Muncul Rasa Bersalah Usai Sahabat Meninggal, Bagaimana Menghadapinya
Kehilangan sahabat karib secara mendadak selalu menyisakan pukulan batin yang luar biasa.
Berpulangnya figur publik seperti Vidi Aldiano seakan menjadi pengingat nyata bagi banyak orang kualitas persahabatan yang tengah dijalani. Banyak figur publik di industri hiburan Tanah Air sangat terpukul akan kepergian "Duta Persahabatan" ini.
Di tengah tingginya tuntutan rutinitas modern, momen kebersamaan sering terabaikan. Ketika sahabat berpulang, duka yang muncul kerap dibarengi rasa bersalah dan penyesalan karena merasa belum cukup meluangkan waktu berharga bersama mendiang semasa hidupnya.
"Bagaimana caranya kita berdamai dengan pikiran itu? Cara paling simpel yang bisa aku sarankan adalah memaafkan diri sendiri," ujar Psikolog Klinis Dewasa dari Indopsycare, Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, saat diwawancarai pada Selasa (10/3/2026).
1. Memaafkan diri dari rasa bersalah
Langkah pertama adalah dengan memaafkan diri sendiri. Rasa bersalah yang dipendam hanya akan menjadi beban emosional yang memperburuk kondisi psikologis pihak yang ditinggalkan.
"Dengan cara apa memaafkan diri sendiri? Kamu boleh tulis diary atau kamu boleh posting tentang mendiang, kamu boleh minta maaf ke mendiang," papar Clement.
Memanfaatkan medium seperti tulisan jurnal atau doa dapat membantu melegakan beban emosional yang dirasakan.
Keyakinan spiritual bahwa koneksi batin itu tidak pernah putus, dapat memberikan ruang ketenangan tersendiri bagi pihak yang sedang melewati masa berduka.
"Meskipun mendiang sahabat sudah tidak bisa mendengar, tapi kalau seandainya kamu punya keyakinan bahwa dunia ini saling terkoneksi, yakinlah permintaan maafmu mungkin terdengar," lanjut Clement.
Ilustrasi journaling. Untuk menemani perjalanan Anda di bulan Januari, Kompas.com merangkum 50 kutipan pilihan yang menyentuh sisi personal, reflektif, hingga motivasi diri.
2. Memaksimalkan waktu dengan orang terdekat
Berdamai dengan masa lalu tidak berarti seseorang harus berhenti melangkah maju menatap masa depan.
Setelah ruang maaf diberikan untuk diri sendiri, langkah penting berikutnya adalah mengembalikan kesadaran pada realitas saat ini.
"Kita menyesal bahwa kita tidak menghabiskan waktu banyak dengan mendiang sahabat, tapi kan mereka sudah meninggal. Artinya, kita sebagai manusia sebenarnya kan ingin punya waktu lebih banyak dengan orang-orang tercinta," tutur Clement.
Kesadaran ini semestinya membuka mata bahwa masih banyak sosok penting lainnya di sekitar yang membutuhkan curahan perhatian serupa.
Mengalihkan energi penyesalan menjadi tindakan nyata untuk merawat hubungan dengan keluarga atau lingkar pertemanan yang lain adalah wujud pemulihan batin yang konstruktif.
"Mungkin kita masih punya orang-orang yang kita cintai lainnya. Ya sudah, berarti artinya kita perlu memaksimalkan waktu yang ada untuk menghabiskan waktu dengan mereka," ucap Clement.
3. Menjadikan duka sebagai pengingat
Perasaan duka akibat kehilangan figur berharga seharusnya tidak menjadi akhir dari segalanya.
Momentum emosional ini harus dikelola guna memperkuat makna atau tujuan kehidupan seseorang di kemudian hari.
Kepergian seorang sahabat bisa dikatakan menjadi pengingat keras tentang betapa berharganya waktu luang, sekecil apapun itu.
"Kita perlu membangun koneksi kita, kita perlu membangun tujuan hidup kita dengan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kita cintai yang masih hidup," kata Clement.
Dengan begitu, seseorang akan memahami bahwa kesalahan manajemen waktu di masa lalu tidak akan terulang kembali.
"Ketika kita merasa bahwa kita belum ada waktu yang cukup dengan mendiang sahabat, berarti kita perlu menyediakan waktu lebih banyak dengan orang-orang di sekitar kita agar pengalaman menyesal karena kehabisan waktu itu tidak terulang," pungkas Clement.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang