Penataan Barang di Kopdes Terlihat Rapi tapi Gak Sesuai Aturan, Ketahui Pentingnya Planogram
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) pada akhir pekan lalu memunculkan perhatian publik di media sosial. Selain menyoroti konsep koperasi desa yang diusung pemerintah, netizen juga menilai tata letak barang di dalam toko koperasi tersebut belum sesuai dengan standar retail modern, khususnya dalam penerapan planogram.
Dalam sejumlah foto dan video yang beredar, produk-produk di dalam rak memang tampak tersusun rapi. Namun, beberapa pengguna media sosial menilai peletakan barang masih belum memperhatikan teknik visual merchandising yang lazim digunakan di industri retail.
"Masih mempertanyakan urgensi KDMP ini buat apa... Mereka kagak diajarin planogram, padahal itu basic di retail," kata seorang netizen di X, dikutip Rabu 20 Mei 2026.
Komentar serupa juga muncul dari pengguna lain yang menyoroti pentingnya panduan penataan barang di toko.
"Harusnya ada guidence diagram visual atau skema yang menunjukkan secara detail bagaimana dan di mana produk-produk atau assortment harus ditempatkan di rak toko (shelving). Sederhananya, planogram itu seperti 'peta' atau panduan bagi staf saat menyusun barang agar tampilannya rapi, konsisten, dan memaksimalkan penjualan," kata netizen lainnya.
Sementara itu, netizen lain mempertanyakan apakah Kopdes memiliki tenaga khusus yang menangani visual merchandising.
"Ini Kopdes ga punya visual merchandiser yang handle planogram?" tulis netizen yang lain.
Apa Itu Planogram?
Planogram merupakan diagram atau panduan visual yang digunakan untuk mengatur posisi produk di rak toko retail. Sistem ini umum dipakai di supermarket, minimarket, hingga toko modern untuk memastikan penataan barang lebih efektif dan menarik perhatian konsumen.
Melansir TechTarget, planogram membantu retailer menentukan lokasi produk, jumlah stok yang ditampilkan di rak, serta susunan kategori barang agar mampu meningkatkan penjualan dan memaksimalkan penggunaan ruang toko.
Dalam praktiknya, planogram tidak sekadar membuat rak terlihat rapi. Penempatan produk dilakukan berdasarkan strategi tertentu, termasuk perilaku konsumen saat berbelanja.
Produk dengan penjualan tinggi atau margin besar biasanya ditempatkan sejajar mata pelanggan karena area tersebut dianggap paling mudah terlihat. Sementara barang pelengkap sering ditempatkan berdekatan untuk mendorong pembelian tambahan.
Penataan Barang Jadi Strategi Penjualan
Di industri retail modern, penataan produk merupakan bagian penting dari strategi pemasaran. Tata letak barang yang tepat dapat memengaruhi kenyamanan pelanggan sekaligus meningkatkan potensi pembelian impulsif.
Planogram juga membantu menciptakan pengalaman belanja yang lebih efisien karena pelanggan lebih mudah menemukan produk yang dicari.
Beberapa teknik dasar dalam planogram antara lain:
- mengelompokkan produk berdasarkan kategori,
- menempatkan barang unggulan di area strategis,
- menyusun produk secara vertikal maupun horizontal,
- hingga menerapkan cross merchandising dengan menaruh barang pelengkap berdekatan.
Contohnya, kopi ditempatkan dekat gula atau mi instan diletakkan berdekatan dengan saus dan bumbu pelengkap.
Pentingnya Visual Merchandising di Toko Modern
Kritik netizen terhadap penataan barang di Kopdes turut memunculkan pembahasan soal pentingnya visual merchandising dalam bisnis retail. Visual merchandising sendiri merupakan teknik mengatur tampilan toko agar lebih menarik secara visual dan mampu meningkatkan pengalaman pelanggan.
Dalam retail modern, posisi produk, warna kemasan, pencahayaan, hingga tinggi rak diperhitungkan secara detail. Karena itu, banyak perusahaan besar memiliki tim khusus atau visual merchandiser untuk menangani penataan produk di toko.
Selain meningkatkan estetika, planogram juga membantu toko menjaga konsistensi tampilan antar cabang dan memudahkan pengelolaan stok barang.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai penerapan sistem retail modern seperti planogram di koperasi desa masih membutuhkan proses adaptasi, terutama dalam hal sumber daya manusia dan pelatihan operasional toko.