Krisis Energi Belum Usai, Harga BBM Diperkirakan Tetap Tinggi hingga 2027

Ilustrasi bahan bakar kendaraan.
Ilustrasi bahan bakar kendaraan.

Harga bensin di Amerika Serikat diperkirakan masih akan bertahan tinggi dan belum tentu kembali ke bawah US$3 per galon atau setara Rp51.000 per galon hingga 2027. Kondisi ini menjadi pukulan bagi pemerintahan Donald Trump yang sebelumnya menjanjikan penurunan harga energi secara drastis.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Energi AS Chris Wright. “Saya tidak tahu. Itu bisa terjadi akhir tahun ini. Bisa juga baru terjadi tahun depan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Selasa, 21 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jawaban itu menjadi sorotan karena bertolak belakang dengan janji kampanye Donald Trump pada Pilpres 2024 lalu. Saat itu, Trump bahkan berjanji akan menurunkan harga bensin hingga di bawah US$2 per galon atau sekitar Rp34.000 per galon.

Sebagaimana diketahui, dalam pidato kampanye pada September 2024, Trump menegaskan bahwa sektor energi akan menjadi kunci pemulihan ekonomi Amerika Serikat. “Energi akan membawa kita kembali bangkit,” kata Trump.

“Itu berarti kita akan menurunkan harga bensin hingga di bawah US$2 per galon, menurunkan harga segala hal mulai dari tarif listrik, bahan makanan, tiket pesawat, hingga biaya perumahan.”

Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya. Harga BBM melonjak tajam setelah Iran merespons serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel dengan menutup Selat Hormuz sebanyak dua kali.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia, tempat sebagian besar pasokan minyak mentah global melintas. Penutupan jalur ini langsung memicu lonjakan harga energi internasional.

Sebelum perang Iran dimulai, rata-rata harga bensin nasional di AS berada di level US$2,98 per galon atau sekitar Rp50.660. Namun pada akhir Maret, harga tersebut melonjak menjadi US$3,98 per galon atau setara Rp67.660.

Memasuki April 2026, rata-rata harga bensin bahkan stabil di atas US$4 per galon atau sekitar Rp68.000, memicu kekhawatiran luas terhadap kenaikan harga barang dan jasa lainnya.

Meski demikian, Chris Wright tetap mencoba menenangkan publik dengan menyebut harga kemungkinan telah mencapai titik tertinggi dan akan mulai turun. “Harga kemungkinan sudah mencapai puncaknya dan akan mulai turun,” katanya.

Ia juga menyebut jika perang Iran segera berakhir, harga energi akan ikut turun. “Harga di bawah US$3 per galon adalah sesuatu yang luar biasa jika disesuaikan dengan inflasi. Kita pernah mencapainya pada masa pemerintahan Trump, tetapi kita sudah lama tidak melihat angka itu dalam penyesuaian inflasi. Kita pasti akan kembali ke sana.”

Pernyataan ini berbeda dari komentarnya pada Maret lalu. Dalam wawancara dengan NBC pada 15 Maret 2026, Wright sempat mengatakan ada kemungkinan besar harga bensin akan turun di bawah US$3 per galon pada musim panas tahun ini.

“Ada kemungkinan yang sangat besar itu akan terjadi.”

Bahkan pada 8 Maret, ia juga menyebut lonjakan harga bensin hanya akan berlangsung singkat. “Dalam skenario terburuk, ini hanya berlangsung beberapa minggu, bukan berbulan-bulan.”

Kini, prediksi tersebut tampaknya jauh meleset. Lonjakan harga energi juga mulai memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintahan Trump. Survei NBC terhadap lebih dari 32.000 orang dewasa menunjukkan sebanyak 67 persen hingga 68 persen responden menyatakan tidak puas terhadap cara Trump menangani perang Iran serta masalah inflasi dan biaya hidup.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kenaikan harga bensin dinilai memberi dampak langsung terhadap pengeluaran masyarakat, mulai dari transportasi hingga harga kebutuhan pokok.

Situasi semakin memanas setelah pasukan AS menembaki dan menyita kapal kontainer berbendera Iran yang mencoba menembus blokade laut yang diberlakukan Washington. Konflik geopolitik yang berkepanjangan membuat pasar energi global semakin tidak stabil, dan masyarakat Amerika kini harus menghadapi kenyataan bahwa janji bensin murah tampaknya belum akan terwujud dalam waktu dekat.