Ukraina Ancam Bakal Beri Sanksi ke Israel, Ada Apa Sebenarnya?

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy

Ukraina mengecam akan memberi sanksi terhadap Israel. Tindakan ini dilakukan lantaran Ukraina menuduh Israel ’tutup mata’ terhadap impor gandum yang disebutnya telah dicuri oleh Rusia dari wilayah Ukraina. Ancaman sanski ini untuk Israel ini disampaikan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy di akun X miliknya.

“Kapal lain yang membawa gandum semacam itu telah tiba di pelabuhan Israel dan bersiap untuk membongkar muatan. Ini bukan dan tidak bisa dianggap sebagai bisnis yang sah. Otoritas Israel tidak mungkin tidak tahu kapal apa saja yang masuk ke pelabuhan mereka dan apa muatannya,” tulis Zelenskyy di platform X pada Selasa pagi waktu setempat, seperti dikutip dari laman Time, Rabu 29 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ukraina, kata Zelenskyy saat ini tengah menyiapkan sejumlah sanksi dengan menargetkan pihak-pihak yang mengangkut gandum tersebut serta individu dan entitas hukum yang mencoba mengambil keuntungan dari skema ini. Ukraina juga telah memanggil duta besar Israel ke kementerian luar negeri terkait pengiriman tersebut.

“Kami berharap otoritas Israel menghormati Ukraina dan tidak melakukan tindakan yang merusak hubungan bilateral kami,” ujarnya.

Pemerintah Kyiv menganggap semua gandum yang diambil dari wilayah Ukraina yang diduduki Rusia sejak invasi 2022 termasuk Krimea sebagai barang curian. Ukraina telah berulang kali memprotes praktik ini ke berbagai negara, dengan alasan bahwa hasil penjualannya digunakan untuk mendanai perang Rusia.

Menurut Kyiv, Rusia mengirim gandum tersebut melalui armada bayangan ke sejumlah negara lain yang juga menghadapi sanksi internasional, seperti Venezuela dan Iran. Sementara itu, Rusia mengklaim gandum tersebut berasal dari wilayah baru, meski secara internasional wilayah itu masih diakui sebagai bagian dari Ukraina yang diduduki.

Pernyataan Zelenskyy ini muncul setelah pejabat Ukraina dan Israel saling berbalas pernyataan di media sosial pada Senin. Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menulis bahwa pengiriman gandum curian ini seharusnya tidak merusak hubungan kedua negara.

“Sulit memahami kurangnya respons Israel terhadap permintaan sah Ukraina terkait kapal sebelumnya yang mengirim barang curian ke Haifa,” tulisnya.

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar kemudian membalas, menyatakan bahwa bukti soal gandum curian belum pernah disampaikan.

“Anda bahkan tidak mengajukan permintaan bantuan hukum sebelum membawa isu ini ke media dan jejaring sosial,” ujarnya.

Pengiriman yang dimaksud adalah kapal kargo berbendera Panama bernama Panormitis, yang bersandar di pelabuhan Haifa pada 26 April, menurut layanan pemantauan lalu lintas laut. Kapal tersebut membawa ribuan ton gandum dan jelai, menurut jurnalis Ukraina Kateryna Yaresko.

Investigasi yang dirilis pada Minggu oleh surat kabar Israel Haaretz mengungkapkan bahwa setidaknya empat pengiriman lain gandum curian yakni dari wilayah Ukraina yang diduduki telah dibongkar di Israel sepanjang tahun ini.

Hubungan Ukraina–Israel Memang Sudah Lama Tegang

Perselisihan soal gandum ini hanyalah salah satu dari serangkaian ketegangan dalam hubungan diplomatik antara Ukraina dan Israel. Zelenskyy sebelumnya juga secara terbuka mengkritik Israel karena dianggap enggan memberikan dukungan nyata kepada Ukraina di tengah invasi Rusia, sementara Israel berusaha menjaga hubungan dengan kedua pihak.

Ukraina memang menyatakan dukungan terhadap serangan bersama Israel dan AS terhadap Iran. Namun, konflik tersebut juga berdampak langsung pada kemampuan Ukraina mempertahankan diri dari serangan rudal Rusia, sekaligus menguntungkan industri minyak Moskow.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ukraina sendiri sudah menghadapi kekurangan sistem pertahanan udara buatan AS seperti Patriot air defense system, yang setiap unit amunisinya bernilai sekitar 4 juta dolar AS dan digunakan untuk menembak jatuh rudal balistik serta drone. Ketika AS ikut membantu Israel dalam serangan terhadap Iran pada akhir Februari, sistem yang sama juga digunakan untuk menghadapi serangan Iran ke pangkalan AS dan sekutunya di Timur Tengah.

“Jika perang ini berlangsung lebih lama, maka akan semakin sedikit senjata untuk Ukraina. Kami sudah mengalami kekurangan seperti ini; situasinya tidak boleh menjadi lebih buruk,”kata Zelenskyy dalam wawancara dengan televisi Jerman awal April lalu, saat gencatan senjata sementara mulai berlaku.