Ratusan Ribu Anak Indonesia Terdeteksi Alami Cemas dan Depresi, Waspadai Tandanya

Ratusan Ribu Anak Indonesia Terdeteksi Alami Cemas dan Depresi, Waspadai Tandanya, 1. Perubahan perilaku dan emosi yang drastis, 2. Perilaku yang berpotensi melukai diri sendiri, 3. Prestasi belajar di sekolah menurun, 4. Keluhan fisik tanpa penyebab yang jelas, 5. Perubahan kebiasaan sehari-hari, 6. Anak mulai menarik diri dari lingkungan sosial

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan indikasi masalah kesehatan mental pada ratusan ribu anak di Indonesia. 

Temuan ini diperoleh setelah sekitar 7 juta anak mengikuti skrining kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada periode 2025–2026.

Data menunjukkan ada sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak menunjukkan gejala kecemasan (anxiety disorder). 

Sementara itu, sekitar 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak yang menjalani skrining menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

Angka tersebut menjadi perhatian serius karena kesehatan mental anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan mereka. 

Para orangtua pun perlu memahami berbagai tanda yang dapat muncul ketika anak mengalami kecemasan maupun depresi. Simak beberapa tanda yang perlu diwaspadai.

Tanda-tanda anak cemas dan depresi yang harus diwaspadai

1. Perubahan perilaku dan emosi yang drastis

Psikolog anak dan remaja Gloria Siagian, M.Psi. mengatakan, perubahan perilaku dan emosi yang ekstrem bisa menjadi salah satu tanda awal anak mengalami gangguan kecemasan atau depresi.

“Kalau misalnya ada perubahan perilaku, perubahan emosi gitu yang ekstrem. Misalnya anak yang ceria jadi tertutup, anak jadi suka marah, menutup diri,” tuturnya saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (13/3/2026).

Perubahan ini biasanya terlihat cukup jelas bagi orangtua maupun orang-orang di sekitar anak. 

Anak yang sebelumnya aktif dan mudah bergaul dapat tiba-tiba menjadi lebih pendiam, menarik diri, atau menunjukkan emosi negatif secara berlebihan.

Kondisi ini perlu diperhatikan terutama jika perubahan tersebut berlangsung cukup lama dan tidak kembali seperti semula.

2. Perilaku yang berpotensi melukai diri sendiri

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya perilaku yang dapat membahayakan atau melukai diri sendiri.

“Lalu, anak bisa melukai diri sendiri. Melukai diri sendiri itu bukan cuma sekedar self-harm, tapi tiba-tiba dia jadi diet ekstrem atau melakukan hal-hal yang ya melukai,” ujar Gloria.

Perilaku seperti ini sering kali menjadi bentuk ekspresi dari tekanan emosional yang sulit diungkapkan oleh anak. 

Oleh karena itu, orangtua perlu lebih peka terhadap perubahan kebiasaan anak yang terlihat tidak biasa atau berisiko bagi kesehatannya.

3. Prestasi belajar di sekolah menurun

Penurunan prestasi akademik juga dapat menjadi salah satu indikator adanya masalah kesehatan mental pada anak.

“Kemudian, pelajaran di sekolah juga menurun, itu bisa jadi salah satu indikasi yang berlangsung terus-menerus dalam waktu sebulan atau berminggu-minggu,” kata Gloria.

Anak yang mengalami kecemasan atau depresi sering kali mengalami kesulitan berkonsentrasi, kehilangan motivasi, atau merasa tidak bersemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. 

Hal ini dapat berdampak langsung pada performa mereka di sekolah.

4. Keluhan fisik tanpa penyebab yang jelas

Psikolog klinis anak dan remaja Lydia Agnes Gultom, M.Psi. menjelaskan, tanda kecemasan dan depresi pada anak juga bisa muncul dalam bentuk keluhan fisik.

“Tanda ini bisa ada dalam aspek fisik, pikiran, perilaku, dan perasaan. Cek apakah ada perubahan atau sesuatu yang muncul di fisiknya, seperti sakit kepala, mual, apakah badannya kaku atau gemetar,” jelas Lydia.

Keluhan fisik tersebut terkadang muncul tanpa adanya penyebab medis yang jelas. Kondisi ini dapat menjadi cara tubuh merespons tekanan emosional yang sedang dialami anak.

5. Perubahan kebiasaan sehari-hari

Perubahan pola kebiasaan anak juga dapat menjadi sinyal adanya masalah emosional yang sedang mereka alami.

“Cek apakah ada perubahan perilaku atau kebiasaan dari anak. Misalnya biasanya gampang tidur kok sekarang sering nggak bisa tidur atau biasanya nggak pemarah, sekarang gampang tersinggung atau menangis,” tutur Lydia.

Gangguan tidur, perubahan suasana hati yang drastis, atau meningkatnya sensitivitas emosional dapat menunjukkan bahwa anak sedang mengalami tekanan psikologis.

6. Anak mulai menarik diri dari lingkungan sosial

Selain perubahan kebiasaan, orangtua juga perlu memperhatikan apakah anak masih mampu menjalani aktivitas sosial seperti biasa.

“Cek kewajaran jika dibandingkan dengan anak di kelompok usia yang sama,” ujar Lydia.

Anak yang mengalami kecemasan atau depresi sering kali memilih menjauh dari lingkungan sosial karena merasa tidak nyaman, tidak percaya diri, atau kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.

“Cek juga sudah berapa lama terjadi, apakah hanya beberapa hari lalu hilang atau berbulan-bulan dan semakin intens,” kata Lydia.

Jika berbagai tanda tersebut muncul dan berlangsung dalam waktu lama, orangtua disarankan untuk segera mencari bantuan profesional agar kondisi anak dapat ditangani secara tepat sejak dini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang