Amerika Ajukan 15 Syarat Damai, Iran Balas 5 Tuntutan Keras

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Proposal 15 Poin AS: Nuklir hingga Selat Hormuz, Iran: AS Bernegosiasi dengan dirinya sendiri, Balasan Iran: 5 Syarat Kunci, Negosiasi di Ujung Ketidakpastian
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

 Ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda meski upaya diplomasi terus digencarkan. Di tengah konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, kedua negara kini justru terlibat dalam “perang syarat” yang memperlihatkan betapa lebarnya jurang perbedaan di antara mereka.

Pemerintahan Donald Trump dilaporkan telah mengirimkan proposal damai berisi 15 poin kepada Teheran melalui jalur tidak langsung, termasuk lewat Pakistan. Proposal ini digadang-gadang sebagai upaya serius Washington untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang stabilitas kawasan dan memicu lonjakan harga energi global. Namun, respons Iran menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih terjal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Proposal 15 Poin AS: Nuklir hingga Selat Hormuz

Sejumlah laporan media internasional mengungkap isi utama proposal tersebut. Dalam laporan The Washington Post, Amerika Serikat meminta Iran untuk membongkar stok uranium yang diperkaya, menghentikan seluruh aktivitas pengayaan, serta membatasi program rudal balistiknya.

Tak hanya itu, Teheran juga diminta menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan seperti Hezbollah, Houthi, dan Hamas, itu merupakan isu yang selama ini menjadi perhatian utama Washington.

Laporan Reuters juga menyebut proposal tersebut mencakup pemindahan uranium yang telah diperkaya keluar dari Iran, serta penghentian dukungan terhadap jaringan proksi regional.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat menawarkan pelonggaran sanksi hingga kerja sama nuklir sipil. Bahkan, ada wacana gencatan senjata sementara selama 30 hari untuk membuka ruang negosiasi lebih lanjut.

Presiden Donald Trump sendiri mengklaim bahwa kedua pihak telah mencapai “kemajuan besar” dalam pembicaraan, meski Iran secara terbuka membantah adanya negosiasi langsung.

Iran: AS Bernegosiasi dengan dirinya sendiri

Alih-alih menyambut, Iran justru menilai proposal tersebut terlalu berat. Seorang sumber diplomatik dalam laporan Al Jazeera menyebut rencana 15 poin itu sebagai “maksimalis dan tidak masuk akal”, sehingga Teheran keberatan terhadap tuntutan Washington itu.

Bahkan, pernyataan keras juga datang dari militer Iran. Juru bicara militer Ebrahim Zolfaqari secara terbuka mengejek Amerika Serikat dengan menyebut Washington seolah “bernegosiasi dengan dirinya sendiri.” Sindiran ini menggambarkan rendahnya kepercayaan Iran terhadap proses diplomasi yang sedang berlangsung, terutama setelah konflik militer tetap berlanjut di lapangan.

Juru bicara militer Ebrahim Zolfaqari

Balasan Iran: 5 Syarat Kunci

Sebagai respons, Iran mengajukan lima tuntutan utama yang menunjukkan posisi tawarnya yakni:

  1. Penghentian total agresi militer
  2. Jaminan perang tidak akan kembali terjadi
  3. Pembayaran ganti rugi atas kerusakan akibat konflik
  4. Penghentian konflik di seluruh front, termasuk sekutu Iran
  5. Pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz

Teheran juga menegaskan bahwa akhir perang tidak akan ditentukan oleh Washington. “Iran akan mengakhiri perang ketika mereka memutuskan sendiri,” demikian pesan yang disampaikan melalui media pemerintah.

Meski komunikasi terus berlangsung melalui mediator, situasi di lapangan justru menunjukkan eskalasi. Amerika Serikat dilaporkan tetap menyiapkan opsi militer, termasuk pengerahan pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, Iran masih melanjutkan operasi militernya, sembari menegaskan tidak ada negosiasi langsung dengan Washington, hanya pertukaran pesan melalui pihak ketiga. Bahkan, hingga kini belum ada kepastian siapa yang benar-benar mewakili Iran dalam pembicaraan, atau sejauh mana otoritas mereka dalam mengambil keputusan strategis.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Negosiasi di Ujung Ketidakpastian

Upaya diplomasi yang dimediasi oleh negara-negara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir memang membuka peluang dialog. Namun, perbedaan mendasar antara proposal 15 poin dari Amerika Serikat dan lima tuntutan Iran menunjukkan bahwa kesepakatan masih jauh dari jangkauan. Di satu sisi, Washington mendorong pembatasan besar terhadap kekuatan militer dan nuklir Iran. Di sisi lain, Teheran menuntut jaminan kedaulatan dan kompensasi atas kerugian perang.