BRIN Serahkan Tugas 'Meramal' Langit Indonesia ke Tangan Dukun Digital

Ilustrasi cuaca mendung.
Ilustrasi cuaca mendung.

Proses analisis cuaca antariksa sebelumnya melibatkan pemeriksaan data angka, pembacaan hasil prediksi komputer, hingga penelaahan grafik yang kompleks sehingga membutuhkan waktu cukup panjang dan berpotensi menghasilkan interpretasi yang berbeda antar peneliti.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sistem ini dikembangkan agar proses prediksi cuaca antariksa dapat berlangsung lebih cepat, otomatis, dan memiliki hasil yang lebih konsisten, kata Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani.

Cuaca antariksa merupakan kondisi aktivitas sinar Matahari dan ruang ruang angkasa yang dapat memengaruhi berbagai sistem di Bumi, seperti satelit, komunikasi, GPS, hingga jaringan listrik.

Dalam operasionalnya, SWx AI memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan berbasis large language model (LLM) yang berfungsi membantu mengolah data serta membaca hasil analisis secara otomatis seperti asisten digital.

Sistem ini juga mampu menarik data terbaru dari berbagai sumber, mengolah hasil prediksi komputer, hingga menganalisis gambar pengamatan Matahari tanpa perlu melalui proses pemeriksaan manual.

“SWx AI dirancang agar lebih aman dari kesalahan informasi atau ‘halusinasi AI’ dengan membatasi data yang dianalisis hanya pada rentang waktu tertentu, misalnya 24 hingga 72 jam terakhir, serta menggunakan aturan yang sudah ditetapkan untuk menelaah kondisi antariksa di Indonesia,” katanya, seperti dikutip dari situa resmi BRIN, Rabu, 20 Mei 2026.