Harus Puas dengan Perunggu, 5 Penyebab Indonesia Takluk dari Korea Selatan di Semifinal Piala Uber 2026

Penyebab Indonesia Takluk dari Korea Selatan di Semifinal Piala Uber 2026
Penyebab Indonesia Takluk dari Korea Selatan di Semifinal Piala Uber 2026

 Langkah tim Uber Indonesia di Piala Uber 2026 harus terhenti di babak semifinal. Menghadapi Korea Selatan di Forum Horsens, Sabtu malam WIB, 2 Mei 2025, skuad Merah Putih ditekuk dengan skor 1-3. Hasil ini sekaligus memastikan Indonesia pulang dengan medali perunggu.

Namun kekalahan ini bukan sekadar soal skor. Jika ditelusuri lebih dalam, ada sejumlah faktor krusial yang membuat Indonesia gagal melangkah ke final. Mulai dari tekanan permainan lawan, inkonsistensi performa, hingga faktor pengalaman yang menjadi pembeda di momen-momen krusial.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berikut penyebab utama Indonesia takluk dari Korea Selatan:

1. Ritme Permainan Korea Selatan Sulit Diimbangi

Sejak laga pertama, Korea Selatan tampil dengan kontrol permainan yang sangat rapi. Hal ini diakui oleh tunggal putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani, yang sempat memberi perlawanan sengit di gim pertama sebelum akhirnya kalah 19-21 dan 5-21 dari An Se Young.

“Di gim pertama cukup puas dengan penampilan saya karena saya bisa mengimbangi permainan An Se Young yang memainkan ritme dengan sangat baik. Dia tidak terlalu menyerang banget, hanya bola atasnya yang lebih menekan,” ujar Putri dikutip PBSI.

Ganda putri Indonesia, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum

Namun di gim kedua, perubahan tempo dari An Se Young membuat Putri kesulitan keluar dari tekanan.

“Di gim kedua dia ada perubahan kecepatan dan saya malah banyak mati sendiri. An Se Young juga sudah membaca pola permainan saya bahkan sejak bola pertama,” lanjutnya.

2. Konsentrasi Menurun di Poin-Poin Krusial

Masalah klasik kembali menghantui wakil Indonesia, yakni kehilangan fokus di saat-saat menentukan. Hal ini terlihat jelas pada ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Amallia Cahaya Pratiwi yang kalah dalam rubber game dari Baek Ha Na/Lee So Hee.

Febriana mengakui ada momen di mana fokus mereka menurun.

“Memang tadi pertandingan cukup ramai dan lama, baik kami maupun lawan memang sama-sama susah dapat poin. Tapi ada beberapa poin yang kami fokusnya turun dan akhirnya pengembalian bolanya salah,” katanya.

Di gim penentuan, lawan bahkan mampu mengubah tempo permainan secara tiba-tiba.

“Di akhir-akhir gim ketiga mereka memang mempercepat pola... itu yang membuat kami jadi dalam posisi terus tertekan,” tambahnya.

3. Tekanan Mental di Laga Penentuan

Pada partai keempat yang menjadi penentu, pasangan Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum harus mengakui keunggulan Jeong Na Eun/Kim Hye Jeong dua gim langsung.

Sejak awal, mereka sudah berada dalam tekanan permainan lawan.

“Kami terus bermain dalam tekanan mereka, kami terus terpancing memberikan bola yang mereka mau,” ujar Rachel.

Meski sempat bangkit di gim kedua, tekanan di poin akhir kembali menjadi masalah.

“Kami juga sudah coba beberapa kali menggunakan pola yang sudah disiapkan... tapi mereka menjelang akhir sudah lebih siap,” lanjutnya.

Febi pun mengakui kualitas serangan lawan sangat menyulitkan.

“Serangan mereka menyulitkan kami. Dropshot-nya tajam dan tipis,” ucap Febi.

4. Pengalaman Jadi Pembeda

Salah satu faktor paling terlihat adalah pengalaman pasangan Korea Selatan yang lebih matang, terutama di sektor ganda. Jeong/Kim yang sudah lama berpasangan mampu tampil lebih tenang saat memasuki fase kritis.

Hal ini diakui langsung oleh Rachel.

“Jeong/Kim yang dulu sempat berpasangan mempunyai banyak pengalaman sehingga mereka menjelang akhir sudah lebih siap,” katanya.

Pengalaman tersebut membuat Korea Selatan mampu mengontrol momentum pertandingan dengan lebih baik.

5. Inkonsistensi Antar Partai

Dari empat laga yang dimainkan, Indonesia hanya mampu mencuri satu poin lewat Thalita Ramadhani Wiryawan yang tampil solid mengalahkan Sim Yu Jin dua gim langsung.

Thalita mengaku bermain tanpa beban meski tim sudah tertinggal.

“Meskipun tadi tim sudah ketinggalan 2-0 tapi saya mau coba main dulu saja... pelatih juga bilang untuk lepas saja, nothing to lose,” ujarnya.

Namun satu kemenangan tersebut tidak cukup untuk menutup celah di partai lain yang belum maksimal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kekalahan ini juga memperpanjang catatan minor Indonesia di Piala Thomas dan Uber 2026, setelah sebelumnya tim putra lebih dulu tersingkir di fase grup.

Dengan hasil ini, Indonesia dipastikan puasa gelar di dua ajang beregu paling bergengsi tersebut. Evaluasi menyeluruh pun menjadi pekerjaan rumah besar jika ingin kembali bersaing di level tertinggi dunia.