Cara Bangkit dari Emosi Sedih Setelah Sahabat Meninggal
Kepergian penyanyi Vidi Aldiano secara mendadak meninggalkan ruang kosong besar tidak hanya bagi keluarga terdekat, tapi juga para sahabatnya di industri hiburan Tanah Air.
Berbagai rencana liburan bersama, proyek kolaborasi bernyanyi, hingga jadwal berkumpul rutin, kini menjadi sekumpulan kenangan manis yang perlahan harus diikhlaskan.
Ketika seseorang sudah memiliki rutinitas bersama sahabat yang telah pergi selamanya, bagaimana cara mereka bangkit dari keterpurukan, mengingat segala rutinitas dan rencana tidak akan bisa dilakukan seperti sedia kala?
"Bagaimana cara kita bangkit setelah kehilangan sahabat? Cara kita bangkit memang perlu dipaksa. Kita bisa mengingat bahwa mendiang sahabat apakah akan bahagia dengan kondisi kita yang seperti ini?" ujar Psikolog Klinis Dewasa dari Indopsycare, Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, Selasa (10/3/2026).
Menurut dia, kehilangan sosok yang mengisi hampir setiap aspek kehidupan tentu memberikan pukulan mental yang berat. Tak jarang ini menyebabkan hilangnya keinginan untuk beranjak dari keterpurukan dan melanjutkan hidup.
Cara bangkit setelah ditinggal sahabat selamanya
Memaksa diri memulai rutinitas
Membangun kembali ritme hidup yang berubah akibat perpisahan sering kali membutuhkan dorongan ekstra dari dalam diri individu.
Langkah paling nyata yang bisa dilakukan adalah secara sadar mendorong diri untuk memulai rentetan aktivitas harian.
"Kalau misalnya menurutmu almarhum sahabat itu enggak seneng dengan kondisi sedih kita, maka kita perlu memacu diri untuk kita cobain paksakan untuk menjalani aktivitas lagi," ucap Clement.
Namun, penyesuaian kegiatan sangat dianjurkan pada fase awal masa berkabung agar kondisi fisik dan mental yang masih rapuh tidak terkejut.
"Enggak perlu buru-buru. Misalnya memang jadwalnya biasanya (mengerjakan) sepuluh (pekerjaan), tapi karena sedih banget, cuma bisa kerjain empat, ya enggak apa-apa. Kerjain saja dulu, tapi penuh dengan niatan mengerjakan itu," lanjut dia.
Pusara Vidi Aldiano usai pemakaman di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Minggu (8/3/2026).
Mengatasi rasa bersalah saat melangkah
Ketika seseorang mulai menemukan kembali percikan kebahagiaan dari aktivitas sehari-harinya, sering kali muncul konflik batin baru yang cukup mengganggu ketenangan.
Perasaan bersalah yang seolah-olah mengkhianati mendiang sahabatnya karena bisa kembali tertawa dan bersenang-senang adalah respons emosional wajar bagi pihak yang berduka.
"Kalau kita merasa, 'Aku bersalah banget nih. Aku biasanya senang-senang sama mendiang sahabat, tapi sekarang aku malah senang-senang sendiri, aku merasa bersalah'. Enggak apa-apa kalau masih merasa bersalah, enggak apa-apa banget," kata Clement.
Meskipun ada perasaan tidak nyaman, hal itu tidak boleh dijadikan sebagai pembenaran untuk menghentikan proses pemulihan.
Menurut Clement, mengembalikan fungsi sosial secara bertahap tetap harus diprioritaskan demi menjaga keberlangsungan hidup.
"Kita perlu mencoba untuk bangkit dengan melakukan aktivitas yang membuat kita senang dulu sementara waktu. Kalau enggak bisa merasa senang, setidaknya curhat dulu deh ke orang, 'Aku lagi sedih, tapi aku tetap perlu bekerja'," imbau dia.
Duka sebagai penguat makna kehidupan
Clement mengingatkan bahwa serangkaian proses adaptasi ini bukan ditujukan untuk melupakan sosok berharga yang telah berpulang.
Tujuannya adalah untuk mendorong seseorang untuk bertransformasi menjadi pribadi yang jauh lebih tangguh dan matang dalam merespons ujian kehidupan di masa mendatang.
"Kita perlu bertumbuh dari perasaan duka kita. Makanya hadirlah tadi dual process karena dengan loss oriented dan restoration oriented, kita bisa bertumbuh pelan-pelan menjadi sosok yang lebih baik," papar dia.
Dual process grief mengacu pada proses kedukaan yang tidak berjalan secara linear ke satu arah. Kedukaan terdiri dari dua komponen, yaitu loss oriented dan restoration oriented. Dua hal ini membantu seseorang untuk bisa beradaptasi, atau memproses rasa kehilangan.
Loss oriented adalah fase ketika seseorang mengizinkan dirinya untuk benar-benar meresapi kesedihan, seperti menangis atau sekadar mengenang mendiang.
Setelah memberi ruang bagi emosi tersebut, perlahan ia akan beralih ke fase restoration oriented, yaitu proses menata kembali kehidupan nyata dengan mulai bersosialisasi dan melanjutkan rutinitas serta tujuan hidup yang sempat tertunda.
Setiap individu yang masih diberi kesempatan hidup pasti memiliki tujuan masing-masing yang harus dituntaskan.
Rasa sakit mendalam dari perpisahan dapat dikelola menjadi dorongan motivasi untuk berfungsi kembali dalam kehidupan sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang