Cegah Tragedi, Kepadatan Jemaah Haji saat Melempar Jumrah Dipantau Ketat Pusat Komando Saudi
Para jemaah haji pada hari Kamis, 28 Mei 2026, memulai ritual pelemparan batu ke setan, melemparkan kerikil ke Jamarat — tiga pilar batu di Mina — menandai hari pertama Tasyrik. Hari-hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha, di mana para jemaah haji menyelesaikan ritual-ritual penting yang tersisa dari ibadah haji.
Hari-hari ini menandai tahap akhir ibadah haji, saat para jemaah bersiap untuk mengakhiri perjalanan mereka dan mulai meninggalkan tempat-tempat suci. Periode ini juga ditandai dengan peningkatan doa dan zikir, dengan penjadwalan yang ketat untuk memastikan keselamatan dan kelancaran pergerakan jutaan jamaah.
Ritual pelemparan batu simbolis dimulai di Al-Jamarah Al-Sughra, atau pilar kecil, diikuti oleh Al-Jamarah Al-Wusta, atau pilar tengah, dan diakhiri dengan Jamarat Al-Aqaba, pilar besar, sesuai dengan praktik kenabian yang telah ditetapkan.
Jalur khusus di berbagai tingkatan fasilitas Jamarat membantu memastikan kelancaran arus jemaah dan mempermudah pengelolaan kerumunan. Struktur bertingkat ini dirancang untuk memastikan pergerakan yang efisien dan aman.
Jemaah melaksanakan ritual di tengah kondisi cuaca yang stabil, dengan kecepatan angin hingga 30 km/jam dan suhu maksimum diperkirakan mencapai 42 derajat Celcius, menurut Pusat Meteorologi Nasional. Suhu minimum diperkirakan sekitar 30 derajat Celcius pada Jumat pagi.
Kementerian Dalam Negeri menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjaga keselamatan jemaah di seluruh Mina dan di dalam perkemahan mereka, dengan mencatat bahwa upaya tersebut termasuk mengatur arus pejalan kaki di antara tenda-tenda, area Jamarat, dan rute menuju Masjidil Haram.
Kementerian mendesak jemaah untuk mematuhi instruksi resmi secara ketat selama hari-hari Tashreeq, menekankan panduan keselamatan selama ritual-ritual penting, termasuk tawaf mengelilingi Ka'bah, Sa'i antara bukit Al-Safa dan Al-Marwa, dan pelemparan batu di Jamarat di Mina.
Di bawah Kepresidenan Keamanan Negara, Komando Penerbangan Keamanan telah mengintensifkan operasi udara di atas tempat-tempat suci untuk memantau pergerakan jemaah dan memastikan kelancaran arus bus yang mengangkut para tamu Allah di sepanjang rute yang telah ditentukan.
Patroli udara ini melengkapi operasi darat dengan menyediakan pemantauan pergerakan kerumunan secara real-time dan mendukung manajemen transportasi di seluruh Mekkah dan tempat-tempat suci, berkontribusi pada tingkat organisasi, efisiensi, dan keselamatan jemaah yang tinggi.
Sementara itu, Kementerian Haji dan Umrah menyerukan kepada para jamaah untuk mematuhi jadwal resmi dan pedoman organisasi untuk memastikan kelancaran pelaksanaan ritual dan untuk membantu mengurangi risiko kelelahan akibat panas dan sengatan matahari.
'Melempar Setan'
Melempar jumrah berupa batu ke tiang tugu ini menjadi sebuah simbolis melempar setan, sebab tempat itu menjadi penanda setan muncul dan hawa nafsu yang menggoda hati manusia.
Ritual melempar batu ke tiang tugu di kota Mina dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, ketika itu nabi Ibrahaim AS diperintahkan oleh Allah SWT lewat mimpi untuk menyembelih puteranya Nabi Ismail Alaihisalam. Karena merupakan perintah Allah, Ibrahim pun tak ragu menjalankan perintah untuk menyembelih puteranya.
Namun pada saat perjalanan menuju tempat penyembelihan, setan berusaha menggoda dan menghalangi nabi Ibrahim untuk melaksanakan perintah Allah. Setan menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk di tiga lokasi berbeda.
Setiap kali setan muncul, Malaikat Jibril memerintahkan Nabi Ibrahim untuk melemparinya dengan batu kerikil. Setan menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk di tiga lokasi berbeda. Setiap kali setan muncul, Malaikat Jibril memerintahkan Nabi Ibrahim untuk melemparinya dengan batu kerikil.
Tiga tempat tersebut kini dikenal dikenal sebagai lokasi melempar jumrah, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah.