Ngabuburit Lintas-Generasi: Masih ada Optimisme di Jalan Konstitusi

Diskusi Lintas Generasi
Diskusi Lintas Generasi

 Sekolah Rakyat Berdaulat Yogyakarta menggelar ngabuburit diskusi lintas-generasi pada Senin, 16 Maret 2026 bersama 30 akademisi, aktivis, dan penggerak masyarakat sipil yang didominasi kaum muda. 

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof. M Baiquni, serta Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Prof Baiquni mendeklarasikan pernyataan sikap atas penandatanganan perjanjian bilateral Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Presiden Amerika Serikat (AS). ART dinilai merugikan dan mengancam kedaulatan negara Indonesia.

“Kami menolak kebijakan luar negeri Indonesia yang berpihak pada agresor sebagaimana tercermin dari penandatanganan ART dan keikutsertaan Indonesia di Board of Peace yang merugikan kedaulatan Republik Indonesia itu," kata Prof Baiquni dalam keterangannya, dikutip Selasa, 17 Maret 2026.

Prof Baiquni menilai Indonesia harus menjadi negara bermartabat, berdaulat dan berkonstitusi. Semangat itu, kata dia, perlu didorong, terutama melalui patok-patok epistemik.

Sementara, Sudirman Said mengingatkan kaum terdidik akan tugas utamanya, yakni tak boleh diam manakala melihat hal-hal yang melenceng. 

Ia menambahkan saat ini sangat butuh kepemimpinan intrinsik. Yogyakarta, menurutnya mempunyai yakni Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan etosnya ‘Tahta untuk Rakyat’ yang ditopang oleh dua pilar, disiplin dan virtue (keluhuran).

“Rambu-rambu bernegara diterabas, dilindas, atau ditekuk-tekuk sesuai keinginan. Risiko atas ugal-ugalan itu bukan nanti, tapi sudah. Sekarang kita sedang menyaksikan atau merasakannya langsung,” ujarnya.

Senada dengan itu, Pinurbo dari Forum 245 menguatkan, merdeka itu bukan dalam soal status kenegaraan, namun segenap warga negaranya pun harus merdeka secara epistemik agar tercipta keseimbangan tata-kelola antara negara dan rakyat. 

Pengamat kebijakan Joko Susilo mengatakan, tata-kelola hanya mungkin terjadi bila ruang publiknya kuat, kapasitas pengurus negaranya baik, dan keduanya saling menopang. 

Diskusi Lintas Generasi

Mantan Presiden Mahasiswa UGM, Obed Kresna Widyapratistha mendorong perlunya politik kewarganegaraan dibangkitkan melalui pendidikan politik dan penguatan kapasitas politik warga. 

Dalam lingkup kampus atau dunia pendidikan, Dhivana Anarchia Ria Lay yang kini aktif di Nalar Institute menyampaikan, peran dari guru-guru yang menginspirasi kaum muda agar aktif di gerakan kian pudar. “Dosen dan tenaga pendidikan kita makin reluctant,” katanya.

Kemudian, Sudirman menguatkan, banyak kaum muda tercerahkan di seluruh Indonesia lahir. Mereka terus bergerak, terus berjuang. 

“Kita ini sejatinya adalah bangsa yang naik kelas terus. Lihat kontribusi pajak di postur APBN, hari demi hari, rakyat kita makin mampu membiayai sendiri penyelenggaraan negara ini. Tapi, dalam titik yang terburuk, yang dibutuhkan adalah idealisme. Aceh ketika tsunami itu kan hancur sekali, buruk sekali, tapi toh ada idealisme untuk memulihkannya," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Situasi negeri hari ini, menurut Sudirman, anggaplah itu suatu anomali. 

“Anomali tidak mungkin berlangsung selamanya. Yang dibutuhkan adalah ketahanan mental kita untuk menghalau arahnya agar kembali ke jalan yang lurus. Dan, jalan itu masih tersedia dan diakomodasi oleh konstitusi kita,” kata Sudirman.