China Sebut El Nino Bisa Memperparah Krisis Energi Global, Kok Bisa?
China memperingatkan fenomena El Nino yang diprediksi menguat tahun ini berpotensi memperparah krisis energi global. Terutama di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) yang masih memanas.
Pemerintah China melalui para ilmuwan iklim menyebut El Nino dapat meningkatkan permintaan bahan bakar fosil dunia karena banyak wilayah yang bergantung pada tenaga air atau hydropower berisiko kehilangan pasokan listrik akibat kekeringan maupun banjir ekstrem.
Kondisi tersebut dinilai bisa memaksa banyak negara beralih ke minyak dan gas sebagai sumber energi alternatif, sehingga memperbesar tekanan terhadap harga energi global. Fenomena El Nino sendiri terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan menyebabkan kenaikan suhu rata-rata global.
Dalam kondisi tertentu, El Nino dapat memicu cuaca ekstrem berupa kekeringan panjang maupun hujan deras yang berujung banjir besar. Kedua kondisi ini sama-sama dapat mengganggu operasional pembangkit listrik tenaga air, baik karena kekurangan pasokan air maupun kerusakan infrastruktur akibat banjir.
“El Nino bisa menghantam keras wilayah yang bergantung pada tenaga air, mendorong mereka membakar lebih banyak bahan bakar fosil untuk listrik. Hal itu akan meningkatkan emisi karbon sekaligus biaya impor energi, menciptakan lingkaran merusak yang memperparah perubahan iklim dan menekan ekonomi,” kata Wang Yaqi, insinyur senior di National Climate Centre China, sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Senin, 20 April 2026.
Administrasi Meteorologi China memperkirakan kondisi El Nino kategori sedang hingga kuat akan mulai muncul secara global bulan depan dan terus berkembang sepanjang sisa tahun ini.
Peringatan ini datang di tengah melonjaknya harga minyak dunia akibat perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang memicu penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi pasokan energi global. Jika El Nino mengurangi produksi listrik di wilayah yang sangat bergantung pada tenaga air seperti Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Afrika, kawasan-kawasan tersebut akan dipaksa membakar lebih banyak minyak dan gas untuk menghasilkan listrik.
Lonjakan permintaan tersebut diperkirakan akan mendorong harga energi naik lebih tinggi lagi.
Perlu diketahui, istilah El Nino merujuk pada pemanasan berkepanjangan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di sekitar garis khatulistiwa. Kondisi ini menyebabkan lautan melepaskan panas dalam jumlah besar ke atmosfer, sehingga meningkatkan suhu rata-rata dunia secara signifikan.
Sebuah peristiwa El Nino dinyatakan resmi terjadi ketika kenaikan suhu permukaan laut rata-rata mencapai minimal 0,5 derajat Celsius selama lima bulan berturut-turut atau lebih. El Nino diklasifikasikan menjadi empat tingkat kekuatan, yakni lemah (0,5 hingga 1,3 derajat), sedang (1,3 hingga 2 derajat), kuat (2 hingga 2,5 derajat), dan sangat kuat (di atas 2,5 derajat).
Suhu yang lebih tinggi juga meningkatkan potensi cuaca ekstrem karena udara hangat mampu menampung sekitar 7 persen lebih banyak uap air untuk setiap kenaikan 1 derajat suhu. Hal ini membuat laju penguapan meningkat, sehingga kekeringan menjadi lebih panjang dan parah.
Namun di sisi lain, kelembapan tinggi juga bisa memicu hujan ekstrem, badai besar, dan banjir. “El Nino yang lebih kuat sering bertepatan dengan suhu tinggi, kekeringan, dan curah hujan ekstrem, serta berbagai peristiwa gabungan yang secara kolektif memengaruhi sektor energi dan kesehatan masyarakat,” ujar Wang.
Ia menjelaskan, El Nino yang sangat kuat dapat memicu banjir besar yang memaksa pembangkit listrik tenaga air mengurangi produksi atau bahkan berhenti beroperasi total. Selain itu, banjir juga dapat merusak jaringan transmisi listrik, gardu induk, hingga memicu longsor.
Sebaliknya, dalam kondisi kekeringan, pembangkit tenaga air juga akan mengalami penurunan produksi drastis karena pasokan air menyusut tajam. “Risiko yang ditimbulkan El Nino terhadap berbagai sektor tidak hanya disebabkan oleh El Nino itu sendiri, tetapi merupakan hasil dari interaksi berbagai faktor. Dalam sistem kompleks ini, El Nino biasanya bertindak sebagai penguat atau pemicu,” jelasnya.
El Nino yang sangat kuat terakhir terjadi pada 2015, dan tahun berikutnya memecahkan rekor suhu rata-rata global tertinggi. Fenomena serupa kembali berkembang tiga tahun lalu, dan pada 2024 tercatat kembali memecahkan rekor suhu permukaan global.
Meski demikian, National Climate Centre China mencoba meredam spekulasi yang beredar di media sosial mengenai dampak El Nino kali ini. Kepala prakirawan pusat tersebut, Chen Lijuan, meminta publik berhati-hati terhadap klaim bahwa El Nino tahun ini akan menjadi yang terkuat dalam 140 tahun atau memicu darurat panas global.
“Mengingat adanya efek tertunda dari El Nino, masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa Bumi akan mencapai rekor suhu baru tahun ini, tetapi risiko yang terkait dengannya jelas meningkat secara signifikan,” ujarnya.