Panduan Aman Mudik Bersama Lansia Lewat Jalur Darat
Mengajak orangtua atau kelompok lanjut usia (lansia) dalam perjalanan mudik jalur darat membutuhkan persiapan dan perhatian ekstra dari anggota keluarga.
Kondisi fisik lansia yang telah mengalami penurunan secara alamiah membuat mereka jauh lebih rentan terhadap kelelahan dan kaku sendi akibat duduk terlalu lama di dalam kendaraan. Lantas, seperti apa cara aman membawa lansia mudik lewat jalur darat?
"Kalau kita mengajak lansia di dalam mobil, memang kita yang harus bijak. Memang harus lebih sering berhenti biar beliau turun dulu dari mobil dan bergerak. Itu sangat menyiksa sekali kalau tidak ada istirahat."
Hal ini dikatakan dr. Isa An Nagib, Sp.OT, Subsp.CO(K), FICS dalam acara media gathering bertajuk "Ramadhan Revives: Strong Bones, Strong Bonds" bersama Siloam Hospitals Mampang di Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).
Menurut dr. Isa, pengemudi maupun anggota keluarga pendamping tidak boleh egois, seperti mengejar waktu tempuh demi cepat sampai di tempat tujuan tanpa memperhitungkan kondisi penumpang.
Faktor kenyamanan, mobilitas, dan kesehatan persendian lansia, harus menjadi prioritas utama selama menempuh perjalanan berjam-jam tersebut.
Jika memungkinkan, berhentilah di setiap tempat istirahat. Apabila jarak antara satu tempat istirahat ke tempat istirahat lainnya memakan waktu lebih dari 1-2 jam, pertimbangkan untuk keluar tol dan menepi di tempat aman.
Panduan mudik bersama lansia lewat jalur darat
Pahami kondisi persendian lansia
Seiring bertambahnya usia, fungsi persendian manusia akan mengalami penurunan kualitas yang cukup signifikan, mengutip situs web Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Ditjen Keslan Kemenkess RI), Kamis (12/3/2026).
Salah satu penyakit yang bisa menyerang lansia adalah osteoarthritis, yakni peradangan kronis di sendi akibat kerusakan pada tulang rawan, yang mana pertambahan usia merupakan salah satu faktor utama pemicunya.
Kondisi degeneratif ini menyebabkan sendi lansia rentan terasa sakit, kaku, hingga membengkak jika berada dalam posisi statis yang terlalu lama. Penurunan fungsi pelumas ini sejalan dengan munculnya bibit peradangan sendi yang secara umum pasti dialami oleh kelompok lanjut usia.
"Kondisi fisik, apalagi lansia, ya pastinya mereka sudah dengan masalah minimal (osteoarthritis) grade dua sudah ada pasti. Bahkan mungkin grade tiga, bahkan mungkin grade empat. Jadi kita harus lebih bijak," tambah dr. Isa.
Pentingnya peregangan secara berkala
Risiko perjalanan panjang bagi lansia bukan hanya soal kelelahan otot, melainkan juga menyangkut sirkulasi aliran darah.
Oleh karena itu, pengemudi diwajibkan untuk menepi secara berkala agar lansia bisa beristirahat, berjalan kaki singkat, dan melancarkan sirkulasi aliran darah di area kaki yang menekuk berjam-jam.
Menurut dr. Isa, aktivitas sederhana di luar mobil sudah sangat membantu mencegah pembengkakan pada persendian lutut maupun pergelangan kaki lansia.
"Jadi kita ajak beliau juga untuk turun dari mobil. Pastinya dengan turun dari mobil itu sudah bergerak. Jalan ke WC. Kalau dia ke WC kan itu sebenarnya sudah secara tidak langsung itu sudah peregangan ya," jelas dia.
Jika kondisi lalu lintas macet total, peregangan ringan tetap bisa diaplikasikan di dalam kabin mobil.
Gerakan sederhana seperti menolehkan kepala ke kiri dan kanan selama delapan hitungan, mengangkat lengan sejajar bahu dengan pergelangan ditekuk, hingga mengangkat tungkai kaki ke depan, efektif untuk membantu menjaga fleksibilitas persendian.
Ketika tiba di tempat istirahat, peregangan yang dilakukan bisa berupa peregangan pinggang, leher, dan bahu, untuk mengurangi ketegangan otot karena duduk terlalu lama.
Meluruskan kaki secara berkala juga penting agar aliran darah tetap lancar, terutama pada bagian tubuh bawah.
Kesehatan lansia lebih utama dari target
Sering kali, pemudik memaksakan diri berkendara nonstop demi menghindari kemacetan, atau sengaja mengejar target waktu tertentu. Ambisi mencapai kampung halaman dengan cepat ini justru bisa berubah menjadi malapetaka bagi kesehatan penumpang lansia.
"Jangan heran, kadang-kadang ada orang yang kalau ke saya berobat, 'Dok, saya ini habis dari kota X. Begitu nyampe, lutut saya bengkak, Dok. Punggung kaki, pergelangan saya, kaki saya bengkak.' Ya itu karena dia tidak ada istirahat," ungkap dr. Isa.
Perjalanan jarak jauh wajib disesuaikan dengan ritme fisik lansia agar tetap nyaman. Jangan sampai momen Idul Fitri diwarnai keluhan sakit akibat kelalaian menjaga mobilitas.
"Terlalu diforsir, target dicapai, akhirnya ya itu tadi. Kalau kondisi anatomi kita usia pertengahan mungkin enggak masalah dipaksakan, paling sakit-sakit dikit. Tapi kalau untuk lansia ya kasihan, sangat berisiko," pungkas dr. Isa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang