Jangan Sepelekan Peregangan Saat Mudik Jalur Darat
Pulang kampung melalui jalur darat masih jadi favorit banyak orang untuk mudik karena lebih hemat dari segi biaya. Kendati demikian, jalur darat mengharuskan pengemudi dan penumpang berada di kendaraan selama belasan hingga puluhan jam.
Risiko mengantuk dan pegal-pegal di perjalanan mudik sebenarnya bisa dicegah. Berikut penjelasan lebih lanjut dari dr. Isa An Nagib, Sp.OT, Subsp.CO(K), FICS dalam acara media gathering "Ramadhan Revives: Strong Bones, Strong Bonds" bersama Siloam Hospitals Mampang di Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026)
Mengapa peregangan penting saat mudik jalur darat?
Risiko kaku sendi akibat duduk lama
Berada dalam posisi duduk statis tanpa pergerakan memicu masalah fisik, mulai dari otot tegang hingga radang sendi.
Oleh karena itu, memanfaatkan waktu luang untuk beristirahat dan melakukan peregangan sangat penting agar tubuh tetap bugar hingga tempat tujuan.
"Jika kita menyetir sendiri, kita bisa istirahat di rest area. Kita tidak boleh berdiam dalam satu posisi dalam waktu yang lama karena itu akan membuat kondisi sendi kita menjadi kaku," papar dr. Isa.
Duduk berjam-jam tanpa mengubah postur memberikan tekanan konstan pada bantalan sendi, terutama area lutut dan panggul. Jika dibiarkan tanpa diselingi aktivitas fisik ringan, kondisi ini bisa berujung pada kekakuan dan rasa nyeri yang menyiksa setibanya di lokasi mudik.
Manfaat dan cara peregangan di perjalanan
Memaksakan diri berkendara non-stop untuk segera sampai tujuan sering kali menjadi kesalahan fatal pemudik. Padahal, meluangkan waktu sejenak beristirahat berdampak besar terhadap relaksasi otot dan kelancaran sirkulasi darah.
Dikutip dari situs web Ayo Sehat yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Kamis (12/3/2026), peregangan dapat dilakukan setiap empat jam atau saat pengemudi merasa lelah.
Manfaat melakukan peregangan di sela perjalanan adalah untuk mengurangi ketegangan otot, menurunkan risiko nyeri punggung, mencegah cedera otot, dan meningkatkan relaksasi tubuh secara keseluruhan.
Jika kondisi lalu lintas macet total, peregangan ringan tetap bisa dilakukan di dalam kabin mobil. Gerakan sederhana seperti menolehkan kepala ke kiri dan kanan selama delapan hitungan, mengangkat lengan sejajar bahu dengan pergelangan ditekuk, hingga mengangkat tungkai kaki ke depan, efektif untuk membantu menjaga fleksibilitas persendian.
Jangan paksakan diri demi target waktu
Mengingat infrastruktur jalan tol di Indonesia yang kini semakin memadai, tidak ada alasan bagi pemudik mengabaikan waktu istirahat. Tempat peristirahatan telah tersedia dalam jarak yang sangat mudah dijangkau.
Idealnya pengemudi berhenti setiap satu hingga dua jam. Aktivitas sederhana seperti turun dari kendaraan dan berjalan menuju toilet sudah cukup dikategorikan sebagai peregangan tidak langsung yang bermanfaat bagi sendi.
"Sebetulnya hampir setiap 1,5-2 jam itu ada rest area. Yang menjadi masalah dan kesalahan selama ini adalah target. Kita harus mengejar sekian jam untuk sampai ke tujuan. Nah, itu sebetulnya hal yang kurang baik untuk tubuh kita karena kita memforsir kondisi tersebut," ungkap dr. Isa.
Pemahaman akan batas kemampuan tubuh sangat penting untuk diterapkan. Jangan sampai kelalaian di perjalanan justru mendatangkan masalah kesehatan pasca-Lebaran.
"Jangan sampai nanti pada saat setelah Lebaran, masalah-masalah yang seharusnya tidak ada, menjadi timbul. Makanya tadi saya tekankan itu, peregangan tubuh ya," tegas dr. Isa.
"Kadang yang datang berobat tadinya tidak ada keluhan apa-apa, setelah Lebaran malah bermasalah. Dan begitu kami cek, ternyata memang ada bakat-bakat artritis, sudah grade satu, dua. Mulai timbul baru setelah ada aktivitas berlama-lama dalam satu posisi itu," pungkas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang