Mengintip Tradisi Kuliner Sumatera, Saat Durian Jadi Lauk dan Ketan Jadi Nasi

Tradisi makan durian dengan ketan yang pulen masih lestari hingga kini, khususnya di Sumatera.
Di beberapa daerah di Pulau Sumatera, durian bukan sekadar buah musiman, melainkan bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner lokal.
Salah satu perpaduan yang populer adalah katan durian atau ketan durian, kuliner khas Minangkabau.
Hidangan ini memadukan beras ketan yang pulen dengan daging buah durian yang manis ranum, menciptakan perpaduan tekstur dan rasa yang istimewa.
Sajian semacam ini tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari pengalaman menikmati durian secara lengkap di tengah keluarga saat musim panen tiba.
Tradisi lama
Dilansir dari laman Kemenparekraf, kebiasaan mengombinasikan durian dan ketan mencerminkan keterikatan masyarakat Sumatera dengan bahan lokal yang tersedia melimpah.
Di Desa Wisata Batu Gantuang, Sawah Lunto misalnya, ketan durian ditampilkan sebagai produk wisata kuliner untuk memperkenalkan kekayaan kuliner lokal kepada wisatawan, sekaligus melestarikan cara menikmati durian khas setempat.
Tradisi ini sekaligus menguatkan nilai gotong-royong dan identitas budaya agraris di Sumatera, di mana buah durian dan beras ketan menjadi simbol kemakmuran saat panen.
Ketika durian memasuki puncak panen, aroma manisnya tersebar di pasar tradisional dan tepi jalan, mengundang warga dari berbagai kampung untuk berkumpul di bawah pohon rindang atau di warung sederhana.
Di sinilah tradisi unik menikmati durian bersama ketan berkembang, menyatukan dua elemen khas nusantara, buah tropis yang harum dan nasi pulen yang lengket.
Makan durian dengan ketan dan parutan kelapa
Dilansir dari Kompas.id, pedagang durian di pinggir Jalan Dr Wahidin, Kota Padang, Sumatera Barat, juga selalu menyediakan ketan saat musim durian tiba.
Pasokan durian hampir selalu ada setiap hari, datang dari daerah-daerah di Sumbar, antara lain Kayu Tanam (Padang Pariaman), Limapuluh Kota, Pasaman, Maninjau (Agam), dan Pesisir Selatan, tergantung musimnya.
Kadang-kadang, pedagang juga memasok durian dari Medan (Sumatera Utara) dan Aceh.
Selain menyediakan durian ranum, pedagang juga menyediakan ketan, olahan beras pulut yang ditaburi parutan kelapa.
Bagi sebagian besar orang Minangkabau, tidak lengkap jika makan durian tanpa ditemani ketan.
Di Pasar Durian Gantiang, pembeli bisa menikmati durian dengan duduk lesehan di bawah tenda pinggir jalan.
Pedagang menghidangkan durian pilihan yang telah dibelah. Jika dipesan, sepiring ketan hangat segera mendarat di tempat duduk pembeli.
Ibarat makan besar, durian adalah lauk dan ketan sebagai nasinya. Memakan satu durian ukuran sedang dan seporsi ketan bisa menunda lapar untuk beberapa jam ke depan.
Selain berlesehan, pembeli juga bisa membawa pulang durian dan ketan. Durian bisa dibawa utuh dengan kulitnya, bisa pula dibuka untuk diletakkan ke wadah yang sudah dibawa dari rumah.
Perpaduan ketan dan durian bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerminan keakraban dan kebersamaan keluarga, di mana generasi tua dan muda duduk bersisian, saling berbagi dan tertawa di tengah musim panen.
Tradisi yang menggema di pariwisata lokal
Di Desa Wisata Batu Gantuang, di kaki bukit Sumatera Barat, sajian ketan durian menjadi salah satu produk kuliner yang dipromosikan kepada wisatawan sebagai bagian dari pengalaman budaya lokal.
Di Kota Pekanbaru, tradisi ini bahkan dilanjutkan ke dalam kontes dan rekor kuliner.
Salah satu produsen lokal pernah menyajikan ketan talam durian sepanjang 9 meter, menandai bukan hanya kecintaan warga pada perpaduan durian dan ketan, tetapi juga kebanggaan akan warisan rasa yang khas dari tanah Melayu di Sumatera.
Makan durian dengan ketan di Sumatera bukan sekadar kebiasaan makan biasa saja, melainkan "ritual" sosial yang menyatukan rasa, sejarah, dan komunitas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang