Geopolitik Makin Memanas, OJK Waspadai Lonjakan Volatilitas Pasar Keuangan Global

Pjs Ketua dan Wakil Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi
Pjs Ketua dan Wakil Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi

Pjs. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari alias Kiki menegaskan, dengan masih tingginya ketidakpastian global yang terjadi di dunia hari ini, sektor keuangan Indonesia harus terus waspada dan mencermati berbagai dinamika perkembangan perekonomian global dan domestik.

Dalam sambutannya di acara webinar 'Economic Outlook 2026', Kiki mengaku melihat adanya tren risiko penurunan yang terjadi secara global, seiring meningkatnya ekskalasi geopolitik dan geoekonomi yang menjadi perhatian penuh para pelaku pasar di seluruh dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Risiko penurunan (downside risk) global terus meningkat, seiring dengan berlanjutnya fragmentasi geopolitik dan geoekonomi serta meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap potensi pembentukan asset price bubble pada sektor artificial intelligence," kata Kiki, Kamis, 19 Februari 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, saat melakukan Edukasi Keuangan Bagi Penyandang Disabilitas di Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Jumat, 9 Agustus 2024

Dengan kondisi tersebut, Kiki mengatakan bahwa telah terjadi lonjakan volatilitas di pasar keuangan global, yang akan direspon oleh banyak negara dengan memperketat kebijakan moneternya.

Dengan demikian, dampaknya diyakini juga akan berpengaruh pada prospek pertumbuhan ekonomi secara global, yang berpotensi tertekan hingga ke level terendah dalam rentang waktu yang lama.

"Kondisi (ketidakpastian geopolitik global) itu tentunya akan mendorong peningkatan volatilitas di pasar keuangan global, memperpanjang fase kebijakan moneter yang ketat, dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi global ke level di bawah rata-rata historis jangka panjang," ujarnya.

Meski demikian, Kiki menekankan bahwa di tengah berbagai tantangan global tersebut, Indonesia harus tetap bersyukur karena pertumbuhan ekonomi nasional secara konsisten berada di kisaran 5 persen. Bahkan di sepanjang tahun 2025 lalu, perekonomian nasional masih bisa tumbuh sebesar 5,11 persen secara tahunan.

"Dan ini lebih tinggi dibandingkan dengan 2 tahun sebelumnya. Lalu kita juga melihat di kuartal IV-2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai sebesar 5,39 persen secara year-on-year (yoy), merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20," kata Kiki.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejalan dengan itu, Kiki menambahkan bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan nasional berhasil tumbuh sebesar 7,92 persen secara tahunan pada periode yang sama, dan merupakan laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal II-2021.

"Capaian tersebut didorong oleh kinerja intermediasi keuangan yang tetap ekspansif, yang tercermin dari pertumbuhan kredit serta perbaikan kinerja sektor asuransi dan dana pensiun yang kembali tumbuh positif setelah mengalami kontraksi dalam 2 tahun sebelumnya," ujarnya.