Gak Cuma Soal Rasa, Kebiasaan Minum Air Masyarakat Indonesia Mulai Berubah
Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap isu lingkungan terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan ini juga mulai tercermin dalam kebiasaan sehari-hari, termasuk dalam memilih dan mengonsumsi air minum. Jika sebelumnya konsumen lebih fokus pada faktor praktis dan harga, kini semakin banyak masyarakat yang mulai mempertimbangkan dampak lingkungan dari produk yang mereka gunakan, termasuk air minum dalam kemasan (AMDK).
Tren tersebut terlihat dari meningkatnya perhatian konsumen terhadap aspek keberlanjutan dalam memilih produk. Komitmen perusahaan terhadap lingkungan kini tidak hanya dipandang sebagai nilai tambah, tetapi juga menjadi faktor penting yang memengaruhi reputasi dan tingkat kepercayaan publik terhadap sebuah merek. Scroll lebih lanjut yuk!
Laporan World Visualized bertajuk Indonesia’s Bottled Water Brands Face a Moment of Truth in 2025 mencatat bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan semakin menjadi indikator utama dalam penilaian konsumen terhadap merek AMDK. Konsumen kini tidak hanya memperhatikan kualitas produk, tetapi juga melihat sejauh mana perusahaan menunjukkan komitmen nyata terhadap praktik yang lebih berkelanjutan.
Perubahan pola pikir ini mendorong sejumlah perusahaan untuk menghadirkan berbagai inovasi kemasan yang lebih ramah lingkungan. Selain penggunaan galon guna ulang, berbagai inovasi juga dikembangkan seperti pemanfaatan plastik daur ulang serta desain kemasan yang lebih ringan untuk mengurangi penggunaan material plastik.
Langkah-langkah tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap persoalan sampah plastik. Volume sampah di berbagai tempat pembuangan akhir (TPA) terus bertambah setiap tahunnya, sehingga upaya pengurangan sampah menjadi salah satu fokus penting dalam pengelolaan lingkungan.
Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa timbulan sampah nasional mencapai sekitar 36 juta ton pada 2024 dari 342 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sekitar 19,59 persen merupakan sampah plastik.
Sementara itu pada 2025, data sementara dari 249 kabupaten/kota menunjukkan timbulan sampah mencapai sekitar 25 juta ton, dengan 20,45 persen di antaranya berupa sampah plastik. Angka ini diperkirakan masih akan meningkat seiring proses penghitungan yang masih berlangsung.
Situasi tersebut membuat penggunaan kemasan yang lebih berkelanjutan semakin penting, termasuk kemasan yang dapat digunakan berulang kali. Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia, Bisuk Abraham Sisungkunon, menilai penggunaan galon guna ulang memiliki manfaat ekologis yang signifikan dibandingkan kemasan sekali pakai.
“Penggunaan galon guna ulang dinilai jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan galon sekali pakai,” kata Bisuk.
Penelitian dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) juga menunjukkan pentingnya keberadaan galon guna ulang dalam menekan potensi timbulan sampah plastik. Tanpa pilihan tersebut, tujuh dari sepuluh konsumen berpotensi beralih menggunakan kemasan sekali pakai yang dapat meningkatkan volume sampah plastik secara signifikan.
Dalam studi tersebut disebutkan bahwa kondisi tanpa galon guna ulang berpotensi menambah timbulan sampah plastik hingga sekitar 770.000 ton per tahun. Selain itu, emisi dari sampah plastik juga diperkirakan dapat meningkat hingga 1,65 juta ton setiap tahun. Dalam kategori komitmen lingkungan, AQUA mencatat skor tertinggi sebesar 50,3 persen, unggul dibandingkan sejumlah merek lain di industri AMDK.
Peningkatan tersebut berpotensi menjadi tantangan bagi upaya pemerintah dalam menurunkan sampah plastik nasional sebesar 30 persen pada 2025.
“Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan. Sampah kerap dibakar, dikubur, dibuang ke air atau laut, maupun dibuang langsung ke tanah,” kata Bisuk.
Secara keseluruhan, perubahan kebiasaan konsumen dalam memilih kemasan air minum menunjukkan bahwa gaya hidup masyarakat Indonesia mulai bergerak menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan. Kesadaran akan dampak lingkungan kini menjadi pertimbangan penting, tidak hanya bagi konsumen, tetapi juga bagi perusahaan dalam membangun reputasi dan kepercayaan publik.