Dokter Sarankan Lansia Hindari Mudik Darat Terlalu Lama, Ini Alasannya

lansia, Dokter Sarankan Lansia Hindari Mudik Darat Terlalu Lama, Ini Alasannya, Risiko kaku dan gangguan sirkulasi darah, Pentingnya jeda istirahat selama perjalanan, Lakukan peregangan sederhana, Pertimbangkan moda transportasi yang lebih cepat

Tradisi mudik Lebaran sering dilakukan dengan berbagai moda transportasi, termasuk perjalanan darat menggunakan mobil, bus, atau kereta. 

Namun, bagi kelompok lanjut usia (lansia), perjalanan darat yang terlalu lama dapat menimbulkan sejumlah risiko kesehatan.

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dr. Ega Jaya, Sp.KFR, AIFO-K menyarankan agar lansia tidak melakukan perjalanan darat dalam durasi terlalu panjang, terutama jika perjalanan tersebut berlangsung tanpa jeda yang cukup.

“Kalau lansia, saya kurang menyarankan untuk perjalanan darat lebih dari 3 atau 4 jam, karena risikonya lebih banyak. Kalau ada pilihan pesawat, lebih baik, karena lebih cepat,” jelas dr. Ega saat ditemui di Jakarta Pusat, belum lama ini.

Menurut dia, tubuh lansia umumnya lebih rentan mengalami keluhan otot maupun gangguan sirkulasi darah ketika harus berada dalam posisi duduk terlalu lama.

Alasan dokter imbau lansia hindari mudik darat terlalu lama 

Risiko kaku dan gangguan sirkulasi darah

Salah satu masalah yang dapat muncul pada lansia selama perjalanan darat adalah kondisi imobilisasi atau kurangnya gerakan dalam waktu lama. 

Duduk terlalu lama di dalam kendaraan dapat membuat tubuh terasa kaku dan tidak nyaman.

“Imobilisasi terlalu lama di dalam malah bikin badannya jadi kaku, peredaran darah jadi nggak lancar. Jadi maksimal tuh 3 sampai 4 jam saja,” ujar dr. Ega.

Ketika tubuh berada dalam posisi yang sama dalam waktu lama, otot dan sendi menjadi kurang aktif. 

Kondisi ini dapat menyebabkan kekakuan pada tubuh, terutama pada bagian punggung, pinggang, dan leher.

Selain itu, aliran darah juga bisa menjadi kurang optimal. Jika peredaran darah tidak lancar, lansia berisiko mengalami pembengkakan pada kaki, rasa pegal, atau kelelahan yang lebih cepat.

Pentingnya jeda istirahat selama perjalanan

Jika lansia tetap harus melakukan perjalanan darat dengan durasi yang cukup panjang, dr. Ega menekankan pentingnya memberi jeda istirahat secara berkala.

“Kalau misalnya memang harus perjalanan lebih dari 3 sampai 4 jam, pastikan istirahat dulu di rest area kurang lebih setengah jam sampai satu jam ,baru lanjutkan lagi perjalanan,” katanya.

Berhenti di rest area memberikan kesempatan bagi lansia untuk berdiri, berjalan sebentar, dan menggerakkan tubuh. 

Aktivitas sederhana ini dapat membantu mengurangi ketegangan otot akibat duduk terlalu lama.

Selain itu, waktu istirahat juga memberi kesempatan bagi tubuh untuk kembali rileks sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.

Lakukan peregangan sederhana

Selama perjalanan, lansia juga dianjurkan melakukan peregangan sederhana untuk menjaga kelenturan otot dan membantu sirkulasi darah tetap lancar.

“Stretching yang dilakukan adalah stretching pinggang, leher, sama bahu. Itu yang paling sering. Lalu, setiap satu jam sekali kalau bisa kaki harus diluruskan,” jelas dr. Ega.

Gerakan peregangan tersebut dapat dilakukan secara perlahan di kursi kendaraan atau saat berhenti di tempat istirahat. 

Peregangan pada bagian pinggang, leher, dan bahu membantu mengurangi ketegangan otot yang sering muncul akibat posisi duduk dalam waktu lama.

Meluruskan kaki secara berkala juga penting untuk menjaga aliran darah tetap lancar, terutama pada bagian tubuh bawah.

Pertimbangkan moda transportasi yang lebih cepat

Selain melakukan peregangan dan istirahat secara berkala, pemilihan moda transportasi juga menjadi faktor penting bagi lansia yang ingin mudik.

Menurut dr. Ega, perjalanan yang terlalu lama dapat meningkatkan rasa tidak nyaman pada tubuh lansia. Oleh karena itu, moda transportasi dengan durasi perjalanan lebih singkat bisa menjadi pilihan yang lebih aman.

Dengan perjalanan yang lebih cepat, tubuh lansia tidak perlu terlalu lama berada dalam posisi duduk yang sama. Hal ini dapat membantu mengurangi risiko kekakuan otot maupun gangguan sirkulasi darah.

Dengan mempertimbangkan durasi perjalanan, waktu istirahat, serta kebutuhan tubuh selama di perjalanan, risiko gangguan kesehatan dapat diminimalkan sehingga perjalanan tetap terasa nyaman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang