Bung Ropan Bongkar Sikap John Herdman yang Tak Pernah Dilakukan Pelatih Timnas Sebelumnya

John Herdman resmi jadi pelatih Timnas Indonesia
John Herdman resmi jadi pelatih Timnas Indonesia

  Debut John Herdman bersama Timnas Indonesia tinggal menghitung hari. Pelatih asal Inggris itu dijadwalkan memimpin skuad Garuda untuk pertama kalinya saat menghadapi St. Kitts and Nevis dalam ajang FIFA Series 2026. Laga tersebut akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 27 Maret 2026. Meski berstatus uji coba internasional, pertandingan ini memiliki arti penting karena menjadi panggung pembuktian pertama Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia.

Ekspektasi publik terhadap Herdman cukup besar. Pelatih berusia 50 tahun itu memiliki rekam jejak yang solid setelah berhasil membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022, mengakhiri penantian negara tersebut selama lebih dari tiga dekade.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pengamat sepak bola nasional Ronny Pangemanan atau akrab disapa Bung Ropan menilai laga melawan St. Kitts and Nevis akan menjadi momen penting untuk melihat dampak langsung kehadiran Herdman di tim Merah Putih.

Dalam pernyataannya, pria yang akrab disapa Bung Ropan itu menilai pertandingan tersebut bukan sekadar uji coba biasa. Menurutnya, itu adalah panggung pertama bagi Herdman untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai pelatih baru Timnas Indonesia.

Skuad Timnas Indonesia di matchday 7 Kualifikasi Piala Dunia 2026

Herdman juga memperlihatkan keseriusan yang jarang ditunjukkan oleh pelatih Timnas sebelumnya. Ia menilai salah satu indikatornya adalah keputusan sang pelatih membawa keluarganya untuk tinggal di Jakarta selama menangani tim nasional.

Bung Ropan menilai langkah itu bukan perkara mudah. Ia bahkan menyebut belum pernah ada pelatih Timnas Indonesia sebelumnya yang benar-benar memilih menetap bersama keluarga selama menjalani proyek kepelatihan di Tanah Air.

“Kalau saya lihat auranya bagus. Karena dia bersedia membawa keluarganya tinggal di Jakarta. Ini tidak mudah,” kata Ropan.

Keputusan tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa Herdman tidak hanya datang untuk proyek jangka pendek, tetapi juga menunjukkan komitmen terhadap perkembangan sepak bola Indonesia.

Tidak hanya itu, Herdman juga dinilai cukup fleksibel dalam menyusun tim kepelatihannya. Ia tidak membawa banyak staf asing seperti yang kerap terjadi pada pelatih luar negeri. Sebaliknya, ia bersedia mengikuti keinginan PSSI yang ingin melibatkan pelatih lokal sebagai bagian dari staf teknis Timnas Indonesia.

Ropan menyebut Herdman hanya membawa satu hingga dua orang staf asing, sementara sisanya diisi oleh pelatih lokal. Menurutnya, situasi ini membuka peluang bagi pelatih Indonesia untuk belajar langsung dari pelatih yang memiliki pengalaman di level internasional.

Bagi Ropan, sikap seperti ini menjadi nilai positif karena tidak semua pelatih asing bersedia berbagi ruang kerja dengan staf lokal. Dalam persiapan menuju FIFA Series 2026, Herdman juga dinilai berada dalam situasi yang relatif menguntungkan. Ia tidak perlu melakukan perombakan besar dalam komposisi pemain.

Ropan menilai skuad Garuda saat ini sudah memiliki fondasi yang cukup kuat, terutama dengan kehadiran sejumlah pemain diaspora yang bermain di Eropa. Beberapa nama seperti Jay Idzes, Emil Audero, Kevin Diks, hingga Maarten Paes dinilai memberikan kedalaman skuad yang lebih baik dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Dengan pengalaman bermain di kompetisi Eropa, para pemain tersebut dianggap mampu meningkatkan kualitas permainan Timnas Indonesia. Jika melihat peringkat FIFA, Indonesia sebenarnya berada di atas St. Kitts and Nevis. Tim Merah Putih saat ini menempati posisi ke-122 dunia, sedangkan tim asal Karibia itu berada di peringkat ke-154.

Meski demikian, Ropan mengingatkan bahwa perbedaan peringkat tidak bisa dijadikan jaminan kemenangan. Ia menegaskan sepak bola sering kali menghadirkan kejutan, sehingga Indonesia tetap harus tampil serius dan fokus sepanjang pertandingan.

Menariknya, Herdman sebenarnya tidak asing dengan calon lawan Indonesia tersebut. Saat masih melatih Timnas Kanada pada 2018, ia pernah menghadapi St. Kitts and Nevis dalam laga internasional. Kala itu Kanada hanya menang tipis 1-0, yang menurut Ropan menjadi bukti bahwa tim asal Karibia tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata.

Ia menjelaskan tim-tim dari kawasan Karibia umumnya memiliki kekuatan fisik dan kecepatan yang bisa merepotkan lawan, terutama jika pertandingan berjalan dalam tempo tinggi. Karena itu, menurut Ropan, publik akan menunggu bagaimana kecerdasan Herdman dalam menyusun strategi, memilih pemain terbaik, serta membaca jalannya pertandingan.

Timnas Indonesia Masih Punya PR

Di sisi lain, Bung Ropan juga menilai Timnas Indonesia masih memiliki beberapa pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan. Ia menyoroti sektor lini tengah dan lini depan yang dinilai masih membutuhkan tambahan kekuatan.

Menurut Ropan, hingga saat ini belum ada sosok striker ideal yang bisa menjadi pasangan Ole Romeny di lini depan Timnas Indonesia. Federasi disebut sedang berupaya menambah kekuatan melalui proses naturalisasi pemain diaspora yang berkarier di Eropa.

Saat ini, Sambung Ropan, ada dua pemain yang sedang dibidik untuk menjalani proses naturalisasi. Namun identitas keduanya masih belum diumumkan secara resmi. Ia menjelaskan bahwa salah satu pemain bahkan sedang dipersiapkan untuk masuk dalam pembahasan di DPR RI sebagai bagian dari tahapan administrasi naturalisasi.

Tambahan pemain baru, menurut Ropan, kemungkinan besar akan difokuskan pada sektor gelandang dan penyerang. Sementara itu, lini pertahanan dinilai tidak terlalu mendesak untuk diperkuat karena stok pemain belakang masih cukup, terlebih setelah Elkan Baggott kembali masuk ke skuad Garuda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain kebutuhan taktis, faktor regenerasi juga menjadi alasan penting dalam memperkuat lini tengah. Absennya Thom Haye pada FIFA Series kali ini serta usia Joey Pelupessy yang sudah memasuki kepala tiga membuat pembaruan komposisi pemain di sektor tersebut mulai dipertimbangkan.

Karena itu, pemain tambahan kemungkinan baru bisa bergabung pada agenda FIFA Matchday berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan tahun. Langkah tersebut kata Ropan sebagai bagian dari persiapan jangka panjang Timnas Indonesia menghadapi agenda besar berikutnya, termasuk Piala Asia 2027 dan kualifikasi Piala Dunia 2030.