Apa Itu El Nino Godzilla? Ini Pengertian dan Dampaknya di Indonesia pada 2026

Istilah El Nino Godzilla kerap terdengar di telinga masyarakat Indonesia akhir-akhir ini.
Sebab, fenonema tersebut diprediksi akan terjadi di Indonesia pada tahun 2026.
Meski demikian, fenomena El Nino tersebut belum banyak dipahami masyarakat. Sehingga memunculkan pertanyaan tentang apa itu El Nino Godzilla.
Lantas, apa itu El Nino Godzilla? Berikut pengertian sekaligus dampaknya di Indonesia.
Apa Itu El Nino Godzilla?
Dilansir dari laman Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), istilah "Godzilla" yang tersemat pada El Nino ini tidak termasuk terminologi ilmiah dalam klimatologi.
Pasalnya, secara resmi, El Nino hanya dibagi menjadi tiga kategori, yaitu lemah, moderat, dan kuat.
Istilah "Godzilla" muncul setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut adanya potensi varias El Nino kuat, yakni kombinasi fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) positif dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Adapun istilah El Nino Godzilla pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan NASA, Bill Patzert, pada 2015. Ia menggunakan kata "Godzilla" untuk menggambarkan kekuatan El Nino yang luar biasa besar, salah satu yang terkuat sejak 1950.
Artinya, Godzilla bukanlah jenis El Nino baru, melainkan El Nino yang dikhawatirkan berkembang sangat besar dan membawa dampak luas, terutama soal kekeringan, berkurangnya air, gangguan pertanian, dan tekanan pada pangan.
Secara sederhana, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih hangat dari biasanya.
Dalam kondisi normal, angin di wilayah khatulistiwa mendorong air laut hangat ke arah barat, termasuk ke Indonesia, sehingga mendukung pembentukan awan dan hujan.
Namun saat El Nino terjadi, angin ini melemah, sehingga air hangat bergeser ke tengah dan timur Pasifik. Akibatnya, pusat pembentukan awan dan hujan ikut bergeser menjauh dari Indonesia, sehingga curah hujan di wilayah ini cenderung berkurang.
Bagaimana Potensi Dampak El Nino Godzilla di Indonesia?
Menurut BMKG, untuk tahun 2026, El Nino masih dalam tahap potensi dan belum pasti terjadi.
Outlook NOAA per 12 Maret 2026 menyebutkan bahwa kondisi ENSO-netral kemungkinan bertahan hingga Mei–Juli 2026, dengan peluang El Nino meningkat sekitar 62 persen pada Juni–Agustus 2026.
Di Indonesia, dampak utama El Nino ini biasanya berupa penurunan curah hujan. Hal ini bisa menyebabkan berkurangnya air di waduk dan sungai, sumur mengering, gangguan irigasi, penurunan hasil pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Sementara itu, BRIN di dalam akun Instagram resminya menjelaskan bahwa saat El Nino terjadi, pembentukan awan dan hujan cenderung bergeser ke wilayah Samudra Pasifik.
Sementara itu, IOD positif menyebabkan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatera dan Jawa, sehingga memperkuat berkurangnya curah hujan.
Akibatnya, sebagian wilayah Indonesia berpotensi mengalami kemarau yang lebih panjang dan kering.
Wilayah selatan Indonesia, seperti Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara, diprediksi menjadi daerah yang paling terdampak.
Menurut BRIN, kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
Meskipun demikian, dampak fenomena ini tidak merata di seluruh Indonesia. Wilayah timur seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru masih berpotensi mengalami curah hujan yang relatif tinggi.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan posisi wilayah terhadap pusat pembentukan awan.
BRIN memprediksi fenomena El Nino dan IOD positif akan terjadi bersamaan pada periode musim kemarau, yakni sekitar April hingga Oktober 2026.
Dalam periode tersebut, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang ditimbulkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang