Kata Pebulu Tangkis Prancis Usai Satu Grup dengan Indonesia di Piala Thomas 2026
Undian fase grup Piala Thomas 2026 menempatkan Prancis dalam situasi yang tidak mudah. Mereka harus bersaing di Grup D bersama Indonesia, Thailand, dan Aljazair. Secara kekuatan, Indonesia dan Thailand jelas bukan lawan yang ringan. Namun, Prancis datang ke Horsens, Denmark, bukan sebagai tim pelengkap, melainkan sebagai juara Eropa yang sedang percaya diri.
Status tersebut bukan sekadar label. Pada pertengahan Februari 2026, Prancis sukses menjuarai Kejuaraan Beregu Eropa setelah mengalahkan Denmark di final. Gelar itu menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah bulu tangkis Prancis dan mengubah mentalitas tim menjelang Piala Thomas.
Salah satu tunggal andalan Prancis, Toma Junior Popov, mengakui bahwa hasil undian grup memang berat, tetapi ia menegaskan bahwa di level seperti Piala Thomas, tidak ada undian yang benar benar mudah.
“Kami pernah mencapai perempat final pada 2018, tetapi untuk pertama kalinya kami berhasil menjadi juara Eropa. Hasil tersebut memberi kami keyakinan bahwa kami mampu bersaing dengan Denmark, sekaligus menumbuhkan harapan yang lebih tinggi,” kata Popov dalam wawancara dengan BWF TV.
Popov juga menegaskan bahwa timnya tidak ingin terjebak dalam pemikiran soal grup berat atau ringan. Menurutnya, di turnamen beregu, yang paling penting adalah kesiapan mental dan kekompakan tim.
“Tidak ada undian yang bagus, tidak ada undian yang buruk. Setiap pertandingan harus dihadapi secara profesional dengan mentalitas yang kuat, dan saya menilai kami memiliki tim yang cukup solid untuk bersaing dengan para pemain terbaik,” tambah Popov.
Keyakinan Prancis bukan tanpa alasan. Selain Popov, mereka juga memiliki tunggal muda Alex Lanier yang sedang naik daun. Lanier bahkan menilai atmosfer turnamen beregu sangat berbeda dibandingkan turnamen individu karena ada tanggung jawab membawa nama tim.
Juara Orléans Masters 2025 dan 2026 itu mengakui bahwa performanya selama ini memang lebih stabil di turnamen individu. Namun, bermain dalam tim justru memberinya motivasi tambahan.
“Namun, bersama tim ini, saya merasa sangat nyaman dan percaya diri. Saya juga menikmati bermain untuk tim serta berada di lapangan bersama rekan-rekan, sehingga jelas menghadirkan perasaan yang berbeda,” ujar Lanier.
Lanier juga menekankan bahwa kekuatan terbesar Prancis saat ini bukan hanya terletak pada kemampuan individu, tetapi juga pada kekompakan tim yang mereka bangun sejak menjuarai Kejuaraan Beregu Eropa. Ia menjelaskan bahwa para pemain Prancis selalu saling mendukung sepenuhnya, baik saat meraih kemenangan maupun ketika mengalami kekalahan. Menurutnya, dukungan dan kebersamaan di dalam tim itulah yang menjadi kekuatan utama Prancis, sekaligus membuat para pemain menikmati setiap momen tampil di ajang beregu.
Sementara itu, pemain ganda Thom Gicquel memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Ia menilai undian yang menempatkan Prancis satu grup dengan Indonesia dan Thailand memang bukan hasil yang ideal. Meski begitu, ia menegaskan bahwa pengalaman menjadi juara Eropa membuat timnya semakin percaya diri menghadapi tekanan di Piala Thomas.
Menurut Gicquel, kebersamaan tim menjadi modal paling penting bagi Prancis untuk mencoba membuat kejutan di Horsens.
“Kami sangat antusias untuk tampil di sana dan tidak sabar bermain bersama sebagai satu tim. Kami datang sebagai rekan sekaligus teman, dan meski akan menjadi ajang yang tidak mudah, kami yakin ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan,” ujarnya.
Melihat komposisi Grup D, Indonesia tetap menjadi unggulan utama, Thailand berpotensi menjadi pesaing kuat, sementara Prancis berstatus kuda hitam yang bisa menjadi ancaman serius. Dengan status juara Eropa dan skuad yang sedang berada dalam momentum positif, Prancis jelas bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata.