Kanker Ginjal Baru Bergejala di Stadium Lanjut
Kabar duka datang dari dunia musik Indonesia. Penyanyi Vidi Aldiano meninggal dunia pada Sabtu (7/3/2026) kemarin dalam usia 35 tahun setelah berjuang melawan kanker ginjal yang telah diidapnya selama beberapa tahun terakhir.
Kepergian pelantun lagu “Nuansa Bening” tersebut bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan penggemar.
Tetapi juga kembali membuka perhatian masyarakat terhadap kanker ginjal. Penyakit yang kerap berkembang tanpa gejala jelas pada tahap awal. Padahal, ketika gejala mulai terasa, kondisi penyakit sering kali sudah berada pada stadium lanjut.
Jumlah pengidap kanker ginjal sedikit
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, dr. RA Adaninggar Primadia Nariswari, menjelaskan bahwa kanker ginjal sebenarnya tidak termasuk kanker dengan angka kejadian tertinggi.
Angka kejadian kanker ginjal di Indonesia diperkirakan sekitar 2,4–3 kasus per 100.000 penduduk setiap tahun.
Meski demikian, penyakit ini tetap berbahaya karena sering tidak menunjukkan tanda-tanda pada fase awal.
“Sehingga sering berobat setelah kanker sudah stadium lanjut yang menimbulkan gejala,” kata dokter yang biasa disapa dr Ning itu kepada Kompas.com.
Secara medis, kanker ginjal merupakan pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali di organ ginjal. Jenis yang paling umum adalah renal cell carcinoma (RCC), yang banyak ditemukan pada pasien usia di atas 50 tahun.
Beberapa kasus kanker ginjal dapat ditemukan cukup dini, tetapi ada juga yang baru ditemukan pada stadium lanjut.
Gejala yang Baru Muncul Saat Stadium Lanjut, Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Pada banyak kasus, kanker ginjal baru terdeteksi ketika sudah menimbulkan keluhan tertentu.
Beberapa gejala yang sering muncul antara lain, kencing berdarah, nyeri pada pinggang atau punggung bagian samping, muncul benjolan di area perut atau pinggang.
Menurut dr.Ning, kombinasi gejala tersebut dikenal sebagai “triad klasik” kanker ginjal, meskipun tidak semua pasien mengalaminya. Karena itulah, banyak pasien baru mengetahui penyakitnya setelah kanker berkembang lebih jauh.
Seperti kanker pada umumnya, kanker ginjal tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Penyakit ini biasanya dipicu oleh kombinasi berbagai hal.
“Terjadinya kanker ginjal dipengaruhi multifaktor mulai dari faktor genetik, faktor gaya hidup tidak sehat, dan faktor lingkungan,” ujar dokter yang bertugas di RS Kemenkes Surabaya itu.
Untuk itu risiko kanker ginjal diketahui meningkat pada orang yang memiliki kebiasaan merokok, menjalani pola hidup tidak sehat atau sering terpapar lingkungan dengan bahan berbahaya.
Pentingnya Deteksi Dini dan Pola Hidup Sehat
Kini jika seseorang dicurigai mengalami kanker ginjal, pemeriksaan medis harus segera dilakukan untuk menentukan stadium penyakit.
Penanganan kanker ginjal biasanya disesuaikan dengan tingkat keparahannya, mulai dari operasi pengangkatan ginjal (nefrektomi), kemoterapi, hingga imunoterapi.
Selain pengobatan medis, pasien juga perlu menjaga kondisi tubuh agar tetap kuat selama menjalani terapi.
“Jika sudah kanker pada prinsipnya menjaga daya tahan tubuh supaya bisa terus melawan kanker dan kuat menghadapi pengobatan kanker yang seringnya adalah pengobatan berat,” tutur dokter asli Surabaya itu.
Hal itu dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat, berhenti merokok, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, menjaga kualitas tidur, serta mengelola stres dengan baik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang