Deretan Negara di Asia yang Siapkan Langkah Darurat Imbas Perang Iran
Ketidakstabilan di Teluk Persia, yang dipicu oleh serangan udara yang ditargetkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran sejak 28 Februari, mengganggu jalur pelayaran dan mengguncang pasar energi global. Terlebih bagi kawasan yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas, dampak ekonominya langsung terasa, menguji keamanan energi, pengendalian inflasi, dan perencanaan jangka panjang.
Jika pertempuran berlanjut, hal itu dapat mendorong kenaikan harga listrik dan biaya bahan bakar global, dan membentuk keputusan jangka panjang tentang bauran energi kawasan tersebut. Tak terkecuali negara-negara di Asia yang mulai was-was jika perang ini berlanjut.
Gangguan besar pada jalur pelayaran dan penerbangan telah berlangsung hingga minggu kedua; Ribuan penerbangan telah dibatalkan, termasuk di pusat-pusat ekon utama seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, yang memengaruhi transportasi penumpang dan kargo di seluruh Asia, Eropa, dan Timur Tengah.
Yang sangat penting bagi pasokan energi Asia, serangan rudal dan drone telah menargetkan fasilitas minyak, kilang, dan tempat penyimpanan di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Teluk lainnya, yang menyebabkan pengurangan produksi atau penutupan di fasilitas-fasilitas utama, seperti kilang minyak utama Saudi Aramco.
Sebagai dampak langsungnya, harga minyak telah melonjak melewati $119 per barel, Senin, meningkatkan kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi global. Lonjakan harga tersebut menandai pertama kalinya harga minyak naik di atas $100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.
Harga minyak turun kembali ke sekitar $110 per barel setelah The Financial Times melaporkan bahwa para menteri keuangan G7 akan membahas pelepasan cadangan minyak bumi dalam koordinasi dengan Badan Energi Internasional.
Di India, pihak berwenang mengatakan harga bahan bakar tetap tidak berubah untuk saat ini, karena pemerintahnya mengandalkan sumber pasokan yang beragam dan cadangan strategis.
Para pejabat India menyatakan negara tersebut telah mengumpulkan cadangan minyak bumi dan stok komersial yang cukup untuk konsumsi sekitar 50 hingga 74 hari, memberikan penyangga terhadap gangguan pasokan.
Kemudian, China, sebagai importir minyak terbesar di dunia, juga mengamati perkembangan dengan cermat. Menurut Atlantic Council, Beijing telah membangun cadangan minyak mentah dan memiliki produksi minyak domestik yang lebih besar daripada kondisi ekonomi di banyak negara Asia Timur. Hal itu memberikan perlindungan jika pasokan dari Timur Tengah terganggu.
Lalu, di Australia, pemerintah negeri kanguru itu telah mendesak masyarakat untuk tidak membeli secara berlebihan di tengah laporan bahwa para petani dilaporkan menimbun solar.
Menteri Perindustrian, Energi, dan Pengurangan Emisi Australia Chris Bowen mengatakan negaranya masih memiliki cadangan yang kuat. "Fundamentalnya bagus karena Australia memiliki pasokan yang baik," kata Bowen.
Hemat Energi, Penutupan Sekolah dan Pembatasan Jam Kerja
Eskalasi di Timur Tengah memaksa sejumlah negara di Asia mengambil langkah-langkah darurat. Di Pakistan, Perdana Menteri Shehbaz Sharif sedang menyiapkan rencana penghematan berupa pembelajaran jarak jauh dan pengaturan kerja dari rumah setelah pihak berwenang setempat mengumumkan kenaikan harga bensin sebesar 55 rupee (Rp3.317) per liter, yang merupakan harga tertinggi.
Bangladesh juga memerintahkan penutupan sementara terhadap lembaga pendidikan di seluruh negeri itu guna menghemat listrik dan bahan bakar. Pejabat setempat mengatakan langkah tersebut dapat mengurangi konsumsi listrik dan penggunaan energi transportasi.
Filipina menerapkan sistem kerja empat hari seminggu di kantor-kantor pemerintah, sebagai langkah darurat sementara pemerintah untuk mengatasi dampak krisis karena harga bahan bakar diperkirakan akan melonjak di tengah perang AS-Israel dan Iran.
Presiden Ferdinand Marcos Jrmemerintahkan semua instansi pemerintah, termasuk badan usaha milik pemerintah, untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan listrik sebesar 10-20 persen,efisiensi kerja dan pemberian insentif bahan bakar bagi sektor terdampak.
Thailand pun demikian. Pemerintahnya menginstruksikan berbagai upaya menghemat bahan bakar; misalnya, pejabat publik diperintahkan untuk mengurangi penggunaan pendingin ruangan dan mengurangi perjalanan.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pihaknya akan berupaya menjaga harga bensin tetap 1,99 ringgit (Rp8.511) per liter. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk memastikan harga RON95 tetap 1,99 ringgit agar rakyat tidak terbebani," kata Anwar Ibrahim seperti dilaporkan oleh Kantor Berita Bernama.
Secara terpisah, para ahli industri di Sri Lanka memperingatkan bahwa biaya pengiriman yang lebih tinggi dan depresiasi mata uang dapat mendorong harga pangan naik sebesar 5-10 persen dalam beberapa bulan mendatang, menurut harian lokal Daily Mirror.
Di Taiwan, Kepala Urusan Ekonomi Kung Ming-hsin mengatakan dampak jangka pendek konflik Timur Tengah terhadap pasokan gas alam diperkirakan minimal. Kung mencatat bahwa 20 pengiriman LNG telah diatur untuk Maret dan April, seperti dilaporkan Central News Agency.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, Senin, menyerukan kepada pihak berwenang setempat untuk segera memberlakukan pembatasan harga bahan bakar lokal guna mengatasi lonjakan harga gas dan volatilitas di pasar valuta asing.
Instruksi tersebut dikeluarkan ketika mata uang Korea Selatan jatuh ke level terendah dalam 17 tahun terhadap dolar AS, Senin, di tengah volatilitas pasar dan lonjakan harga minyak, yakni ditutup pada 1.495,5 won per dolar, menjadi yang paling lemah sejak Maret 2009.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada 2 Maret 2026, memastikan pasokan energi yang stabil untuk kebutuhan dalam negeri di tengah kekhawatiran kesulitan pasokan pasca penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Meskipun ada kekhawatiran tentang dampak ekonomi, Takaichi menegaskan Jepang saat ini memiliki cadangan minyak yang cukup untuk 254 hari. Hal ini meminimalkan dampak pada kehidupan masyarakat dan kegiatan ekonomi. "Kami akan memastikan pasokan energi yang stabil di dalam negeri. Langkah-langkah yang diperlukan akan segera diambil," kata Takaichi.
Sementara pemerintah Indonesia belum merumuskan langkah darurat merespons dampak ekonomi dari perang Timur Tengah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah mengkaji dampak kenaikan harga minyak mentah dunia ke harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia. Namun demikian, Bahlil memastikan untuk harga BBM subsidi tidak ada kenaikan.
"Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan apa-apa, sekalipun terjadi kenaikan harga minyak akibat konflik Israel, Amerika, dan Iran" kata Bahlil di Istana, Rabu, 4 Maret 2026.
mengungkapkan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional selama 21—23 hari merupakan stok operasional yang dimiliki Indonesia dan pasokan tersebut terus diperbarui melalui produksi domestik dan pasokan impor.
Dengan begitu, pengertian cadangan sebanyak 23 hari tersebut bukan berarti sisa stok BBM nasional hanya tersisa 23 hari dan bakal habis setelah digunakan dalam masa waktu tersebut.
Diketahui, konsumsi minyak nasional kini mencapai sekitar 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berkisar 600 ribu barel per hari. Kesenjangan ini membuat Indonesia harus mengimpor sekitar satu juta barel minyak setiap hari.
Pemerintah mencatat cadangan BBM nasional saat ini berada pada level aman, yakni sekitar 23 hari kebutuhan. Angka tersebut selalu dijaga agar tidak turun di bawah batas aman 21 hari. Pasokan energi juga terus ditambah secara berkala, baik dari produksi dalam negeri maupun impor, guna memastikan ketersediaan tetap stabil.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan kelangkaan BBM menjelang Lebaran. "Kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM menjelang Hari Raya aman. Jadi tidak perlu ada keraguan sekalipun terjadi dinamika global," ujar Bahlil.