Rupiah Melemah Dibayangi Beban Pembayaran Bunga Utang & Dinamika Timur Tengah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.934 per Jumat, 13 Maret 2026. Posisi rupiah itu melemah 35 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.899 pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 16 Maret 2026 hingga pukul 09.09 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.973 per dolar AS. Posisi itu melemah 15 poin atau 0,09 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.958 per dolar AS.
Ilustrasi mata uang Rupiah.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar terus menyoroti beban pembayaran bunga utang yang membatasi ruang manuver pemerintah untuk mendorong ekonomi melalui akselerasi belanja negara.
Estimasi berdasarkan skema defisit anggaran dikurangi keseimbangan primer, realisasi pembayaran bunga utang telah menembus angka Rp 99,8 triliun pada bulan Februari 2026. Jumlah ini setara 27,8 persen dari total pendapatan negara sebesar Rp 358 triliun atau 28,8 persen jika dibandingkan realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp 346,1 triliun pada bulan lalu.
Risiko pembengkakan beban bunga utang semakin besar menyusul kebijakan tukar guling utang atau debt switch antara Bank Indonesia (BI) dengan pemerintah, serta tensi panas geopolitik global yang berpotensi mengerek tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara alias SBN.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026, tingkat yield SBN tenor 10 tahun bertengger di level 6,52 persen, sementara yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun berada di posisi 4,09 persen. Secara akumulasi sejak awal tahun atau year to date (ytd), yield SBN mengalami kenaikan sebesar 55 basis poin (bps). Kenaikan yield SBN berisiko meningkatkan beban pembayaran bunga utang di dalam APBN.
Kendati demikian, pemerintah masih optimis dengan mengelola utang, baik dari sisi portofolio maupun penerbitan tahunan (annual issuance), dengan sangat hati-hati untuk memastikan risiko tetap terjaga, termasuk dari sisi pengelolaan rasio pembayaran bunga utang (interest ratio) dan Debt Service Ratio (DSR).
Contoh kongrit, penerimaan pajak yang mampu tumbuh hingga 30,4 persen pada Februari 2026 akan berdampak langsung pada perbaikan rasio pembayaran bunga utang maupun DSR.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.960-Rp 17.020," ujarnya.
Sebagai informasi, harga minyak melonjak setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup. Jalur air sempit ini merupakan titik kritis yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan selat tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Para pelaku pasar dan analis khawatir bahwa lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi. Harga minyak mentah Brent berjangka, patokan global, terakhir kali berada di sekitar US$100 per barel.
Bank sentral seperti Federal Reserve, mungkin terpaksa mempertimbangkan kembali pemotongan suku bunga jangka pendek jika inflasi meningkat. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menarik lebih banyak investasi asing, sehingga meningkatkan daya tarik dolar.