Intip Cara Asyik 'Remaja Vintage', Hidupkan Memori dan Masa Muda Era 90an

Ilustrasi Kegiatan Nostalgia
Ilustrasi Kegiatan Nostalgia

  Ada satu fase hidup yang selalu terasa hangat untuk dikenang, yakni masa remaja. Kalangan yang menjalani masa remaja di era 80 hingga 90-an, masa muda diwarnai lagu-lagu pop yang dinikmati melaui kaset, radio, konser sekolah hingga MTV era awal.

Rambut mungkin memutih, tetapi selera musik, gaya bercanda, dan semangat menikmati hidup tetap muda. Sehingga muncul istilah populer remaja vintage. 

Di era kemudahan hiburan, para remaja vintage memiliki cara asyik untuk mengenang masa muda. Tidak bisa dipungkiri musik menjadi media nostalgia mengingat kembali kegembiraan, semangat, kisah cinta hingga berbagai rasa yang mengisi kehidupan remaja 90an yang kini sudah memasuki usia senja. 

Rumah produksi seni pertunjukan ArtSwara sukses menghidupkan kembali memori kolektif era emas musik pop Indonesia melalui pergelaran Vintage Sounds yang memenuhi auditorium Ciputra Artpreneur, Jakarta. Pergelaran drama musikal ini mengusung konsep Live Variety Show ini terasa seperti mesin waktu yang bekerja dengan menyajikan musik-musik populer di telinga remaja vintage. 

Acara dibuka dengan lagu hits ikonis 90-an dari The Kids Brother berjudul Alam Maya. Suasana auditorium langsung berubah karena penonton bersorak-sorai menyanyinkan lagu tersebut secara fasih tanpa melirik lirik lagu karena dahuli sering diputar melalui kaset atau siaran radio.

Infografik

Atmosfer 90-an makin terasa ketika duo pembawa acara kondang Indy Barends dan Indra Bekti naik ke panggung. Candaan spontan dan gaya memandu khas mereka menghadirkan nuansa televisi era kejayaan variety show yang hangat, cair, dan penuh interaksi.

Salah satu segmen paling menyentuh hadir saat tribute untuk Titiek Puspa. Lagu Cinta dibawakan oleh Gabriel Harvianto dengan penuh penghayatan berhasil menciptakan momen yang mengharukan sekaligus membuat banyak penonton terhanyut saat mengenang kontribusi luar biasa sang legenda bagi industri musik Tanah Air.

Kolaborasi istimewa dengan legenda rap Indonesia, Iwa K, tampil enerjik bersama Maera, BimaZeno, dan Taufan Purbo membawakan Dansa Yuk Dansa. Penampilan ini semakin membangkitkan jiwa muda remaja vintage dan seluruh penonton.

Dahulu, rap sempat menjadi simbol kebaruan era 90-an. Dalam pagelaran ini, rap berpadu dengan orkestra megah seolah mengajak penonton tak hanya menikmati tetapi ikut bergerak mengikuti ritme.

Kejutan lain juga hadir dari penampilan host multitalenta Gilang Dirga. Ia melakukan impersonate menjadi Iwan Fals seraya membawakan lagu Bento, sontak seluruh penonton ikut menyanyikan lagu musisi sang legendaris itu.

Secara musikal, sentuhan bersama Tohpati Orchestra menjadi tulang punggung pertunjukan. Format big band menghadirkan warna baru pada lagu-lagu seperti Selamat Datang Cinta dan Cinta dan Damai. Aransemen terasa segar, tetapi tidak menghilangkan jiwa aslinya.

Tak hanya menyajikan musik, sentuhan visual dari seni lukis pasir dan koreografi modern memperkaya pengalaman. Pertunjukan ini bukan sekadar konser, melainkan perayaan lintas seni.

Pertunjukan seperti ini memberi ruang bagi generasi 80–90an untuk kembali merasa muda merayakan bahwa jiwa mereka tak pernah benar-benar menua. Masa muda mungkin telah berlalu, tetapi semangatnya tetap hidup, selama musiknya masih diputar.