Kisah Mbappe, Bocah Rapuh Bondy yang Bisa Beri Indonesia Inspirasi

Jean-Claude Lafargue, Kylian Mbappe, Piala Dunia, Real Madrid, Kisah Mbappe, Bocah Rapuh Bondy yang Bisa Beri Indonesia Inspirasi

Pemain kelas dunia tak dibentuk dalam sekejap mata. Kepada KOMPAS.com Jean-Claude Lafargue, mengisahkan bagaimana Mbappe kecil tampak lemah dan tak segesit sekarang.

Jean-Claude Lafargue paham betul perkembangan Kylian Mbappe, juara Piala Dunia 2018 yang kini jadi bintang di Real Madrid.

Ketika Kylian Mbappe menempa diri di akademi kenamaan Perancis, Clairefontaine, Jean-Claude Lafargue bertugas sebagai pelatih di sana.

Ya, Jean-Claude Lafargue, pernah menjabat sebagai Direktur Pengawas sekaligus pelatih di INF (Institut National du Football) Clairefontaine.

Rapuhnya Mbappe Kecil

Kini, Lafargue yang semasa bermain pernah membela Paris FC, merupakan Kepala Internasional Federasi Sepak Bola Perancis, FFF.

Ia tengah berada di Indonesia untuk mendorong perkembangan sepak bola putri, yang jadi bagian dari kerja sama antarar FFF dan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia).

"Dia bukanlah Mbappe yang kita lihat saat ini," tutur Jean-Claude Lafargue mengenang momen ketika melatih Kylian Mbappe.

"Dia kecil, agak lemah, seperti yang lainnya. Sebab, kami punya standar pemantauan di tempat kami, kami melihat ke masa depan," ujar pria kelahiran Creteil 66 tahun silam itu, kepada KOMPAS.com.

Jean-Claude Lafargue, Kylian Mbappe, Piala Dunia, Real Madrid, Kisah Mbappe, Bocah Rapuh Bondy yang Bisa Beri Indonesia Inspirasi

Kepala Internasional Federasi Sepak Bola Perancis FFF, Jean-Claude Lafargue, kala berbicara kepada KOMPAS.com di IFI Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Tetapi, Lafarque sadar di balik Mbappe yang masih rapuh itu ada bakat besar.

Potensi itu bisa dilihat sekaligus ditunjang melalui data-data dari pemain akademi yang datang silih berganti di Clairefontaine selama bertahun-tahun.

"Jadi, idenya adalah semua orang bisa datang, tetapi kami mencoba untuk memproyeksikan masa depan," katanya menjelaskan.

"Kami memiliki data untuk melakukannya. Kami mulai mengumpulkan banyak data sebab kami punya banyak pemain yang telah mencapai level tersebut," tutur Jean-Claude Lafargue lagi.

Kecerdasan Penting

Lingkungan dan pendidikan Clairefontaine melengkapi apa yang sudah dimiliki oleh Kylian Mbappe, bocah yang berasal dari pinggiran Paris, persisnya Bondy. 

""Kami menyadari pemain cerdas, pemain yang tentu saja punya kualitas. Dia cepat, tetapi dia tak cepat seperti yang kita lihat sekarang," ucap Jean-Claude Lafargues.

"Dia cepat pada 10 atau 20 meter tapi tidak lebih dari itu, sebab dia masih sangat lemah, masih sangat muda, secara morfologis" tuturnya menjelaskan.

"Tetapi, satu kualitas yang luar biasa, kualitas yang setara, adalah kecerdasan pemain. Penting untuk melatih kecerdasan pemain," kata pelatih yang juga pernah bekerja sama bersama para juara dunia lain semodel Alphonse Areola dan Blaise Matuidi tersebut.

Pendidikan di Clairefontaine tak cuma menuntut pemain untuk menjadi mahir, tetapi juga kemampuan untuk menyesuaikan diri di lingkungan permainan sepak bola yang begitu dinamis.

"Sebab, sepak bola level tinggi adalah tentang menyelesaikan masalah. Untuk menyelesaikan masalah, perlu kecerdasan," kata Lafargue.

"Metode pengajarannya adalah tentang menciptakan situasi di mana pemain tidak hanya akan mengulangi hal-hal yang sama, tetapi akan dipaksa untuk berpikir. Karena besok mereka harus terus beradaptasi," tuturnya kepada KOMPAS.com.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang