Selat Bab el-Mandeb Terancam, Pasokan Energi Global di Ujung Tanduk

Selat Bab el-Mandeb
Selat Bab el-Mandeb

Ancaman terhadap pasokan energi global kian membesar seiring meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah. Kali ini, sorotan tertuju pada Selat Bab el-Mandeb, yang terancam terganggu.

Risiko gangguan lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb mencuat saat pasar minyak global berada dalam tekanan. Tidak lain karena  penutupan Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selat Bab el-Mandeb terletak di antara Yaman dan Djibouti merupakan penghubung penting antara Samudra Hindia dan Laut Merah. Jalur ini menjadi satu-satunya rute laut langsung yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez dengan lebar selat ini hanya sekitar 32 kilometer.

“Jika Amerika ingin mencari solusi untuk Selat Hormuz dengan langkah bodoh, mereka harus berhati-hati agar tidak menambah satu selat (Bab el-Mandeb) lagi dalam masalah,” ujar seorang pejabat militer Iran yang tidak disebutkan namanya dikutip dari Anadolu, Selasa, 31 Maret 2026. 

Ilustrasi kapal tanker

Ia menambahkan, Selat Bab el-Mandeb dianggap sebagai salah satu selat strategis dunia dan Iran memiliki kemauan serta kemampuan untuk menciptakan ancaman yang benar-benar nyata terhadapnya. Penyataan ini memancing kekhawatiran global. 

Ancaman Iran ini bukan tanpa alasan. Selat Bab el-Mandeb memegang peranan krusial dalam rantai pasok energi global. 

Pada awal tahun 2023, jalur ini menangani sekitar 12 persen pengiriman minyak dunia, dengan arus mencapai sekitar 4,2 juta barel per hari pada awal 2025. Jika terjadi gangguan, dampaknya akan sangat luas. Arus perdagangan antara Eropa dan Asia berpotensi terhenti, memaksa kapal-kapal untuk memutar melalui Afrika. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi ini akan memperpanjang waktu pengiriman sekaligus meningkatkan biaya logistik secara signifikan. Vitalnya selat ini juga tercermin dari kehadiran basis militer sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, Prancis, dan China di kawasan tersebut.

Dengan meningkatnya ancaman terhadap dua jalur vital—Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb—pasar kini menghadapi risiko gangguan pasokan energi yang lebih luas. Kondisi ini berpotensi mendorong lonjakan harga minyak sekaligus memperdalam ketidakpastian ekonomi global dalam waktu dekat.