mana yang sebenarnya tidak perlu diakses.

Kebiasaan ini dapat membantu anak mengelola waktu layar atau screen time dengan lebih baik.

K = Kind (Baik)

Aspek terakhir adalah mengajarkan anak untuk mempertimbangkan apakah suatu konten mengandung nilai kebaikan.

Pertanyaan ini tidak hanya berlaku saat anak mengonsumsi informasi, tetapi juga ketika mereka berkomentar, mengunggah, atau membagikan sesuatu di internet.

Dengan demikian, anak belajar membangun interaksi digital yang lebih positif dan menghargai orang lain.

Orangtua tetap berperan penting

Caca menekankan bahwa kemampuan anak untuk mengenali kebutuhan dan menyaring konten digital tidak muncul begitu saja.

Orangtua perlu memberikan contoh melalui penggunaan internet yang sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan mengatur emosi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan pada anak masih berkembang. Hal ini berkaitan dengan fungsi eksekutif otak (executive functioning) yang belum matang sepenuhnya.

Karena itu, anak membutuhkan pendampingan dan arahan dari orangtua saat berinteraksi dengan teknologi.

Menurut Caca, internet sebaiknya dimanfaatkan sebagai sarana belajar, mencari informasi, dan menyalurkan kreativitas.

Sementara kebutuhan emosional dan hubungan sosial tetap perlu dipenuhi melalui interaksi langsung dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

Dengan pendampingan yang konsisten, metode T-H-I-N-K dapat menjadi bekal bagi anak untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan regulasi diri, sehingga mereka mampu mengambil keputusan yang lebih bijak saat menggunakan internet.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang