Di Balik Kemegahan Kereta Cepat Tiongkok: Tiket Tak Terbeli-Kereta Tua Jadi Primadona

Kereta
Kereta

Kemajuan sistem transportasi kereta api di Tiongkok kembali menjadi sorotan, menyusul laporan yang mengungkap kontras tajam antara kereta cepat modern yang sepi penumpang dan kereta lama berbiaya rendah yang justru penuh sesak. 

Sejumlah pengamat menggambarkan pengalaman membeli tiket kereta cepat sebagai proses yang mengecewakan. Aplikasi pemesanan sering kali hanya menampilkan sedikit kursi kelas satu atau bahkan status “terjual habis”. Namun, kondisi berbeda justru ditemukan di lapangan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Beberapa pelancong melaporkan bahwa saat tiba di peron, mereka mendapati kereta berjalan dengan gerbong hampir kosong, termasuk pada rute menuju kota besar seperti Chongqing. Video yang beredar di media sosial menunjukkan gerbong tanpa penumpang, dengan suasana sunyi yang digambarkan saksi mata terasa “seperti berada di tempat angker”. 

Fenomena ini dinilai bertolak belakang dengan citra lama sistem kereta China yang identik dengan kepadatan penumpang. Para analis menyebut kondisi tersebut sebagai gambaran nyata situasi ekonomi dan sosial di China saat ini. 

Salah satu faktor utama yang disorot adalah harga tiket. Tarif kereta cepat yang fluktuatif dapat mencapai hingga 2.400 yuan, sementara harga sekitar 800 yuan pun dinilai tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat. Dengan hampir 900 juta warga berpenghasilan di bawah 2.000 yuan per bulan, biaya perjalanan tersebut dianggap terlalu tinggi. 

Akibatnya, banyak warga beralih ke kereta lama atau “kereta hijau” yang lebih murah. Kereta peninggalan era 1990-an ini memang membutuhkan waktu tempuh lebih lama, namun menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau. Sebagai perbandingan, rute Beijing–Shanghai dengan kereta cepat memakan waktu sekitar 4,5 jam dengan tarif 553 yuan, sedangkan kereta lama membutuhkan 19 jam dengan biaya hanya 156 yuan. 

Perbedaan harga ini menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat berpenghasilan rendah, yang lebih memilih menghemat biaya dibandingkan kenyamanan perjalanan. 

Namun, kondisi di kereta lama juga memprihatinkan. Laporan penumpang menggambarkan gerbong yang penuh sesak, terutama pada malam hari, dengan lorong dipenuhi penumpang dan ruang gerak yang sangat terbatas. Seorang penumpang bahkan menyebut pengalamannya seperti “terjebak di antara dua batu raksasa”, sementara yang lain mengaku harus bertahan dalam kondisi dingin dan tidak nyaman selama lebih dari sepuluh jam. 

Tiket yang dijual melebihi kapasitas disebut memperparah situasi, menyulitkan penumpang, termasuk keluarga dengan anak kecil. Seorang ayah dilaporkan meminta pihak pengelola kereta untuk melihat langsung kondisi tersebut, sembari menuding kebijakan transportasi lebih mengutamakan pencapaian politik dibanding kebutuhan masyarakat. 

Pengamat urusan China, Wang Hi, menilai kondisi ini bukan kebetulan. Ia menyebut jumlah kereta lokal yang terjangkau sengaja dikurangi seiring ekspansi kereta cepat. Menurutnya, banyak rute lama dipangkas untuk mempertahankan citra keberhasilan pembangunan transportasi modern. 

Selain itu, sistem pencarian tiket juga disebut lebih memprioritaskan kereta cepat mahal, sementara opsi kereta murah menjadi semakin terbatas. Hal ini dinilai menciptakan kesenjangan akses transportasi yang mencerminkan perbedaan kelas sosial. 

Dampak kondisi ini meluas ke berbagai aspek kehidupan. Banyak pekerja dilaporkan tidak mampu pulang ke kampung halaman saat perayaan Tahun Baru karena keterbatasan biaya. Situasi ekonomi yang memburuk, termasuk penurunan sektor properti dan ekspor, turut memperparah kondisi tersebut. 

Sejumlah kisah viral di media sosial menggambarkan kesulitan tersebut, termasuk pekerja yang menangis karena tidak mampu pulang menemui keluarga. Bahkan, sebagian orang memilih langsung mencari pekerjaan baru di kota lain daripada kembali ke kampung halaman. 

Di sisi lain, kemacetan panjang juga terjadi di jalan raya, dengan antrean kendaraan mencapai puluhan kilometer. Meski pemerintah mengklaim tingginya mobilitas masyarakat, kondisi ini justru dinilai mencerminkan stagnasi. 

Fenomena ini juga dirasakan oleh kalangan muda dan kelas menengah. Banyak lulusan baru bekerja dengan sistem upah rendah di pabrik dan tidak mampu membeli tiket kereta cepat, sehingga terpaksa menggunakan kereta lama yang padat. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah promosi pemerintah mengenai kemakmuran dan kemajuan teknologi, kondisi di sektor transportasi ini menunjukkan tantangan yang masih dihadapi masyarakat. Para pengamat menilai, kemajuan teknologi tidak akan berarti jika manfaatnya tidak dirasakan secara merata. 

Kontras antara kereta cepat yang kosong dan kereta murah yang penuh sesak dinilai menjadi simbol kesenjangan yang semakin nyata di China modern. Bagi sebagian pihak, kondisi ini mencerminkan sisi lain dari pembangunan yang belum sepenuhnya inklusif.