Tavares Soroti Kerasnya Liga Indonesia di Tengah Perjuangan Persis
Hasil imbang tanpa gol Persis Solo vs Persebaya Surabaya pada pekan ke-32 Super League 2025-2026 di Stadion Manahan, Jumat (8/5/2026) menjadi pukulan berat bagi tuan rumah.
Tambahan satu poin tidak cukup mengangkat posisi Persis dari zona degradasi Super League 2025-2026. Laskar Sambernyawa masih tertahan di posisi ke-16 klasemen sementara dengan perolehan 28 poin.
Apalagi, kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia hanya menyisakan dua laga lagi untuk menentukan nasib semua tim.
Situasi ini membuat tekanan terhadap tim asuhan Milomir Seslija semakin besar, terlebih setelah PSM Makassar dan Persijap Jepara dipastikan aman dari ancaman degradasi.
Di tengah situasi sulit Persis, pelatih Persebaya Bernardo Tavares memberikan pandangannya mengenai kerasnya persaingan kompetisi musim ini.
“Seperti yang dibayangkan, saya adalah pelatih Persebaya. Apa yang bisa saya katakan untuk Persis Solo, dan saya sampaikan kepada pemain dan staf pelatih mereka, adalah semoga beruntung untuk pertandingan selanjutnya,” ujar pelatih asal Portugal itu.
Liga Indonesia Dinilai Terlalu Dramatis
Ia memahami bagaimana dramatisnya kompetisi Liga Indonesia, terutama dalam perebutan gelar juara dan pertarungan menghindari degradasi.
Format kompetisi saat ini membuat tekanan terhadap klub sangat besar, hanya ada satu tim yang keluar sebagai juara dan tiga tim harus turun kasta di akhir musim.
“Kami tahu bahwa saat ini Liga Indonesia penuh drama. Saya pikir ini adalah hal yang mungkin bisa diubah oleh organisasi, karena sepak bola haruslah tentang kebahagiaan,” kata Bernardo Tavares.
Menurutnya, sepak bola seharusnya tidak hanya menghadirkan tekanan dan ketegangan sepanjang musim.
Ia berharap ada lebih banyak kompetisi tambahan yang memungkinkan klub memiliki kesempatan meraih prestasi lain selain liga.
“Mungkin lebih banyak tim bisa memenangkan sesuatu, seperti adanya piala-piala lain (trofi domestik), selain liga,” imbuhnya.
Bernardo mencontohkan bagaimana klub-klub seperti Borneo FC yang sedang memburu gelar juara dan Persis Solo yang berjuang menghindari degradasi sama-sama berada dalam tekanan besar di penghujung musim.
“Tapi hanya satu yang juara dan ada drama tim yang turun. Ini pendapat saya, tentu saja saya hanya seorang pelatih,” katanya lagi.
Pesepak bola Persis Solo Roman Paparyha (kanan) berebut bola dengan pesepak bola Pesebaya Surabaya Koko Ari Araya (kiri) pada pertandingan BRI Super League 2025-2026 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (9/5/2026). Pertandingan berakhir dengan skor imbang 0-0. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/tom.
Kompetisi Tambahan Dinilai Bisa Tingkatkan Kualitas
Bernardo Tavares juga menilai banyaknya kompetisi dalam satu musim dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan sepak bola Indonesia.
Selain memberi peluang prestasi lebih luas bagi klub, kompetisi tambahan juga bisa meningkatkan pengalaman bermain para pemain.
Seperti di banyak negara, klub tidak hanya bermain di liga domestik, tetapi juga menjalani turnamen piala yang membuat atmosfer kompetisi lebih hidup.
“Lebih banyak tim menang, mungkin satu atau dua piala, dan tim lain memenangkan liga,” kata pelatih berlisensi UEFA Pro itu.
Persis Solo Kian Terdesak
Peluang Persis bertahan di Super League semakin tipis. Dengan dua laga tersisa, poin maksimal yang bisa diraih Persis adalah 34 angka.
Namun, PSM Makassar dan Persijap Jepara yang juga sudah mengoleksi 34 poin dipastikan aman karena unggul head to head atas Persis.
Kini Persis hanya bersaing dengan Madura United untuk keluar dari zona merah. Situasi itu pun masih sangat rumit karena Madura United memiliki tiga pertandingan tersisa dan saat ini memperoleh 31 poin.
Jika Madura United mampu menang atas Bhayangkara FC pada pekan ini, Persis Solo dipastikan terdegradasi meskipun masih menyisakan dua pertandingan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang