Profil Nayato Fio Nuala, Sosok di Balik Banyak Film Horor Populer Indonesia
Industri perfilman Indonesia tengah berduka atas kepergian Nayato Fio Nuala, sutradara senior yang dikenal sebagai salah satu pembuat film paling produktif di Tanah Air. Nayato meninggal dunia pada Sabtu, 18 April 2026 di usia 58 tahun.
Kepergiannya meninggalkan jejak panjang dalam dunia hiburan Indonesia. Scroll untuk informasi selengkapnya...
Kabar duka ini turut memunculkan banyak kenangan dari para artis yang pernah bekerja bersamanya. Salah satunya datang dari Raffi Ahmad yang mengenang Nayato sebagai sosok penting dalam awal perjalanan kariernya di dunia hiburan.
Melalui unggahan Instagram pribadinya, Raffi menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam. Ia menyebut Nayato sebagai orang pertama yang membawanya masuk ke dunia entertainment saat masih berusia 13 tahun.
“Beliau adalah sosok Sutradara yang pertama kali mengajak saya masuk ke dunia entertainment / sinetron / Film, saat saya masih berusia 13 tahun... pertama kali saya shooting, pertama kali saya belajar, semua bersama beliau.”
Bagi Raffi, Nayato bukan hanya sutradara, tetapi juga mentor yang memberikan banyak pelajaran hidup dan membuka jalan kariernya di industri hiburan.
“Banyak kenangan, banyak pelajaran, dan begitu banyak kebaikan yang beliau tinggalkan. Sosok yang bukan hanya membuka jalan, tapi juga memberi makna dalam perjalanan hidup saya.”
Kepergian Nayato pun menjadi kehilangan besar bagi dunia hiburan Indonesia. Sosoknya dikenal luas sebagai pekerja keras dengan dedikasi tinggi terhadap dunia perfilman.
Profil Nayato Fio Nuala
Nayato Fio Nuala merupakan salah satu sutradara film Indonesia yang dikenal sangat produktif di industri hiburan Tanah Air. Ia lahir di Bireuen, Daerah Istimewa Aceh, pada 28 Februari 1968.
Selain menggunakan nama Nayato Fio Nuala, ia juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Koya Pagayo, Ian Jacobs, Pingkan Utari, hingga Ian Nguyen Lampa. Nama-nama tersebut kerap muncul dalam berbagai proyek film yang ia garap selama berkarier di dunia perfilman.
Ia menempuh pendidikan seni perfilman di Taiwan sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1996. Setelah pulang ke Tanah Air, Nayato mulai menyutradarai berbagai iklan dan sinetron televisi.
Karier film layar lebarnya dimulai pada tahun 2002 lewat film pertamanya berjudul The Soul. Sejak saat itu, namanya semakin dikenal luas dan ia menjadi salah satu sutradara paling aktif di Indonesia, khususnya dalam genre horor.
Banyak film yang ia hasilkan berasal dari genre horor, drama, hingga thriller. Produktivitasnya membuat Nayato dikenal sebagai salah satu sutradara dengan jumlah karya terbanyak di Indonesia.
Namanya sempat menjadi sorotan besar pada tahun 2006 saat film Ekskul yang ia sutradarai memenangkan Piala Citra kategori Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia. Namun kemenangan tersebut memicu kontroversi terkait penggunaan musik dalam film yang dinilai bermasalah dari sisi hak cipta.
Polemik itu membuat sejumlah pemenang lain mengembalikan Piala Citra sebagai bentuk protes terhadap keputusan juri. Akibatnya, gelar Sutradara Terbaik yang sempat diraih Nayato kemudian dicabut oleh BP2N melalui keputusan resmi pada Juni 2007.
Meski sempat diterpa kontroversi, kiprah Nayato di industri film tetap berlanjut. Ia terus aktif berkarya hingga akhir hayatnya dan tetap menjadi sosok penting dalam perkembangan perfilman Indonesia.
Sepanjang kariernya, Nayato dikenal sebagai salah satu sutradara paling produktif di Indonesia dengan puluhan judul film yang telah ia garap. Selain The Soul dan Ekskul, ia juga menyutradarai Cinta Pertama (2006), film drama romantis yang dibintangi Bunga Citra Lestari, Ben Joshua, dan Richard Kevin.
Nayato juga banyak menghasilkan film yang cukup populer di masanya, seperti Kereta Hantu Manggarai (2008), Virgin 2: Bukan Film Porno (2009), Affair (2010), hingga Hantu Jeruk Purut Reborn (2017). Beberapa karya lainnya seperti The Butterfly (2007), Heart 2 Heart (2010), dan Triangle: The Dark Side (2016) turut memperkuat namanya sebagai sutradara yang aktif dan konsisten berkarya.
Berdasarkan data Indonesian Film Center, Nayato tercatat telah menyutradarai lebih dari 70 film sepanjang kariernya dan menjadi salah satu sutradara dengan karya terbanyak di Indonesia.
Bagi banyak orang, Nayato juga figur yang berjasa besar dalam membentuk perjalanan industri film nasional. Ia bukan hanya dikenal karena jumlah karyanya yang melimpah, tetapi juga karena perannya dalam membuka jalan karier banyak artis muda.
Kepergian Nayato Fio Nuala menjadi kehilangan besar bagi dunia hiburan Tanah Air. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai sutradara produktif yang meninggalkan warisan panjang dalam perfilman Indonesia.