IRGC Tangkap Tanker di Teluk Oman, AS Lumpuhkan Dua Kapal Tanker Lainnya
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menangkap sebuah kapal tanker minyak dalam ‘operasi khusus’ di Teluk Oman. Sementara itu, militer Amerika Serikat menyatakan telah melumpuhkan dua kapal tanker yang mencoba memasuki pelabuhan Iran.
Pernyataan yang dirilis Jumat waktu setempat itu muncul hanya beberapa jam setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan di Selat Hormuz.
Dalam pernyataan yang dimuat kantor berita Fars, juru bicara IRGC mengatakan angkatan laut Iran menyita kapal Ocean Koi karena diduga mencoba mengganggu ekspor minyak dan kepentingan bangsa Iran.
Media pemerintah Iran, Press TV, juga merilis video yang memperlihatkan pasukan Iran menaiki dan menahan kapal tersebut. Berdasarkan data MarineTraffic, kapal itu terdaftar di Barbados.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut pihak militer mereka telah melumpuhkan dua kapal tanker berbendera Iran saat mencoba mengakses pelabuhan Iran di Teluk Oman.
“Pasukan AS di Timur Tengah tetap berkomitmen penuh menegakkan blokade terhadap kapal yang masuk atau keluar dari Iran,” kata Komandan CENTCOM Laksamana Bradley Cooper dalam pernyataannya dikutip dari laman Al Jazeera, Sabtu 9 Mei 2026.
Beberapa jam sebelumnya, AS dan Iran sempat saling serang di Selat Hormuz dalam salah satu eskalasi terbesar sejak diberlakukannya jeda konflik.
Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran menyerang tiga kapal perusak Angkatan Laut AS di selat tersebut.
Sementara itu, komando militer gabungan tertinggi Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata setelah menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran dan kapal lainnya. Iran menyebut 10 pelaut terluka dalam serangan itu, sementara lima lainnya masih hilang.
Iran juga menuduh AS melakukan serangan udara ke wilayah sipil di Pulau Qeshm, lokasi strategis di pintu masuk Selat Hormuz. Sebagai balasan, Iran mengklaim telah menyerang kapal militer AS di timur selat dan selatan Pelabuhan Chabahar.
Namun Trump kemudian meremehkan insiden tersebut dan menyebutnya hanya sebagai ‘love tap’ alias serangan kecil sambil membantah bahwa peristiwa itu merupakan pelanggaran terhadap jeda konflik yang sedang berlangsung.
Pada Jumat, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pemerintahannya masih menunggu respons Iran terkait proposal terbaru AS untuk mengakhiri perang secara lebih permanen.
Di waktu yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance bertemu Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani di Washington DC. Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut keduanya membahas upaya mediasi yang dipimpin Pakistan guna meredakan konflik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran masih meninjau proposal tersebut dan mempertimbangkan responsnya, seperti dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim.
Ia juga mengecam serangan terbaru dan menegaskan pasukan Iran terus memantau situasi serta siap merespons segala bentuk “agresi dan tindakan provokatif”.
‘Rezim maritim baru’
Reporter Al Jazeera, Resul Serder, yang melaporkan dari Teheran, mengatakan ini bukan pertama kalinya IRGC menyita kapal di kawasan tersebut. Sebelumnya sudah ada tiga kasus serupa yang dikonfirmasi di Selat Hormuz.
Namun, menurutnya, langkah kali ini menandai perubahan strategi Iran.
“Iran melihat perang telah mengubah lingkungan strategis di kawasan, dan selat serta teluk ini telah digunakan untuk mengancam keamanan nasional kami,” ujarnya.
Ia menjelaskan Iran kini tengah membentuk ‘rezim maritim baru’ yang akan menghadirkan aturan, regulasi, dan protokol baru.
Lembaga baru itu disebut akan bernama “Persian Gulf Strait Authority” dan bertugas mengelola lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
“Menurut aturan baru yang baru dirilis, semua kapal yang ingin melintas keluar masuk Selat Hormuz wajib memiliki koordinasi dan izin penuh dari pasukan Iran,” kata Serder.
Kapal-kapal yang ingin melintas di jalur laut yang biasanya dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia itu juga diwajibkan mengirim email kepada otoritas Iran berisi negara asal kapal, muatan yang dibawa, hingga tujuan akhir perjalanan. Setelah itu, Iran akan melakukan penilaian dan meminta pembayaran biaya melintas.
“Inilah rezim maritim baru. Iran tidak akan melepaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz,” katanya.
Ia menilai langkah tersebut sangat simbolis karena menunjukkan bahwa Iran kini ingin mengendalikan penuh titik strategis tersebut. “Tanpa persetujuan mereka, tidak ada kapal yang boleh keluar masuk,” ujarnya.