Tiket Pesawat Berpotensi Naik hingga 35 Persen Imbas Harga Avtur, Industri Wisata Ikut Terdampak
Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah mulai berdampak pada industri penerbangan.
Kenaikan tersebut mendorong harga avtur meningkat signifikan dan berpotensi membuat tarif tiket pesawat ikut naik dalam waktu dekat.
Berdasarkan proyeksi pelaku industri, harga tiket pesawat dapat meningkat sekitar 30 hingga 35 persen seiring kenaikan biaya bahan bakar yang menjadi komponen utama operasional maskapai.
Kenaikan Avtur Tekan Biaya Operasional Maskapai
Penyesuaian harga avtur yang berlaku sejak awal April 2026 menunjukkan kenaikan tajam, baik untuk penerbangan domestik maupun internasional.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi maskapai karena biaya bahan bakar mengambil porsi besar dalam struktur biaya penerbangan, yakni sekitar 40 persen.
Dengan meningkatnya beban operasional, maskapai perlu menyesuaikan sejumlah komponen tarif, termasuk biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) dan batas tarif penerbangan.
Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) Denon Prawiraatmadja menilai langkah penyesuaian tersebut penting agar operasional penerbangan tetap berjalan.
"Penyesuaian fuel surcharge dan tarif diperlukan agar maskapai tetap dapat menjaga keberlangsungan operasional serta aspek keselamatan penerbangan," jelasnya, dikutip dari Kompas.id, Kamis (2/4/2026).
Calon Penumpang Mulai Menahan Rencana Perjalanan
Kenaikan harga tiket yang mulai terasa mendorong sebagian masyarakat untuk menunda perjalanan.
Sejumlah calon penumpang memilih menunggu perkembangan harga sebelum memutuskan membeli tiket, terutama untuk perjalanan jarak jauh atau luar negeri.
Seorang karyawan asal Bandung, Anna (29), mengaku mengurungkan rencana liburannya dalam waktu dekat karena mempertimbangkan ketidakpastian harga tiket.
"Dengan kondisi seperti ini, saya memilih menunda pembelian tiket dulu. Saya masih melihat perkembangan ke depan," kata dia.
Sebagai alternatif, ia mempertimbangkan perjalanan menggunakan moda transportasi lain yang dinilai lebih terjangkau.
Industri Wisata Ikut Terdampak
Dampak kenaikan harga tiket juga dirasakan pelaku usaha di sektor pariwisata.
Permintaan perjalanan dilaporkan mulai menurun karena masyarakat lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
Pelaku usaha perjalanan, Ranisa Sarah (29), mengatakan pihaknya telah menyesuaikan biaya paket wisata, terutama pada komponen transportasi.
Menurut dia, kenaikan biaya transportasi membuat harga paket perjalanan ikut terdorong naik.
"Kami sudah melakukan penyesuaian sejak awal, terutama di sektor transportasi, karena kenaikannya cukup terasa," paparnya.
Pemerintah Didesak Evaluasi Tarif Penerbangan
Di tengah tekanan biaya yang meningkat, pelaku industri mendorong pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan tarif penerbangan.
Penyesuaian terhadap fuel surcharge dan tarif batas atas (TBA) dinilai perlu agar lebih sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini.
Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (Apjapi) Alvin Lie menilai sistem tarif yang berlaku saat ini belum cukup fleksibel dalam merespons dinamika pasar.
Menurut dia, harga tiket domestik cenderung berada di kisaran batas atas sehingga kurang mencerminkan kondisi permintaan.
Kenaikan harga tiket pesawat tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor lain.
Biaya logistik yang meningkat dapat berimbas pada kenaikan harga barang dan jasa.
Di tengah ketidakpastian global, masyarakat pun mulai menahan pengeluaran, termasuk untuk perjalanan udara.
Jika kondisi ini berlanjut, tekanan terhadap industri penerbangan dan pariwisata diperkirakan akan semakin besar dalam beberapa waktu ke depan.
Artikel ini telah tayang di Kompas.id dengan judul Harga Tiket Pesawat Berpotensi Naik, Masyarakat Ubah Rencana Perjalanan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang