Gangguan Pasokan Minyak Dunia Bawa Berkah bagi China

Ilustrasi bendera China
Ilustrasi bendera China

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah membawa dampak tak terduga bagi ekonomi China. Di tengah tekanan biaya energi yang meningkat, sektor industri Negeri Tirai Bambu mencatat lonjakan laba dua digit ditopang kuatnya ekspor dan booming teknologi.

Data Biro Statistik Nasional China (National Bureau of Statistics) menunjukkan, laba perusahaan industri China melonjak 15,8 persen secara year on year (yoy) pada Maret 2026. Angka ini menjadi pertumbuhan tercepat dalam enam bulan terakhir dan lebih tinggi dibandingkan kenaikan dua bulan pertama tahun ini sebesar 15,2 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Secara kumulatif, laba perusahaan-perusahaan di China pada kuartal I-2026 tumbuh 15,5 persen. Pertumbuhan menjadi kenaikan awal tahun terbaik sejak 2017, tidak termasuk lonjakan pada pandemi Covid-19 tahhun 2021.

Mengutip CNBC Internasional, Kepala Ahli Statistik NBS, Yu Weining, menyoroti sektor manufaktur berteknologi tinggi dan peralatan menjadi motor utama pertumbuhan. Laba di sektor ini masing-masing melonjak 21 persen dan 47,4 persen pada kuartal pertama tahun ini. 

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

Booming kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor turut mendorong lonjakan kinerja di berbagai subsektor. Produsen serat optik mencatat lonjakan laba hingga 336,8 persen, sementara industri optoelektronik dan perangkat display masing-masing tumbuh 43 persen dan 36,3 persen.

Permintaan terhadap produk berbasis teknologi cerdas juga mengerek laba industri baru, seperti produsen drone yang melonjak 53,8 persen. Sektor bahan baku ikut terdongkrak dengan kenaikan laba mencapai 77,9 persen seiring kilang minyak kembali mencatatkan keuntungan.

Ekonom Morgan Stanley, Robin Xing, menilai struktur energi China yang bertumpu pada batu bara dan energi terbarukan. Ini memberikan bantalan penting di tengah lonjakan harga minyak global.

“China berada dalam posisi yang relatif lebih baik dan berpotensi merebut pangsa pasar ekspor di tengah guncangan energi yang cukup besar namun tidak ekstrem,” tutur Xing. 

Pandangan senada disampaikan Presiden dan Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, yang menilai kuatnya ekspor menjadi salah satu faktor utama pendorong kinerja industri. Namun, ia mengingatkan bahwa tekanan belum sepenuhnya mereda. 

“Konflik di Timur Tengah tetap akan membebani ekonomi pada kuartal kedua, karena harga energi yang lebih tinggi dan melemahnya permintaan global menjadi tantangan bagi eksportir,” ucap Zhang.

Seperti diketahui, harga minyak mentah global melonjak tajam setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memanas. Harga minyak Brent tercatat naik sekitar 48 persen sejak akhir Februari 2026 yang memicu kenaikan biaya bahan baku seperti kimia, serat, dan plastik di seluruh rantai pasok global.

Meski demikian, sekitar 70 persen sektor industri di China dilaporkan mengalami guncangan biaya yang lebih kecil dibandingkan perusahaan global. Hal ini membuat industri domestik relatif lebih tahan terhadap tekanan eksternal.

Di sisi lain, ekonomi China masih menghadapi tantangan dari melemahnya permintaan domestik, krisis properti yang berkepanjangan, serta ketatnya persaingan harga di berbagai sektor.

Meski begitu, kenaikan harga logam dan upaya pemerintah menekan kelebihan kapasitas produksi mulai membantu meredakan tekanan deflasi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Indeks harga produsen (PPI) China tumbuh positif pada Maret 2026 yang menandai tren deflasi terpanjang dalam beberapa dekade. 

Morgan Stanley memperkirakan efek inflasi yang moderat akan mendorong indeks harga produsen China naik 1,2 persen tahun ini, setelah penurunan 2,6 persen tahun 2025. Sementara itu, inflasi China diperkirakan naik 0,8 persen secara year on year dibandingkan dengan angka yang stagnan tahun lalu.