Volix Buka Suara usai Dikaitkan dengan Bakom RI: Kami Bukan Mitra Pemerintah!

Bakom rangkul New Media Forum perluas jangkauan komunikasi publik
Bakom rangkul New Media Forum perluas jangkauan komunikasi publik

 Ramainya pembahasan soal “homeless media” dan New Media Forum bentukan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI menyeret banyak nama media digital populer di Indonesia. Salah satu yang paling disorot publik adalah Volix setelah namanya muncul dalam daftar media yang disebut tergabung dalam forum tersebut.

Namun di tengah derasnya perbincangan di media sosial, Volix akhirnya buka suara. Melalui akun Instagram resminya @volix.media, mereka menyampaikan pernyataan sikap yang menegaskan tidak memiliki hubungan resmi dengan Bakom RI sebagaimana berkembang dalam pemberitaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam unggahan tersebut, Volix secara gamblang membantah pernah mengikuti agenda yang diselenggarakan Bakom RI.

“Volix TIDAK PERNAH menghadiri pertemuan, press conference, maupun acara apa pun yang diselenggarakan oleh Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM RI),” demikian isi pernyataan resmi Volix, Kamis 7 Mei 2026.

Tak berhenti di situ, Volix juga menepis anggapan bahwa mereka merupakan media pendukung pemerintah atau bagian dari kerja sama resmi yang dibentuk Bakom RI bersama sejumlah media digital.

“Volix BUKAN mitra resmi sebagai media pendukung pemerintah, dan TIDAK PERNAH berkomunikasi langsung dengan pihak BAKOM RI terkait hal tersebut,” lanjut pernyataan itu.

Pihak Volix menyebut klarifikasi ini dibuat untuk meluruskan informasi yang terlanjur berkembang di ruang publik. Mereka menegaskan akan tetap berjalan sebagai perusahaan independen di tengah polemik yang sedang ramai diperbincangkan.

“Volix akan terus menjalankan komitmen sebagai perusahaan independen,” tulis mereka.

Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian warganet karena sebelumnya nama Volix ikut disebut dalam daftar media digital yang dipaparkan Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, saat memperkenalkan New Media Forum di Jakarta pada Rabu, 6 Mei 2026.

Dalam konferensi pers tersebut, Qodari menjelaskan bahwa pemerintah tengah mencoba memperluas pola komunikasi publik dengan menggandeng pelaku media digital yang memiliki pengaruh besar di media sosial.

“Kehadiran teman-teman New Media mencerminkan upaya Bakom untuk menjangkau publik seluas-luasnya, tidak hanya melalui media konvensional, tetapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realita media atau realita komunikasi digital sebagai bentuk dari perkembangan teknologi dan sosial kemasyarakatan,” kata Qodari dikutip Antara.

Menurut dia, New Media Forum menjadi wadah kolaborasi berbagai pelaku media digital yang sebelumnya dikenal dengan istilah “homeless media”, lalu berkembang menjadi entitas media baru dengan audiens besar.

Dalam daftar yang dipaparkan Bakom RI, terdapat banyak nama media digital populer seperti Folkative, Indozone, Dagelan, Indomusikgram, USS Feeds, GNFI, Kok Bisa, CXO Media, hingga Volix. Selain itu, terdapat pula nama lain seperti Ngomongin Uang, Goodstats, Big Alpha, Proud Project, Vibiz, Nalar TV, Folks Daily, Mahasiswa dan Jakarta, sampai Mature Indonesia.

Qodari bahkan menyebut kekuatan media digital saat ini sangat besar karena mampu menghasilkan miliaran tayangan setiap bulan dengan jumlah pengikut mencapai puluhan hingga ratusan juta akun.

“Dengan realita bahwa New Media sudah punya followers yang cukup besar, mungkin bisa sampai 100 juta dengan views yang bisa mencapai angka miliaran, 4 sampai 6 miliar satu bulan, hemat kami yang terbaik adalah kita bisa engage agar membuat kualitas New Media semakin meningkat,” beber Qodari.

Meski begitu, kemunculan istilah “homeless media” justru memicu perdebatan baru di media sosial. Banyak publik mempertanyakan makna istilah tersebut, termasuk bagaimana posisi media digital dalam lanskap jurnalistik Indonesia saat ini.

Secara umum, homeless media merujuk pada media yang beroperasi dengan mengandalkan platform media sosial sebagai kanal utama distribusi informasi. Berbeda dengan media konvensional yang memiliki platform mandiri dan sistem editorial baku, media jenis ini lebih bergantung pada algoritma media sosial.

Karena itu, eksistensi mereka sangat dipengaruhi oleh platform tempat mereka berkembang. Ketika akun dibatasi, kehilangan jangkauan, atau platform mengalami perubahan sistem, distribusi konten mereka juga bisa ikut terdampak.

Di sisi lain, Qodari mengakui masih ada tantangan dalam ekosistem New Media, terutama terkait prinsip keberimbangan informasi atau cover both side yang selama ini menjadi standar media konvensional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Qodari, pendekatan Bakom terhadap media digital bukan untuk menjauhkan atau membatasi mereka, melainkan merangkul agar kualitas serta standar konten yang dihasilkan bisa semakin meningkat dan mendekati praktik media konvensional.

Ia juga mengatakan sebagian pelaku New Media kini telah memiliki bentuk kelembagaan yang lebih jelas, mulai dari perusahaan, struktur redaksi, hingga alamat operasional yang membedakannya dari akun anonim biasa di media sosial.