Kisah Pelatih Indonesia Rayakan Lebaran di Kirgistan, Tanpa Takbiran dan Ketupat

pelatih, Yusup Prasetiyo, Lebaran, Idul Fitri, Kisah Pelatih Indonesia Rayakan Lebaran di Kirgistan, Tanpa Takbiran dan Ketupat

Sudah menjadi tradisi di Indonesia untuk menyambut Idul Fitri dengan suara takbir yang menggema, sajian opor dan ketupat, serta hangatnya pelukan keluarga.

Namun bagi sebagian orang, momen itu harus dirayakan jauh dari rumah dalam suasana yang sama sekali berbeda.

Di belahan dunia lain, seorang pelatih asal Indonesia Yusup Prasetiyo harus merasakan perayaan Lebaran dalam suasana yang nyaris sunyi. Jauh dari keluarga, jauh dari tradisi yang membesarkannya.

Sudah hampir setahun dan dua kali perayaan Lebaran ia menetap di Kirgistan dan menjadi bagian dari tim kepelatihan FC Abdysh-Ata Kant. Suasana Idul Fitri di sana terasa jauh berbeda dari Indonesia.

Meski mayoritas penduduknya beragama Islam, suasana Lebaran tidak hadir dengan kemeriahan yang sama.

“Karena Soviet culture memang sebagian besar kepercayaannya muslim tapi culture-nya itu ikut Soviet jadi betul-betul berbeda sekali suasananya. Bahkan saya merasa seperti bukan Lebaran,” ujar asisten pelatih yang biasa disapa Yoyo itu kepada Kompas.com.

Ia menceritakan tidak ada gema takbir yang mengalun di malam hari hingga menjelang Lebaran yang jatuh pada hari Jumat (20/3/2026) kemarin. Shalat Idul Fitri pun berlangsung sederhana, tanpa kemeriahan yang biasanya mengiringi hari kemenangan di Indonesia.

“Shalatnya seperti shalat Jumat saja. Tidak ada takbiran sama sekali,” imbuhnya.

Ketika Rindu Harus Ditahan

Saat ini kesibukan sebagai pelatih membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk pulang ke kampung halaman. Karena kompetisi negara yang terletak di wilayah Asia Tengah tetap berjalan.

“Tidak bisa pulang karena tim tetap latihan. Untuk pekerja umum mungkin hanya libur satu hari, tapi di sepak bola tidak ada libur,” kata Yusup Prasetiyo.

Dengan tidak ada jeda panjang untuk merayakan Lebaran bersama keluarga di Tanah Air, ia hanya bisa melepas rindu kampung halaman melalui layar ponsel.

“Ya, hanya video call. Sedih, tapi ini pilihan,” sambungnya.

Meski begitu, ia mencoba berdamai dengan keadaan. Baginya, perjalanan karier memang menuntut pengorbanan yang tidak sedikit.

Belajar Bertahan di Negeri Orang, Makna Lebaran yang Berubah

Seperti diketahui 2026 ini menjadi Lebaran keduanya yang dirayakan di negeri orang. Jika sebelumnya di Malaysia pada tahun 2022, ia masih merasakan suasana yang mirip Indonesia, kini pengalaman di Kirgistan menyuguhkan pengalaman yang benar-benar berbeda.

Selain perbedaan budaya, ia juga harus beradaptasi dengan cuaca ekstrem. Musim dingin yang berlangsung berbulan-bulan menjadi ujian tersendiri.

“Musim dingin itu berat sekali, apalagi untuk orang Asia. Tapi alhamdulillah bisa melewatinya,” ucap mantan pelatih Sada Sumut tersebut.

Sementara untuk urusan makanan, ia tidak terlalu bergantung pada hidangan khas Indonesia. Sesekali ia mencari resep sendiri, tetapi lebih sering memilih beradaptasi dengan makanan lokal.

pelatih, Yusup Prasetiyo, Lebaran, Idul Fitri, Kisah Pelatih Indonesia Rayakan Lebaran di Kirgistan, Tanpa Takbiran dan Ketupat

Pelatih Indonesia, Yusup Prasetiyo yang saat ini menjadi tim kepelatihan klub asal Kirgizstan, FC Abdysh-Ata Kant berswa foto usai menjalani sholat Idul Fitri, Jumat (20/3/2026) pagi.

Harus berjauhan dengan keluarga membuatnya memahami arti Lebaran dari sudut pandang yang berbeda. Yusup Prasetiyo menyadari, kebersamaan dengan orang terdekat adalah hal yang tak tergantikan.

“Tidak ada yang lebih berharga selain berkumpul dengan orang yang kita sayangi saat Lebaran,” imbuhnya.

Namun, di sisi lain, ia juga memegang prinsip bahwa untuk meraih sesuatu, seseorang harus siap bertahan di situasi apa pun.

To achieve something, you have to survive, doesn’t matter where you are (untuk mencapai sesuatu, Anda harus bertahan, tak peduli di mana pun Anda berada),” ucapnya lagi.

Antara Mimpi dan Pengorbanan

Di balik kesunyian merayakan Lebaran di negeri orang, ada mimpi besar yang sedang diperjuangkan.

Kesempatan melatih di luar negeri bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga jalan untuk membuka peluang bagi pelatih Indonesia lainnya.

Pelatih asal Tangerang itu berharap, ke depan semakin banyak pelatih Indonesia yang berani meniti karier di kancah internasional.

Sementara bagi mereka yang bisa merayakan Lebaran bersama keluarga, ia menyimpan satu pesan sederhana.

“Menikmati hari istimewa bersama keluarga itu tidak ternilai harganya,” pungkas Yusup Prasetiyo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang