Daftar Negara Paling Tidak Bahagia di 2026, Indonesia Masuk?
Laporan terbaru tentang kebahagiaan global kembali mengungkap realitas pahit yang dialami sejumlah negara di dunia. Dalam World Happiness Report 2026, daftar negara dengan tingkat kebahagiaan terendah menunjukkan tantangan yang jauh lebih kompleks dari sekadar masalah ekonomi.
Indeks tersebut mengukur kepuasan hidup secara keseluruhan dengan mempertimbangkan berbagai indikator sosial seperti kesehatan, stabilitas, dukungan sosial, hingga kondisi ekonomi. Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah negara masih terjebak dalam krisis berkepanjangan yang memengaruhi kualitas hidup masyarakatnya.
Data terbaru memperlihatkan banyak negara mencatat skor di bawah angka 4, yang mengindikasikan tingkat kesejahteraan yang rendah. Para ahli menilai bahwa peringkat ini lebih mencerminkan realitas kehidupan sehari-hari dibandingkan klaim kebijakan pemerintah.
Ketimpangan terlihat jelas, di mana beberapa negara menunjukkan ketahanan, sementara lainnya terus mengalami penurunan tanpa tanda pemulihan cepat.
Berikut adalah daftar 10 negara paling tidak bahagia di dunia, sebagaimana dilansir dari Times of India, Kamis, 9 April 2026.
1. Afghanistan – skor 1,446
2. Sierra Leone – skor 3,251
3. Malawi – skor 3,284
4. Zimbabwe – skor 3,346
5. Botswana – skor 3,464
6. Yaman – skor 3,532
7. Lebanon – skor 3,723
8. Republik Demokratik Kongo – skor 3,761
9. Mesir – skor 3,862
10. Tanzania – skor 3,902
Afghanistan menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan terendah di dunia, menempati posisi 147 dengan skor hanya 1,446. Angka ini mencolok karena juga mencatat penurunan terbesar dalam daftar, yaitu minus 2,594.
Kondisi kehidupan di negara tersebut dilaporkan sangat sulit, dipengaruhi oleh runtuhnya ekonomi, ketidakpastian politik, serta keterbatasan akses terhadap layanan dasar.
Sierra Leone yang berada di posisi kedua terbawah mencatat skor 3,251 dengan penurunan minus 1,067. Negara ini masih berjuang untuk pulih dari krisis masa lalu, sementara sistem publik seperti kesehatan dan infrastruktur menghadapi tekanan besar.
Malawi dan Zimbabwe juga menunjukkan kondisi yang tidak jauh berbeda. Malawi mengalami tekanan akibat keterbatasan ekonomi dan gangguan iklim, sedangkan Zimbabwe menghadapi volatilitas ekonomi dan ketidakstabilan mata uang yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Botswana, meski relatif lebih stabil dibanding negara lain dalam daftar, tetap mencatat penurunan skor. Hal ini menunjukkan adanya tekanan baru, seperti ketimpangan ekonomi dan perubahan struktur ekonomi yang mulai terasa.
Sementara itu, Yaman dan Lebanon mencerminkan dampak konflik berkepanjangan dan krisis politik. Lebanon, misalnya, mengalami penurunan signifikan sebesar minus 1,208, mencerminkan krisis finansial dan menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Republik Demokratik Kongo menghadapi tantangan berbeda, yakni ketimpangan pembangunan meskipun memiliki sumber daya alam melimpah. Konflik di beberapa wilayah serta tata kelola yang lemah menjadi faktor utama rendahnya tingkat kebahagiaan.
Mesir juga masuk dalam daftar dengan skor 3,862. Meski penurunannya tidak sebesar negara lain, tekanan inflasi dan biaya hidup tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas hidup.
Di antara negara-negara tersebut, Tanzania menjadi satu-satunya yang mencatat peningkatan, meski tetap berada di kelompok terbawah. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan, meskipun masih terbatas.
Secara keseluruhan, laporan tersebut menegaskan bahwa kebahagiaan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh stabilitas sosial, akses layanan dasar, serta rasa aman masyarakat. Negara-negara dengan konflik berkepanjangan, krisis ekonomi, dan lemahnya sistem sosial cenderung tertinggal dalam indeks kebahagiaan global.
Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya meningkatkan kesejahteraan tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan pendekatan menyeluruh yang mencakup perbaikan sistem politik, ekonomi, hingga dukungan sosial agar kualitas hidup masyarakat benar-benar meningkat.
Sebagai catatan, Indonesia tidak termasuk dalam daftar negara paling tidak bahagia 2026 versi World Happiness Report. Meski demikian, laporan ini menegaskan bahwa tingkat kebahagiaan sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, stabilitas sosial, kesehatan mental, serta kualitas dukungan masyarakat.