Pemulihan Krisis Energi Bisa Lebih Buruk dari Prediksi IEA
Krisis energi global berpotensi berlangsung lebih lama dan lebih dalam dari perkiraan awal. Gangguan pasokan minyak di Timur Tengah akibat penutupan Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Lebih dari dua bulan setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas, jalur vital distribusi energi global tersebut masih belum sepenuhnya terbuka untuk lalu lintas tanker. Kondisi ini menimbulkan dampak lebih dari 10 juta barel per hari produksi minyak mentah di kawasan Timur Tengah terhenti.
Kondisi ini memicu lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global. Ancaman resesi mulai mencuat jika gangguan distribusi minyak terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dan sejumlah analis dunia memperkirakan Selat Hormuz akan kembali dibuka pada April 2026 dengan produksi minyak pulih pada Mei 2026. Namun hingga kini, pasokan masih tertahan di kawasan Teluk Persia saat tangki penyimpanan darat dilaporkan penuh sementara kapal tanker tidak dapat melintasi jalur tersebut.
Ilustrasi minyak mentah.
IEA menyampaikan pemulihan stabilitas pasokan energi global sangat bergantung pada berbagai faktor. Mulai dari peningkatan keamanan dan stabilitas politik, dimulainya kembali arus perdagangan Hormuz, mobilisasi tenaga kerja terampil dan kontraktor, serta normalisasi rantai pasokan, asuransi kapal tanker, dan pembiayaan.
"Setelah pembukaan kembali Selat Hormuz dan pemulihan keamanan untuk arus perdagangan, kami memperkirakan bahwa akan membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk membangun kembali ekspor yang stabil, dan volume awal akan tetap di bawah tingkat sebelum konflik,” kata IEA dikutip dari Oil Price pada Rabu, 29 April 2026.
Bahkan jika Selat Hormuz dibuka hari ini, analis globa mengatakan pemulihan pasokan tidak akan berlangsung cepat. Proses distribusi minyak ke konsumen, terutama di Asia, diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan bahkan di beberapa negara bisa memakan waktu sangat lama.
“Beberapa negara mungkin butuh waktu berminggu-minggu, tapi negara lain seperti Irak bisa memerlukan berbulan-bulan untuk mengembalikan produksi ke level normal,” tutur Kepala Analisis Hulu Wood Mackenzie, Fraser McKay.
Ia juga mengingatkan risiko kerusakan permanen pada sumur minyak akibat penghentian produksi secara mendadak di awal konflik. Pasalnya, operator yang dipaksa mempercepat pemulihan produksi berisiko merusak aset energi dalam jangka panjang.
Senada, CEO perusahaan jasa ladang minyak global SLB, Olivier Le Peuch, menilai pemulihan produksi akan berlangsung bertahap. “Beberapa negara bisa kembali berproduksi dalam hitungan hari atau minggu, tetapi wilayah lain membutuhkan waktu lebih lama untuk pemulihan penuh,” ujarnya.
CEO Halliburton, Jeff Miller, juga menegaskan kompleksitas pemulihan produksi. Ia menambahkan bahwa situasi di Timur Tengah akan berdampak jangka panjang bagi sektor energi global.
"Semakin lama produksi dihentikan, semakin kompleks proses untuk mengaktifkannya kembali,” tegas Miller.
CEO Vitol, Russell Hardy, menambahkan dunia kehilangan pasokan minyak dalam jumlah besar sejak konflik dimulai. Situasi ini semakin buruk karena kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembukaan jalur tersebut belum akan terjadi dalam waktu dekat bahka sebagian besar kapasitas cadangan produksi minyak dunia berada di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang justru berada di balik Selat Hormuz dan ikut terdampak.
“Saat ini, seluruh kapasitas cadangan berada di belakang Selat Hormuz, sehingga dampaknya sangat langsung,” imbuh Hardy.
Ia memperkirakan kerugian pasokan minyak global sudah mencapai ratusan juta barel dan bisa mendekati satu miliar barel dalam waktu dekat. “Kita sudah kehilangan sekitar 600 hingga 700 juta barel, dan butuh waktu lama untuk memulihkannya, bahkan jika situasi mulai membaik,” tambahnya.
Dengan kondisi ini, pasar energi global menghadapi tekanan besar yang berpotensi bertahan dalam jangka panjang. Tanpa solusi cepat untuk membuka kembali jalur distribusi utama, krisis energi dunia bisa jauh lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya.