El Nino Godzilla Mengancam, AI Siap Mengadang

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa.

Meski istilah tersebut tidak ilmiah, namun, ancaman kekeringan tetap menjadi perhatian serius, terutama bagi sektor kelapa sawit.

Sebab, potensi anomali cuaca sekecil apa pun tetap memerlukan langkah antisipatif.

Hal itu pula yang mendorong PTPN IV PalmCo, subholding Perkebunan Nusantara menetapkan status siaga menghadapi musim kemarau tahun ini.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa mengatakan, perusahaan memilih mengambil pendekatan konservatif dengan menyiapkan mitigasi sejak dini.

“Kami tidak ingin mengambil risiko. Kesiapsiagaan tetap kami jalankan seolah menghadapi skenario terburuk,” kata dia, Selasa, 31 Maret 2026.

Salah satu fokus utama adalah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang kerap menjadi dampak paling merugikan saat kemarau panjang melanda wilayah perkebunan, khususnya di Sumatra dan Kalimantan.

Menurut Jatmiko, pendekatan penanganan kini bergeser dari responsif menjadi preventif.

BUMN Perkebunan ini mengandalkan teknologi berbasis kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) bernama Arfina atau Artificial Intelligence Fire Monitoring Integrated Ground Checking Nusantara.

Sistem tersebut memantau potensi kebakaran secara real-time. “Sistem ini membantu kami mendeteksi titik panas lebih awal, sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum api meluas,” ujarnya.

Namun, ia menekankan, teknologi tersebut harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia di lapangan. Setiap peringatan dari sistem akan langsung ditindaklanjuti oleh tim yang siaga di wilayah operasional.

PTPN IV PalmCo juga memperkuat infrastruktur pendukung. Seperti pembangunan embung dan sekat kanal di area rawan kekeringan. Upaya ini dilengkapi kolaborasi bersama aparat TNI dan Polri dalam kegiatan patroli serta aksi tanggap darurat karhutla.

Di sisi lain, ancaman kemarau tidak hanya berkaitan dengan kebakaran, tetapi juga berdampak langsung pada produktivitas tanaman. Jatmiko menjelaskan, kekeringan berkepanjangan dapat memicu berbagai risiko. Mulai dari gangguan pertumbuhan tanaman hingga penurunan hasil produksi.

“Kemarau panjang membawa efek domino, seperti potensi ledakan hama, kekeringan tanah, hingga penurunan rendemen. Ini harus diantisipasi secara menyeluruh,” tuturnya.

Perhatian khusus diberikan pada tanaman belum menghasilkan (TBM), yang dinilai lebih rentan terhadap stres air karena sistem perakarannya belum optimal. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memengaruhi keberhasilan investasi jangka panjang perusahaan.

Selain itu, perubahan kondisi lingkungan akibat kekeringan juga berpotensi meningkatkan populasi hama. Seperti hewan pengerat dan serangga, yang mencari sumber makanan baru di area perkebunan. Untuk mengantisipasinya, perusahaan menerapkan strategi agronomi adaptif, termasuk pengelolaan kelembapan tanah dan tata kelola air yang lebih efisien.