Pemain Indonesia dalam Masalah, Nathan Tjoe-A-On Diadukan ke KNVB
Kontroversi status WNI yang menimpa Dean James di Liga Belanda kini merembet ke pemain Timnas Indonesia lainnya yang berkarier di Negeri Kincir Angin. Kali ini, nama Nathan Tjoe-A-On ikut terseret dalam polemik tersebut.
Klub kasta kedua Liga Belanda, TOP Oss, secara resmi melaporkan Nathan ke KNVB dengan tudingan berstatus sebagai pemain ilegal saat membela Willem II.
Nathan dituding tidak sah bermain karena berstatus sebagai pemain internasional Indonesia. Laporan tersebut disampaikan media Belanda Brabants Dagblad pada Selasa (24/3/2026) malam WIB.
"TOP Oss mengikuti perkembangan dalam sepak bola profesional dan telah meminta KNVB, dalam jangka waktu yang ditentukan, untuk menyelidiki pertandingan TOP Oss - Willem II pada 13 Maret 2026," demikian pernyataan klub secara tertulis dikutip dari Brabants Dagblad.
"Berdasarkan informasi yang tersedia, terdapat keraguan mengenai kelayakan seorang pemain Willem II," imbuhnya.
TOP Oss bahkan meminta KNVB untuk mengulang pertandingan melawan Willem II yang sudah berlangsung 11 hari sebelumnya. Pada laga yang digelar 13 Maret 2026 di Stadion Frans Hessen, Willem II menang dengan skor 3-1 dan Nathan tampil penuh selama 90 menit.
Namun, laporan tersebut berpotensi tidak ditanggapi KNVB karena melewati batas waktu pengajuan protes, yakni delapan hari setelah pertandingan. Meski demikian, pihak klub tetap siap menunggu proses lebih lanjut.
"Periode tanggapan resmi KNVB selama delapan hari memaksa klub untuk menanggapi, jika tidak, TOP Oss akan menunggu lebih lama," bunyi pernyataan resmi klub.
Sementara itu, pihak Willem II memilih tidak banyak berkomentar dan menyerahkan sepenuhnya proses kepada federasi.
“Willem II mengetahui masalah ini dan telah meninjau berkas tersebut dengan cermat. Klub memberikan kerja sama penuh dalam penanganan lebih lanjut sesuai prosedur KNVB yang berlaku. Karena ini menyangkut prosedur yang sedang berlangsung, kami tidak akan ikut serta dalam spekulasi atau asumsi," tulis pernyataan resmi Willem II.
KNVB sendiri mengonfirmasi bahwa kasus ini sedang dipelajari secara mendalam karena tergolong kompleks.
"Masalah ini tentu saja sedang dipelajari dengan cermat. Ini menyangkut kasus yang kompleks dengan banyak dimensi. Itu membutuhkan waktu," kata pihak KNVB.
Meski memiliki persoalan yang sama terkait izin kerja pemain non-Uni Eropa, kasus Dean James dan Nathan Tjoe-A-On ternyata memiliki alur berbeda.
Dean James menandatangani kontrak baru bersama Go Ahead Eagles pada Januari 2025, dua bulan sebelum menjadi Warga Negara Indonesia. Situasi ini membuat klubnya yakin Dean masih sah sebagai pemain dengan izin kerja Uni Eropa.
Sedangkan Nathan Tjoe-A-On bergabung dengan Willem II setelah kontraknya bersama Swansea City berakhir pada awal musim 2025/2026. Saat menandatangani kontrak dengan Willem II, Nathan sudah berstatus WNI dan telah memiliki 11 caps bersama Timnas Indonesia.
Menariknya, Nathan juga masih bermain penuh saat Willem II menang 5-0 di kandang MVV Maastricht pada 22 Maret 2026 sebelum bergabung dengan Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026.
Meski polemik semakin panas, dewan kompetisi profesional Belanda memberi sinyal bahwa hasil pertandingan tidak akan diubah atau diulang.
Direktur Eredivisie CV, Jan de Jong, menegaskan semua pertandingan yang sudah dimainkan tetap sah dan hasilnya tidak akan berubah.
"Dewan kompetisi bermaksud untuk menganggap semua pertandingan yang telah dimainkan sejauh ini sebagai pertandingan yang telah dimainkan. Oleh karena itu, kami tidak bermaksud untuk menyatakan pertandingan yang telah dimainkan tidak sah atau untuk mengulanginya," ujar Jan de Jong.
"Kami menganggap semua 28 putaran pertandingan di Eredivisie dan 32 putaran di Keuken Kampioen Divisie sebagai pertandingan yang telah dimainkan, dan hasilnya tetaplah hasil yang berlaku," lanjutnya.
Meski demikian, bukan berarti kasus ini selesai. Jan de Jong menyebut kemungkinan sanksi maksimal yang dijatuhkan adalah denda finansial kepada klub, bukan pengulangan pertandingan.
"Ini kasus yang kompleks. Jaksa akan menyelidikinya. Setelah jaksa memiliki pendirian yang kukuh atas kasus ini, putusan akan dijalankan. Namun, bukan wewenang jaksa untuk menentukan apakah pertandingan harus diulang. Mereka memang memiliki opsi sanksi, tetapi ini tidak melibatkan pengulangan pertandingan. Anda harus memikirkan hal-hal seperti pemberian denda," pungkasnya.