Hujan Meteor Lyrids 23 April 2026 Bisa Dilihat di Indonesia, Catat Waktu dan Cara Melihatnya

BRIN, Hujan Meteor Lyrids 23 April 2026 Bisa Dilihat di Indonesia, Catat Waktu dan Cara Melihatnya

Fenomena antariksa yang menarik untuk diamati pada April 2026 adalah hujan meteor Lyrids.

Fenomena ini dikenal sebagai salah satu hujan meteor tertua yang pernah tercatat dalam sejarah pengamatan manusia dan kembali menjadi perhatian para pengamat langit di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Hujan meteor merupakan peristiwa ketika sejumlah meteor tampak melintas di langit dalam waktu singkat, seolah-olah jatuh dari satu titik tertentu.

Dalam kondisi langit yang gelap, fenomena ini sering disebut sebagai “bintang jatuh” yang melesat cepat dan terkadang meninggalkan jejak cahaya.

Apa itu hujan meteor Lyrids?

Hujan meteor Lyrids berasal dari sisa debu dan puing-puing yang ditinggalkan oleh komet C/1861 G1 (Thatcher).

Komet ini mengorbit Matahari setiap sekitar 415 tahun. Saat Bumi melintasi jalur puing tersebut setiap tahun, partikel-partikel kecil akan masuk ke atmosfer dan terbakar, menciptakan garis cahaya yang terlihat dari permukaan Bumi.

Fenomena ini telah diamati selama ribuan tahun. Berdasarkan catatan astronomi, hujan meteor Lyrids termasuk salah satu yang paling lama dikenal dalam sejarah.

Menurut NASA, dalam kondisi tertentu, aktivitas Lyrids bisa meningkat drastis hingga mencapai 100 meteor per jam, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1803, 1922, 1945, dan 1982. Namun, lonjakan seperti ini sulit diprediksi.

Kapan hujan meteor Lyrids bisa dilihat di Indonesia?

Pakar astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyatakan bahwa hujan meteor Lyrids dapat diamati dari Indonesia.

"Hujan meteor Lyrids bisa diamati dari Indonesia pada dini hari malam Kamis, 23 April 2026 sampai sebelum matahari terbit," kata Thomas dikutip dari .

Waktu terbaik pengamatan adalah setelah tengah malam hingga menjelang fajar. Periode ini dianggap ideal karena langit biasanya lebih gelap dan gangguan cahaya dari Matahari belum muncul.

Sebagai gambaran, waktu matahari terbit di wilayah Indonesia seperti Jakarta berada sekitar pukul 05.53 WIB, sehingga pengamatan sebaiknya dilakukan beberapa jam sebelumnya.

Hujan meteor Lyrids tampak berasal dari rasi bintang Lyra yang berada di langit utara. Namun, meteor sebenarnya bisa muncul di berbagai bagian langit.

Thomas menjelaskan bahwa rata-rata terdapat sekitar 10 hingga 20 meteor per jam yang dapat diamati selama puncak aktivitas.

Bagaimana cara terbaik mengamati hujan meteor?

Untuk mendapatkan pengalaman terbaik dalam mengamati hujan meteor Lyrids, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Pilih lokasi yang jauh dari polusi cahaya, seperti daerah pedesaan atau perbukitan
  • Pastikan kondisi cuaca cerah tanpa awan
  • Beri waktu sekitar 20-30 menit agar mata beradaptasi dengan kegelapan
  • Arahkan pandangan ke langit terbuka, tidak hanya fokus pada satu titik

Thomas menegaskan bahwa pengamatan tidak memerlukan alat khusus.

"Pengamatan cukup dengan mata tanpa alat. Kalau menggunakan teleskop, medan pandangnya jadi sempit, sulit mengikuti arah meteor," jelasnya.

Fenomena ini juga berpotensi menampilkan meteor terang atau “bola api” yang bergerak cepat dan meninggalkan jejak cahaya lebih lama dibanding meteor biasa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang