Makan Kentang Goreng Bareng, Cara Unik Cari Teman Baru di Korea

Di Korea Selatan, ada cara unik untuk kenalan dan bertemu teman baru, yaitu dengan cara duduk bersama sembari makan kentang goreng.
Dikutip dari The Korea Times, acara ini digelar di salah satu gerai makanan cepat saji di Korea. Syarat utama ikut dalam acara ini yaitu harus suka kentang goreng.
Sistemnya, peserta acara yang notabenenya ialah kumpulan orang yang tidak saling kenal, berkumpul di restoran cepat saji. Mereka kemudian memesan kentang goreng dalam jumlah besar.
Nantinya mereka akan saling berkenalan dan saling tukar cerita, sembari menyantap kentang goreng.
Perlu diiingat bahwa acara kumpul-kumpul di sini aturannya tidak ada ikatan, tidak ada iuran, tidak ada pula kewajiban untuk kembali ke restoran tersebut, dan tidak ada syarat yang menyulitkan.
Jika ingin ikut acara ini, peserta harus mendaftar terlebih dahulu, dan syarat wajib setiap peserta yaitu harus menunjukkan seberapa besar mereka menyukai kentang goreng.
Sebagian besar peserta yang ikut berusia 20 hingga 30 tahunan. Semuanya hadir dengan membawa satu kesamaan, yaitu sama-sama penggemar kentang goreng.
"Saya datang justru karena acara ini secara khusus membahas tentang kentang goreng," kata Kim Min-jeong (28 tahun), seorang instruktur akademi akting, yang ikut dalam acara tersebut.
Kim menuturkan, ia menyukai acara seperti ini, tetapi ia tidak cukup berani untuk menghadiri pertemuan yang didapatkan secara online.
Ia menilai jika acara kumpul-kumpul dengan orang baru ini dilakukan secara resmi dan terbuka, ini terasa lebih "resmi" dan lebih terkendali.
Kim menuturkan, acara serupa juga pernah ia coba di sekitar kawasan Hongdae, di Seoul bagian barat.
Di sana, ada kafe-kafe yang menyelenggarakan sesi belajar, atau hobi dengan satu topik yang dimulai dan diakhiri dalam satu kali duduk alias satu kali pertemuan.
Namun, kata Kim, setelah lulus dari universitas, seseorang harus keluar dan bertemu dengan orang baru.
Sayangnya, lanjut Kim, tidak sedikit orang-orang yang mengaku bingung harus kemana jika ingin mencari teman kencan, teman biasa, atau sekadar bertemu orang baru.
"Pertemuan sekali-sekali seperti ini menciptakan peluang dengan risiko rendah. Jika kamu bertemu seseorang yang baik, itu bonus. Jika tidak, pengalaman itu sendiri sudah cukup," ujar Kim.
Peserta lainnya bernama Mera Yaka (30 tahun) juga mengatakan bahwa dirinya sangat menyukai kentang goreng sejak kecil.
Wanita asal Jepang yang sudah tiga tahun menetap di Korea ini mengatakan, bahwa tren berkumpul sembari menyantap kentang goreng ini cukup unik.
"Tidak ada yang seperti ini di negara asal saya, sangat unik dan menarik. Di Jepang, kentang goreng biasanya disajikan dengan garam terpisah, di Korea, saus tomat adalah pilihan standar, tetapi di negara asal saya, itu jarang menjadi bagian standar," ungkap Yaka.
Meskipun pertemuan yang berangkat dari topik kentang goreng ini tampak santai, tetapi ada beberapa aturan yang wajib dipatuhi oleh semua peserta.
Di dalam satu kelompok, harus terdiri dari minimal tiga orang wanita, dan sesama peserta tidak dianjurkan untuk meminta pertemuan pribadi satu lawan satu.
Serta, tidak pula disarankan untuk saling tukar informasi kontak pribadi atau akun media sosial.
Peserta juga wajib menjaga ucapan, sebab peserta acara juga ada yang masih di bawah umur.
Melihat fenomena ini, para ahli mengatakan obsesi generasi milenial dan Gen Z terhadap acara makan kentang goreng ini berakar dari pertemuan santai tanpa tekanan, obrolan ringan, dan perpisahan yang sederhana — yang mereka sebut "solidaritas longgar".
Acara-acara ini tidak melibatkan tujuan atau komitmen besar, dan tepat sasaran bagi generasi yang mendambakan bentuk koneksi paling sederhana.
Kritikus budaya Jung Duk-hyun melihat kentang goreng sebagai makanan yang sarat dengan simbolisme.
"Anak muda zaman sekarang ingin bertemu orang-orang tetapi tidak suka ikatan yang dalam, ini terasa seperti suasana hubungan baru mereka," katanya.
Sebagaimana yang diketahui, kentang goreng merupakan camilan yang ringan, dan mudah dikunyah.
"Dengan begitu, banyak orang yang makan sendirian dan penyendiri di luar sana, hubungan santai ini memberikan sedikit kebahagiaan," katanya.
Sementara itu, Profesor Sosiologi Universitas Korea, Yoon In-jin, menafsirkan tren ini sebagai bagian dari pola yang lebih luas.
"Generasi muda ingin mengurangi beban psikologis dan waktu yang sering menyertai hubungan, namun mereka tetap mencari rasa koneksi sosial. Mereka lebih menghargai pengalaman bertemu itu sendiri, daripada mengikat pertemuan tersebut dalam komitmen jangka panjang," jelasnya.
Pertemuan berbasis kentang goreng ini berlangsung sekitar 90 menit, dan setelah itu peserta akan mengucapkan kesannya selama acara di grup pesan, lalu grup pesan akan kembali senyap tanpa ada obrolan lanjutan.
Bagaimana, tertarik ikut?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang