Produk Furnitur Indonesia Makin Dilirik Dunia
Industri furnitur Indonesia dikenal memiliki kekuatan besar pada kerajinan berbasis material alami seperti kayu dan rotan. Produk-produk dari berbagai daerah bahkan telah lama diminati pasar internasional. Namun di balik potensi tersebut, banyak pelaku usaha masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan produksi dan rantai pasok.
Sebagian besar industri furnitur nasional masih didominasi oleh usaha kecil dan menengah. Data dari Kementerian Perindustrian pada 2024 mencatat sekitar 291.600 unit industri kecil dan menengah furnitur beroperasi di Indonesia dengan penyerapan tenaga kerja mencapai sekitar 819.000 orang. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Di sisi lain, peluang pasar global dinilai masih sangat besar. Berdasarkan catatan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), nilai pasar ekspor furnitur dunia diperkirakan mencapai sekitar US$300 miliar. Namun kontribusi ekspor furnitur Indonesia masih berada di kisaran US$2,5 miliar, menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih terbuka lebar.
Sementara itu, data dari Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyebutkan bahwa nilai ekspor furnitur Indonesia pada 2023 mencapai sekitar US$2,8 miliar dengan tren peningkatan setiap tahun. Pasar utama produk furnitur Indonesia meliputi Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang, sementara permintaan juga mulai berkembang di kawasan Timur Tengah hingga Australia.
Tantangan Produksi Masih Banyak Dilakukan Secara Manual
Meski permintaan global meningkat, banyak produsen furnitur menghadapi kendala dalam meningkatkan kapasitas produksi. Salah satu penyebabnya adalah sistem operasional yang masih dilakukan secara manual, terutama dalam pencatatan bahan baku, stok, hingga proses produksi.
Direktur Legal & Compliance di Labamu, Rey Sihotang, menyebut kondisi ini masih cukup umum di industri furnitur nasional.
“Sekitar 60–70 persen produsen furnitur berbasis material alami seperti kayu dan rotan masih mengandalkan pencatatan manual untuk pelacakan operasional. Kondisi ini membuat visibilitas produksi menjadi terbatas dan meningkatkan risiko kesalahan dalam pengelolaan pesanan maupun bahan baku," ujar Rey dalam keterangannya, dikutip Kamis 12 Maret 2026.
Karena itu, digitalisasi mulai dilihat sebagai salah satu cara untuk membantu industri meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing di pasar global.
Transformasi Digital Mulai Didorong
Isu digitalisasi industri furnitur juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pameran furnitur internasional Indonesia International Furniture Expo 2026 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition BSD City.
Dalam sesi diskusi bertajuk Smart Manufacturing Optimization, sejumlah pelaku industri dan penyedia teknologi membahas bagaimana sistem digital dapat membantu produsen mengelola produksi, inventori, hingga rantai pasok secara lebih terintegrasi.
CEO Labamu, Emmanuelle Van De Geer, menilai digitalisasi dapat menjadi fondasi penting bagi industri furnitur Indonesia untuk berkembang lebih jauh.
“Industri furnitur Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pasar global, dan digitalisasi menjadi fondasi penting untuk mencapainya. Dengan sistem produksi dan manajemen yang lebih terintegrasi, pelaku usaha dapat meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas, serta merespons permintaan pasar dengan lebih cepat,” ujarnya.
Mempermudah Pengelolaan Produksi
Seiring meningkatnya permintaan pasar global serta berkembangnya penjualan melalui kanal digital, produsen furnitur kini dituntut untuk mengelola produksi secara lebih efisien.
Head of Business Development Labamu, Silvya Winsen, menjelaskan bahwa sistem operasional digital dapat membantu menghubungkan berbagai proses bisnis dalam satu ekosistem.
“Platform ini menghubungkan berbagai fungsi operasional, mulai dari pengelolaan pesanan, perencanaan produksi, manajemen bahan baku, inventori, hingga logistik dan layanan keuangan dalam satu sistem terpadu," jelasnya.
Upaya memahami kebutuhan industri juga dilakukan melalui berbagai kegiatan dialog dan roadshow digitalisasi di sejumlah sentra furnitur seperti Bali, Yogyakarta, Jepara, dan Cirebon sepanjang 2025.
Melalui pendekatan tersebut, berbagai tantangan operasional mulai dari perhitungan kebutuhan material hingga koordinasi antara gudang, produksi, dan pengiriman dapat dipetakan dengan lebih jelas.
Digitalisasi pun diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga membuka peluang baru bagi pelaku usaha furnitur Indonesia untuk memperluas pasar dan terus berinovasi dalam desain maupun produksi.