Iran Mengamuk! 100 Target Militer di Tel Aviv Dihantam Rudal, Balas Dendam Kematian Larijani
Iran meningkatkan serangan terhadap aset-aset milik Amerika Serikat di Timur Tengah dan Israel pada Rabu. Serangan ini diluncurkan sebagai aksi balasan atas tewasnya kepala keamanan negara itu, Ali Larijani, dalam serangan Selasa kemarin.
Korps Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan menyatakan bahwa rudal-rudal mereka telah menghantam lebih dari 100 target militer dan keamanan di wilayah inti Israel sebagai bentuk balas dendam atas kematian Larijani, putranya, dan seorang ajudan, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Fars dikutip dari laman CNBC Internasional, Rabu 18 Maret 2026.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi kematian Ali Larijani, bersama putranya Morteza Larijani, kepala kantornya Alireza Bayat, serta sejumlah pengawal, seperti dilaporkan Associated Press.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera yang ditayangkan pada Selasa kemarin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel belum menyadari bahwa pemerintahan Iran tidak bergantung pada satu sosok saja.
“Keberadaan atau ketiadaan satu orang tidak memengaruhi struktur ini,” ujarnya.
Garda Revolusi Iran juga melancarkan serangan gabungan menggunakan drone dan rudal ke Tel Aviv serta sejumlah wilayah di Israel bagian tengah. Dua orang dilaporkan tewas di dekat Tel Aviv akibat serangan rudal Iran, menurut petugas darurat Israel pada Rabu pagi.
Iran juga meluncurkan beberapa drone bermuatan bahan peledak ke Kedutaan Besar AS di Baghdad, yang memicu sirene dan ledakan di sekitar kompleks diplomatik, menurut laporan Reuters. Secara terpisah, Teheran juga menembakkan proyektil di dekat pangkalan udara Australia di Uni Emirat Arab, menurut Perdana Menteri Australia Anthony Albanese tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.
Rangkaian serangan ini terjadi setelah Israel menewaskan Larijani, yang menjabat sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, serta Gholamreza Soleimani, pemimpin milisi kuat yang bersekutu dengan Garda Revolusi, dalam serangan udara mematikan pada Selasa.
Ketegangan di Timur Tengah terus meluas sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, tanpa tanda-tanda penurunan eskalasi. Suara ledakan juga terdengar di Doha pada Rabu pagi, menurut Reuters.
BMI, unit riset di bawah Fitch Solutions, menilai situasi ini kemungkinan akan berkembang menjadi eskalasi yang besar, mengingat meningkatnya aksi militer di kawasan. Mereka juga memperingatkan kemungkinan Teheran akan mengerahkan kelompok Houthi, organisasi militer berbasis di Yaman yang didukung Iran, jika kemampuan serangan Iran melemah dan jika ingin meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat.
Langkah eskalasi seperti itu, menurut para analis, akan menghalangi Trump untuk mengklaim kemenangan serta mendorong Amerika Serikat dan sekutunya untuk melanjutkan kampanye dengan tujuan menggulingkan rezim dan menghilangkan ancaman yang ada untuk selamanya.