Mengenal RMP Sosrokartono, Kakak RA Kartini Sang Poliglot Penguasa 26 Bahasa

Nama Raden Ajeng Kartini telah lama bertahta sebagai simbol emansipasi perempuan di Indonesia. Namun, di balik bayang-bayang kemasyhuran sang adik, tersimpan jejak langkah luar biasa dari sang kakak kandung, Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono.
Lahir di Pelemkerep, Mayong, Jepara, pada 10 April 1877, pria yang akrab disapa Kartono ini bukan sekadar bangsawan Jawa biasa. Ia adalah seorang intelektual lintas batas, poliglot yang menguasai puluhan bahasa, hingga jurnalis internasional pertama dari tanah Hindia yang menembus garis depan Perang Dunia I.
Sang Poliglot
Ketertarikan putra pasangan R.M.A.A. Sosroningrat dan Ngasirah ini terhadap literasi sudah tampak sejak belia. Sosrokartono melanglang buana ke Belanda untuk mendalami bahasa dan kesusastraan Timur di Universitas Leiden.
Bakat linguistiknya bahkan melampaui rata-rata orang Eropa kala itu. Tercatat, ia menguasai sembilan bahasa Timur dan tujuh belas bahasa Barat, termasuk bahasa klasik seperti Yunani dan Latin. Total, ada 26 bahasa yang ia kuasai baik secara aktif maupun pasif.
Kemampuan ini membawanya pada sebuah pencapaian bersejarah. Pada September 1899, Sosrokartono menjadi orang Indonesia pertama yang berpidato dalam kongres bahasa Algemeen Nederlandsch Verbond (ANV) di Gent, Belgia.
Wartawan Perang dengan Gaji Miliuner
Karier Sosrokartono mencapai puncaknya saat ia dipercaya menjadi koresponden perang untuk surat kabar ternama Amerika Serikat, The New York Herald Tribune. Sebagai wartawan, ia menulis dalam empat bahasa utama: Inggris, Spanyol, Rusia, dan Prancis.
Salah satu prestasi jurnalistiknya yang paling fenomenal adalah saat ia berhasil meliput langsung perundingan rahasia gencatan senjata antara pihak Sekutu dan Jerman di akhir Perang Dunia I. Padahal, pertemuan tersebut dijaga sangat ketat dan tertutup bagi publik.
Atas kontribusinya di medan perang, militer Amerika Serikat bahkan menganugerahinya pangkat Mayor Kehormatan. Penghasilannya pun fantastis untuk ukuran masanya.
"Gajinya sebagai wartawan perang kala itu disebut mencapai 1.250 dolar per bulan, jumlah yang setara dengan kekayaan seorang miliuner di Eropa pada masa itu," demikian catatan sejarah mengenai kesejahteraan sang jurnalis.
Tak berhenti di situ, keahlian bahasanya membuat Sosrokartono dipercaya menjadi penerjemah resmi di Liga Bangsa-Bangsa (LBB) pada periode 1919–1921. LBB sendiri merupakan organisasi internasional cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pulang ke Tanah Air: Menjadi Guru Bangsa
Ki Sunarto di makam RMP Sosrokartono di Pasarean Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Kamis (3/7/2014) siang.
Setelah melanglang buana di panggung internasional, Sosrokartono memilih kembali ke Hindia Belanda. Namun, kemampuannya yang jenius justru membuatnya sempat dipandang sebelah mata oleh pemerintah kolonial. Ia pernah kesulitan mencari kerja karena dianggap terlalu berbahaya bagi stabilitas Belanda.Enggan tunduk pada kolonialisme, ia memilih bergabung dengan Ki Hajar Dewantara sebagai pengajar di Taman Siswa Bandung. Di masa inilah, ia kerap menjadi teman diskusi bagi pemuda bernama Soekarno, yang kelak menjadi Presiden pertama RI.
Sosrokartono dikenal sebagai "Guru Bangsa" melalui pidato-pidatonya yang membakar semangat nasionalisme, salah satunya yang bertajuk "Het Nederlandsch in Indie" (Bahasa Belanda di Indonesia).
"Saya akan melawan siapa pun yang menjadikan Indonesia sebagai Eropa maupun setengah Eropa. Saya juga menentang mereka yang akan menginjak-injak kebiasaan bangsa Indonesia yang luhur dan suci," tegas Sosrokartono dalam pesan perjuangannya.
Akhir Perjalanan Sang Jenius
Di masa tuanya, Sosrokartono menjalani kehidupan spiritual sebagai mantri kesehatan. Ia banyak membantu rakyat kecil melalui kemampuan penyembuhan yang dipercaya bersifat supranatural.
Sosrokartono wafat pada 8 Februari 1952 di Bandung. Jenazahnya dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, bersandingan dengan makam kedua orang tuanya.
Pada nisannya, terukir bait filsafat Jawa yang merangkum seluruh perjalanan hidupnya:
"Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tan ngasorake" (Kaya tanpa harta, sakti tanpa azimat, menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan).
Sebagian Artikel telah Tayang di Kompas.com dengan Judul
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang